I’rab Jamak Muzakkar Salim

Syarah Al-Fiyyah
Setelah kemaren kita mengkaji tentang i’rab Isim Mutsanna/Tasniah, maka sekarang kita akan masuk kepada bahasan i’rab Jamak Muzakkar Salim. Hal ini sebagaimana yang diisyaratkan oleh Syekh Ibn Malik dalam bait berikut :

وَارْفَعْ بِوَاوٍ وَبِيَا اجْرُرْ وَانْصِبِ سَالِمَ جَمْعِ عَامِرٍ وَمُذْنِبِ
Rafakkanlah dengan waw dan jar-kan serta nasabkanlah dengan ya Jamak Muzakkar Salim seperti lafadz عَامِرٍ (nama orang) dan مُذْنِبٍ (orang yang berdosa).

Jamak Muzakkar Salim adalah setiap isim yang mengandung makna banyak laki-laki di mana ketika rafak dia dii’rab dengan huruf waw dan ketika nasab dan jar dengan huruf ya seperti pada contoh جَاءَ الْمُسْلِمُوْنَ – رَأَيْتُ الْمُسْلِمِيْنَ – مَرَرْتُ بِالْمُسْلِمِيْنَ. Kata الْمُسْلِمُوْنَ merupakan bentuk jamak muzakkar dari kata الْمُسْلِمُ (seorang muslim).

Kemudian dalam prakteknya, tidak semua isim bisa dijamakkan dengan jamak muzakkar salim. Ibn Malik merumuskan setidaknya ada dua jenis isim yang bisa dijamakkan dengan jamak ini, yaitu Isim Jamid dan Isim Sifat.

Adapun isim jamid yang dimaksud di atas adalah setiap nama alam yang bergenre laki-laki, berakal, akhirnya tidak disertai oleh ta taknis (tanda perempuan), serta tarkib mazji (sebuah kata yang merupakan gabungan dari dua kata, di mana kata yang kedua menempati tempat ta taknis dari kata pertama) seperti lafadz بَعْلَبَكَ.

Dengan demikian, maka setiap isim jamid yang tidak melengkapi persyaratan tersebut tidak bisa dijamakkan dengan jamak ini seperti lafadz رَجُلٌ (laki-laki) karena ia bukan isim alam, زَيْتَبُ (Zainab) karena nama perempuan, لَاحِقٌ (nama kuda) karena tidak berakal, طَلْحَةُ (Talhah) karena disertai oleh ta taknis, dan begitu juga dengan lafadz سِيْبَوَيْهِ (Sibawaih) karena ia adalah tergolong Tarkib Mazji.

Sedangkan isim sifat yang dimaksud di atas adalah setiap isim sifat untuk laki-laki yang berakal, akhirnya tidak disertai oleh ta taknis, dan tidak tergolong kepada isim sifat yang berwazan أَفْعَلُ -  فَعْلَاءُ-  فُعْلَانُ dan فُعْلَى, serta ia tidak tergolong kepada sifat yang dipakaikan untuk laki-laki dan perempuan secara bersamaan.

Sehingga setiap isim sifat yang tidak melengkapi ketentuan tersebut seperti lafadz حَائِضٌ (yang haid) karena ia merupakan sifat untuk perempuan, سَابِقٌ (salah satu sifat untuk kuda) karena tidak berakal, عَلَّامَةٌ (yang alim) karena ia termasuk sifat yang diakhiri oleh ta taknis, أَحْمَرُ (yang merah) karena taknisnya berwazan فَعْلَاءُ yaitu حَمْرَاءُ, سُكْرَانُ dan سُكْرَى (yang mabuk) karena sewazan dengan فُعْلَانُ dan فُعْلَى, dan begitu juga dengan lafadz صَبُوْرٌ serta جَرِيْحٌ (yang sabar dan yang terluka) karena ia bisa dipakaikan untuk sifat laki-laki dan perempuan secara sekaligus, tidak bisa dijamakkan sebagai jamak muzakkar salim dengan alasan-alasan yang sudah disebutkan.

Pembagian jamak muzakkar kepada isim jamid dan isim sifat sebagaimana yang kita jelaskan barusan diisyaratkan oleh Ibn Malik melalui dua contoh yang ia sebutkan pada bait syiir di atas, yaitu lafadz عَامِرٌ dan مُذْنِبٌ.

Lafadz عَامِرٌ (Amir/nama laki-laki) merupakan nama alam yang bergenre laki-laki, berakal, akhirnya tidak disertai oleh ta taknis (tanda perempuan), serta bukan tarkib mazji (sebuah kata yang merupakan gabungan dari dua kata, di mana kata yang kedua menempati tempat ta taknis dari kata pertama).

Begitu juga dengan lafadz مُذْنِبٌ (yang berdosa) merupakan isim sifat untuk laki-laki yang berakal, akhirnya tidak disertai oleh ta taknis, ia tidak tergolong kepada isim sifat yang berwazan أَفْعَلُ -  فَعْلَاءُ-  فُعْلَانُ dan فُعْلَى, serta ia tidak tergolong kepada sifat yang dipakaikan untuk laki-laki dan perempuan secara bersamaan.

Allahu A’lam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mohon kritik dan sarannya.!

Ada kesalahan di dalam gadget ini

صاحب الكتابة

Foto saya
Bukittinggi, Agam, Indonesia
Seorang pelajar yang tengah berkontemplasi dalam pencarian jatidiri dan ilmu pengetahuan, walau hingga saat ini ilmu yang dia harapkan terasa masih dangkal dan jauh dari kesempurnaan. Dia lahir pada hari Kamis pagi, tanggal 22 Februari 1990 atau bertepatan dengan 26 Rajab 1410 Hijriah. Diberi nama dengan Yunal Isra bin Syamsul Bahri dan biasa dipanggil dengan sebutan Yunal/Isra/Inal. Pendidikan pertama yang pernah dijalaninya adalah Pendidikan TK pada tahun 1996, kemudian dilanjutkan ke SD 01 Baso dan tamat pada tahun 2002. Setelah itu memutuskan untuk fokus mendalami ilmu-ilmu keislaman di MTI Canduang dan tamat pada tahun 2009. Setahun kemudian ia meneruskan petualangan intelektualnya di program S1 Fakultas Dirasah Islamiyyah UIN Syarif Hidayatullah dan Darus-Sunnah International Institute For Hadith Sciences Jakarta. Berharap semoga bisa menjadi orang yang bermanfaat untuk manusia lain dan diredoi orang tua dan tuhannya, amien.! Fokus kajiannya sekarang "al-Muhaafazhah A'la al-Qadiimi al-Shaalih, wa al-Akhdzu bi al-Jadiidi al-Ashlah".

Terima kasih atas kunjungannya.........!!!!!!

نحمدك اللهم منزل الآيات تبصرة لأولى الألباب ورافع الدلالات عبرة لتزيل بها عن القلوب الحجاب ونشكرك شرعت الحلال والحرام وأنزلت الكتاب وجعلته هدى لكل خير يرام ونصلى ونسلم على سيدنا محمد المؤيد من الله بأجلى النيرات والساطع نوره في أفق الهداية بما يزيح الريب والمدلهمات وعلى آله خير آل وأصحابه ومن لهم مقتف أوموال