Judul di atas sebenarnya ciplakan terhadap sebuah buku karya Yusuf
al-Qaradhawi yang berjudul al-Imam al-Ghazali bain Madihihi wa Naqidih. Hanya
saja buku tersebut menjadikan Imam al-Ghazali sebagai objek kajian, sementara
dalam tulisan ini yang menjadi objek adalah seorang tokoh kontroversial yang
bernama Gus Dur. Sebagai santri yang hanya bisa membaca Gus Dur dari jauh
(karena saya bukanlah dari kalangan NU tulen), saya melihat adanya beragam
pendapat tentang beliau. Mulai dari orang yang memujinya habis-habisan, bahkan
tidak tanggung-tanggung ada yang menganggapnya sebagai wali yang pantas
diikuti petuah-petuahnya.