I’rab Isim yang Enam



Setelah kemaren kita mengkaji tentang jenis-jenis perubahan (i’rab) yang terjadi pada kalimat Isim dan Fiil, maka sekarang kita akan masuk kepada bahasan rincian beberapa Isim Mu’rab yang kali ini akan difokuskan pada Isim yang Enam. Hal ini sebagaimana yang diisyaratkan oleh Syekh Ibn Malik dalam bait berikut :

وَارْفَعْ بِوَاوٍ وَانْصِبَنَّ بِالأَلِفْ # وَاجْرُرْ بِيَاءٍ مَا مِنَ الأَسْمَا أَصِفْ
Rafakkanlah dengan waw, dan nasabkanlah dengan alif, serta jarkanlah dengan ya yaitu isim-isim yang akan disebutkan.

مِنْ ذَاكَ ذُو إِنْ صُحْبَةً أَبَانَا # وَالْفَمُ حَيْثُ الْمِيْمُ مِنْهُ بَانَا
Di antaranya adalah lafadz ذُوْ (yang mempunyai) bila mengandung makna makna memiliki dan lafadz فَمٌ (mulut) bila huruf mimnya dipisahkan (ditiadakan).

أَبٌ آخٌ حَمٌ كَذَاكَ وَهَنُ # وَالْنَّقْصُ فِي هذَا الأَخِيْرِ أَحْسَنُ
Lafadz أَبٌ (ayah),  أَخٌ(saudara laki-laki), dan  حَمٌ(ayah mertua/ipar) dan demikian pula lafadz هَنُ, untuk lafadz yang terakhir dibaca naqish (dii’rab dengan harkat) lebih baik.

وَفِي أَبٍ وَتَالِيَيْهِ يَنْدُرُ # وَقَصْرُهَا مِنْ نَقْصِهِنَّ أَشْهَرُ
Dan pada lafadz أَبٍ dan dua lafadz yang setelahnya jarang naqishnya, tetapi bacaan qasharnya lebih masyhur ketimbang bacaan naqishnya.

وَشَرْطُ ذَا الإعْرَابِ أَنْ يُضَفْنَ لاَ # لِلْيَا كَجَا أَخْو أَبِيْكَ ذَا اعْتِلاَ
Syarat bagi i’rab ini hendaknya (Isim yang Enam) tersebut diidhofahkan bukan kepada ya mutakallim seperti pada kalimat جَاءَ أَخُوْ أَبِيْكَ ذَا عْتِلَا (telah datang saudara ayahmu yang mempunyai kedudukan tinggi).

Isim yang enam adalah setiap isim yang diakhiri oleh huruf ilat dan tergabung ke dalam enam kelompok berikut : أَبُوَكَ، أَخُوْكَ، حَمُوْكَ، فُوْكَ، ذُوْ مَالٍ dan هَنُوْكَ. Masing-masingnya menurut pendapat yang masyhur dirafakkan dengan waw sebagai ganti dari dommah seperti pada contoh جَاءَ أَبُوْكَ, dinasabkan dengan alif sebagai ganti dari fatah seperti pada contoh رَأَيْتُ أَبَاكَ, dan dijarkan dengan ya sebagai ganti dari kasrah seperti pada مَرَرْتُ بِأَبِيْكَ.

Masing dari keenam isim tersebut mempunyai syarat khusus dan syarat umum untuk mengi’rabnya sebagai isim yang enam, sehingga ia bisa dirafakkan dengan waw, dinasabkan dengan alif, dan dijarkan dengan ya. Di antara syarat khusus itu adalah sebagai berikut :

Pertama, syarat untuk lafadz ذُوْ adalah dia harus bermakna “memiliki”, berbeda dengan lafadz      ذُوْ orang-orang Thaiyyah yang bermakna “yang” yang mabni, dalam artian selalu diakhiri dengan huruf waw dalam segala kondisi, baik rafak, nasab, maupun khafad seperti pada contoh جَاءَنِيْ ذُوْ قَامَ – رَأَيْتُ ذُوْ قَامَ – مَرَرْتُ بِذُوْ قَامَ. Kemudian dalam prakteknya kalimat ذُوْ juga harus diidhofahkan kepada isim jenis yang zohir selain sifat seperti ذُوْ مَالٍ – ذُوْ الْجَلَالِ – ذُوْ الْجَمَالِ, ia tidak bisa idhofah kepada isim dhomir seperti ذُوْهُ – ذُوْهَا dan lain-lain.

Kedua, syarat untuk lafadz فَمٌ adalah menghilangkan huruf mimnya. Jika huruf mimnya tetap ada pada kalimat tersebut, maka lafadz tersebut dii’rab dengan harkat seperti pada contoh هَذَا فَمٌ – رَأَيْتُ فَمًا – نَظَرْتُ إِلَى فَمٍ.

Ketiga, untuk lafadz هَنُ tidak mempunyai syarat dalam penisbatannya sebagai Isim yang Enam. Hanya saja dalam penerapan sehari-hari, ia lebih sering dii’rab dengan harkat ketimbang huruf sebagai isim yang enam. Bacaan dengan i’rab harkat disebut juga dengan naqsh seperti pada contoh هَذَا هَنُ زَيْدٍ – رَأَيْتُ هَنَ زَيْدٍ – مَرَرْتُ بِهَنِ زَيْدٍ. Sedangkan bacaan dengan i’rab huruf disebut dengan itmam seperti pada contoh هَذَا هَنُوْهُ – رَأَيْتُ هَنَاهُ – مَرَرْتُ بِهَنِيْهِ.

Keempat, untuk lafadz أَبٌ، أَخٌ dan حَمٌ juga tidak mempunyai syarat dalam menisbatkannya sebagai Isim yang Enam. Hanya saja dalam pemakaian dalam bahasa Arab, terkadang ketiganya dibaca secara naqsh atau dengan menghilangkan huruf waw, alif, dan ya-nya ketika rafak, nasab, dan khafad. Sehingga ketiganya dii’rab dengan huruf seperti pada contoh هَذَا أَبُهُ – رَأَيْتُ أَبَهُ – مَرَرْتُ بِأَبِهِ. Kemudian sebagian ahli bahasa yang lain membacanya dengan menambahkan alif di akhirnya, baik ketika rafak, nasab, maupun jar seperti pada contoh هَذَا أَبَاهُ – رَأَيْتُ أَبَاهُ – مَرَرْتُ بِأَبَاهُ.

Kemudian syarat umum untuk kesemua lafadz tersebut dapat dii’rab sebagai Isim yang Enam ada tiga, yaitu :

Pertama, masing-masing dari lafadz-lafadz tersebut harus diidhofahkan kepada selain ya mutakallim (ya yang bermakna saya/orang pertama). Namun apabila masing-masingnya tidak diidhofahkan, maka keenam lafadz tersebut dii’rab dengan harkat yang tampak seperti هَذَا أَبٌ – رَأَيْتُ أَبًا – مَرَرْتُ بِأَبٍ. Dan jika masing-masingnya diidhofahkan kepada ya mutakallim, maka keenamnya dii’rab dengan harkat yang ditakdirkan karena harus bertentangan dengan kehendak ya yang mengkasrahkan huruf sebelumnya seperti pada contoh هَذَا أَبِيْ – رَأَيْتُ أَبِيْ – مَرَرْتُ بِأَبِيْ.

Kedua, masing-masingnya tidak disisipi oleh ya tashghir, yaitu ya yang mengandung makna “kecil”. Jika masing-masingnya disisipi oleh ya tashghir tersebut, maka keenam lafadz tersebut dii’rab dengan harkat yang tanpak seperti pada contoh هَذَا أُبَيُ زَيْدٍ – رَأَيْتُ أُبَيَّ زَيْدٍ – مَرَرْتُ بِأُبَيِّ زَيْدٍ.

Ketiga, masing-masing dari lafadz-lafadz tersebut harus berbentuk mufrad (tunggal). Jika keenamnya berbentuk tasniah (dua) atau jamak (banyak), maka keenamnya dii’rab sebagaimana halnya i’rab tasniah dan jamak (baik jamak muzakkar, jamak muzakkar maupun jamak muannats) tersebut seperti pada contoh جَاءَ أَبَاءُهُمْ وَأَبَوَا بَكْرٍ – رَأَيْتُ أَبَاءَهُمْ وَأَبَوَيْهِ – وَمَرَرْتُ بِآَبَاءِهِمْ وَأَبَوَيْهِ. Allahu A'lam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mohon kritik dan sarannya.!

Ada kesalahan di dalam gadget ini

صاحب الكتابة

Foto saya
Bukittinggi, Agam, Indonesia
Seorang pelajar yang tengah berkontemplasi dalam pencarian jatidiri dan ilmu pengetahuan, walau hingga saat ini ilmu yang dia harapkan terasa masih dangkal dan jauh dari kesempurnaan. Dia lahir pada hari Kamis pagi, tanggal 22 Februari 1990 atau bertepatan dengan 26 Rajab 1410 Hijriah. Diberi nama dengan Yunal Isra bin Syamsul Bahri dan biasa dipanggil dengan sebutan Yunal/Isra/Inal. Pendidikan pertama yang pernah dijalaninya adalah Pendidikan TK pada tahun 1996, kemudian dilanjutkan ke SD 01 Baso dan tamat pada tahun 2002. Setelah itu memutuskan untuk fokus mendalami ilmu-ilmu keislaman di MTI Canduang dan tamat pada tahun 2009. Setahun kemudian ia meneruskan petualangan intelektualnya di program S1 Fakultas Dirasah Islamiyyah UIN Syarif Hidayatullah dan Darus-Sunnah International Institute For Hadith Sciences Jakarta. Berharap semoga bisa menjadi orang yang bermanfaat untuk manusia lain dan diredoi orang tua dan tuhannya, amien.! Fokus kajiannya sekarang "al-Muhaafazhah A'la al-Qadiimi al-Shaalih, wa al-Akhdzu bi al-Jadiidi al-Ashlah".

Terima kasih atas kunjungannya.........!!!!!!

نحمدك اللهم منزل الآيات تبصرة لأولى الألباب ورافع الدلالات عبرة لتزيل بها عن القلوب الحجاب ونشكرك شرعت الحلال والحرام وأنزلت الكتاب وجعلته هدى لكل خير يرام ونصلى ونسلم على سيدنا محمد المؤيد من الله بأجلى النيرات والساطع نوره في أفق الهداية بما يزيح الريب والمدلهمات وعلى آله خير آل وأصحابه ومن لهم مقتف أوموال