Fi’il dan Pembagiannya

Setelah kemaren kita mengkaji tentang pembagian isim yang mu’rab, maka sekarang kita akan masuk kepada bahasan pembagian fiil kepada mu’rab dan mabni. Hal ini sebagaimana yang diisyaratkan oleh Syekh Ibn Malik dalam bait berikut :

وَفِعْلُ أَمْرٍ وَمُضِيٍّ بُنِيَا # وَأَعْرَبُوا مُضَارِعَاً إنْ عَرِيَا
Fiil Amr dan Madhi dimabnikan, dan mereka (ulama Nahwu) mengi’rab Fi’il Mudhari jika ia kosong
مِنْ نُوْنِ تَوْكِيْدٍ مُبَاشِرٍ # وَمِنْ نُوْنِ إنَاثٍ كَيَرُعْنَ مَنْ فُتِنْ
Dari nun taukid mubasyir (yang langsung bertemu dengan akhir Fiil Mudhari’) dan dari nun inats seperti kalimat yaru’na man futina (dia takut kepada orang yang tergila-gila).

Pada bait tersebut Ibn Malik membagi kalimat fiil secara umum kepada fiil yang mu’rab (fi’il yang harkat atau kondisi akhirnya berubah-rubah) dan fi’il yang mabni (fi’il yang akhirnya tetap, tidak berubah).

Di antara fiil yang mabni adalah Fiil Madhi, yaitu sebuah kata kerja yang menunjukkan peristiwa yang sudah terjadi pada masa lampau. Fiil ini selalu diakhiri oleh harkat fatah selama akhirnya tidak dihubungi oleh waw jamak atau dhomir rafak yang berharkat seperti contoh ضَرَبَ ضَرَبُوْا atau ضَرَبْتَ. Jika dihubungi oleh waw jamak maka akhirnya didommahkan dan jika dihubungi oleh dhomir rafak yang berharkat maka akhirnya disukunkan.

Selain itu, fiil ini juga bisa ditandai dengan keberadaan ta taknis yang sukun di akhirnya jika subjek (fail) dari fiil tersebut seorang perempuan serta bisa didahului oleh kalimat قَدْ yang mengandung makna “sungguh”/tahqiq seperti pada contoh قَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُ. Kata-kata قامت pada contoh tersebut adalah Fiil Madhi karena ia dihubungi oleh ta taknis yang sakin serta didahului oleh kalimat قَدْ.

Selanjutnya, tergolong fiil mabni juga kata kerja yang mengandung makna perintah atau yang disebut juga dengan Fiil Amar. Fiil ini selalu diakhiri oleh harkat sukun selama ia tidak bersambung dengan alif isnaini, waw jamak, ya muannats mukhathabah seperti اِضْرِبْ اِضْرِبَا اِضْرِبُوْا اِضْرِبِيْ. Jika dihubungi oleh alif isnaini maka akhirnya difatahkan, jika dihubungi oleh waw jamak didommahkan, serta jika dihubungi oleh ya muannats mukhathabah maka dikasrahkan.

Selain itu, fiil ini juga bisa ditandai dengan keberadaan ya muannats mukhatabah di akhirnya ketika lawan bicara yang diperintah itu berjenis kelamin perempuan seperti contoh اِضْرِبِيْ (pukullah olehmu perempuan) serta nun taukid (nun yang berfungsi untuk memperkuat pernyataan), baik yang bertasydid (tsaqilah) seperti contoh اِضْرِبَنَّ, maupun yang tidak bertasydid (khafifah) seperti pada contoh اِضْرِبَنْ.

Sementara itu fiil yang dianggap mu’rab oleh para ulama Nahwu adalah Fiil Mudhari’ (yaitu kata kerja yang menunjukkan masa sekarang atau masa yang akan datang) dengan segala derivasinya, baik ketika ia berbentuk sahih akhir yang mufrad seperti يَضْرِبُ, mu’tal akhir mufrad seperti يَدْعُوْ, maupun ketika akhirnya dihubungi oleh waw jamak, alif isnaini, ataupun ya muannats mukhatabah (atau yang disebut juga dengan Fiil yang Lima) seperti يَضْرِبُوْنَ – تَضْرِبُوْنَ – يَضْرِبَانِ – تَضْرِبَانِ – تَضْرِبِيْنَ.

Fiil Mudhari’ yang sahih akhir dii’rab dengan dommah ketika rafak, dengan fatah ketika nasab, dan dengan sukun ketika jazam seperti يَضْرِبُ – لَنْ يَضْرِبَ – لَمْ يَضْرِبْ. Kemudian Fiil Mudharia yang mu’tal akhir dii’rab dengan dommah yang disembunyikan ketika rafak, dengan fatah yang zahir ketika nasab (kecuali jika fiil tersebut diakhiri oleh alif maka tetap tersembunyi), dan dengan hazaf (membuang) huruf akhir ketika jazam seperti يَدْعُوْ – لَنْ يَدْعُوَ – لَمْ يَدْعُ. Dan Fiil yang Lima dii’rab dengan nun ketika rafak dan dengan hazaf nun ketika nasab dan jazam seperti يَضْرِبُوْنَ – لَنْ يَضْرِبُوْا – لَمْ يَضْرِبُوْا.

Namun Fiil Mudhari’ dianggap mabni ketika akhirnya dihubungi oleh nun inats (nun yang mengandung makna banyak perempuan) seperti يَضْرِبْنَ, maka Fiil Mudharia ketika itu dibina di atas sukun. Begitu juga ketika akhir Fiil Mudharia tersebut dihubungi secara langsung (mubasyarah) oleh nun taukid, baik yang bertasydid (tsaqilah) seperti contoh يَضْرِبَنَّ, maupun yang tidak bertasydid (khafifah) seperti pada contoh يَضْرِبَنْ, maka Fiil Mudharia ketika itu dibina di atas fatah.

Akan tetapi perlu digarisbawahi di sini, jika nun taukid tersebut tidak berhubungan secara langsung (ghair mubasyarah) dengan akhir Fiil Mudhari, maka Fiil Mudhari’ ketika itu tetap dianggap mu’rab seperti pada kata يَضْرِبَانِّ – يَضْرِبُنَّ – تَضْرِبِنَّ. Pada contoh-contoh tersebut antara akhir Fiil Mudhari’ dengan nun taukid dibatasi oleh alif isnaini, waw jamak, dan ya muannats mukhatabah, karena asal masing-masing fiil tersebut sebelum dimasuki oleh nun taukid adalah يَضْرِبَانِنَّ – يَضْرِبُوْنَنَّ – تَضْرِبِيْنَنَّ. Allahu A'lam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mohon kritik dan sarannya.!

Ada kesalahan di dalam gadget ini

صاحب الكتابة

Foto saya
Bukittinggi, Agam, Indonesia
Seorang pelajar yang tengah berkontemplasi dalam pencarian jatidiri dan ilmu pengetahuan, walau hingga saat ini ilmu yang dia harapkan terasa masih dangkal dan jauh dari kesempurnaan. Dia lahir pada hari Kamis pagi, tanggal 22 Februari 1990 atau bertepatan dengan 26 Rajab 1410 Hijriah. Diberi nama dengan Yunal Isra bin Syamsul Bahri dan biasa dipanggil dengan sebutan Yunal/Isra/Inal. Pendidikan pertama yang pernah dijalaninya adalah Pendidikan TK pada tahun 1996, kemudian dilanjutkan ke SD 01 Baso dan tamat pada tahun 2002. Setelah itu memutuskan untuk fokus mendalami ilmu-ilmu keislaman di MTI Canduang dan tamat pada tahun 2009. Setahun kemudian ia meneruskan petualangan intelektualnya di program S1 Fakultas Dirasah Islamiyyah UIN Syarif Hidayatullah dan Darus-Sunnah International Institute For Hadith Sciences Jakarta. Berharap semoga bisa menjadi orang yang bermanfaat untuk manusia lain dan diredoi orang tua dan tuhannya, amien.! Fokus kajiannya sekarang "al-Muhaafazhah A'la al-Qadiimi al-Shaalih, wa al-Akhdzu bi al-Jadiidi al-Ashlah".

Terima kasih atas kunjungannya.........!!!!!!

نحمدك اللهم منزل الآيات تبصرة لأولى الألباب ورافع الدلالات عبرة لتزيل بها عن القلوب الحجاب ونشكرك شرعت الحلال والحرام وأنزلت الكتاب وجعلته هدى لكل خير يرام ونصلى ونسلم على سيدنا محمد المؤيد من الله بأجلى النيرات والساطع نوره في أفق الهداية بما يزيح الريب والمدلهمات وعلى آله خير آل وأصحابه ومن لهم مقتف أوموال