Daftar Menu

TERIMA KASIH TUHAN ATAS WAKTUMU

Ketika fajar shiddiq datang mengintip
Ku terbangun dari tidur panjangku.
Teringat akan betapa cepatnya waktuku berlalu.
Tampa terasa habislah sudah semalam dari umurku.

Hari demi hari berlalu tampa selang.
Jampun berputar tiada hentinya.
Detikpun tak mau kalah mengejar lintasan busurnya
Merekapun bekerja sama mengurangi jatah duniaku.

Waktupun berjalan bagaikan anak panah yang terlepas.
Terlepas dari busur yang menguasai.
Tampa mengenal saat tuk kembali
Ketempat asal mula wujud berdiri.

PUISI UNTUKMU WAHAI ORANGTUAKU...

Thank you parent.

Jerih payahmu tiada terhitung.

Peluh keringatmu tiada tertampung.

Disaat matahari bersinar terang.

Engkau telah duluan tiba diladang.

Disaat senja mulai menghadang, engkaupun segera pulang.

Tak terbalas jasa yang telah engkau lakukan.

Tak terhitung sayang yang telah engkau curahkan.

Mana sebuah kemerdekaan

Sekitar 62 tahun yang lalu, masih terbayang didalam ingatan kita bagaimana Bangsa Indonesia ini telah berhasil merebut kemerdekaannya dari penjajahan bangsa kolinial Inggris dan Belanda yang telah berkuasa selama kurang lebih 3,5 abad ditanah ibu pertiwi ini. Kemerdekaan tersebut diperoleh bukanlah dengan cara yang mudah dan sebagai suatu hadiah dari Inggris kepada kita Bangsa Indonesia, namun kemerdekaan itu merupakan perjuangan yang membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit, baik itu pengorbanan disegi moril ataupun dari segi materil dari para pahlawan bangsa, dan yang paling penting diingat bahwa itu merupakan rahmat dan kurnia Allah yang sangat besar bagi Negara Indonesia yang sangat kita cintai ini.