I’rab Mulhaq Jamak Muzakkar Salim


Syarah Alfiyyah

Kemaren kita telah mengkaji tentang i’rab Jamak Muzakkar Salim, namun ada satu bahasan lagi yang masih belum sempat kita selesaikan terkait dengan jamak yang satu ini, yaitu i’rab Mulhaq Jamak Muzakkar. Hal ini sebagaimana yang diisyaratkan oleh Syekh Ibn Malik dalam bait berikut :

وَشِبْهِ ذَيْنِ وَبِهِ عِشْرُوْنَا # وَبَابُهُ أُلْحِقَ وَالأَهْلُوْنَا
Dan yang serupa dengan kedua lafadz tersebut. Dan dimulhaqkan (kepada Jamak Muzakkar Salim) lafadz عِشْرُوْنَ (dua puluh) beserta teman-temannya yaitu lafadz أَهْلُوْنَ (keluarga).

أوْلُو وَعَالَمُوْنَ عِلِّيّونَا # وَأَرْضُوْنَ شَذَّ وَالْسِّنُوْنَا
Begitu juga lafadz أُوْلُوْ (yang mempunyai), عَالَمُوْنَ (alam), عِلِّيُّوْنَ (nama sorga tertinggi), أَرْضُوْنَ (bumi) yang jarang serta lafadz سِنُوْنَ (bertahun-tahun).

وَبَابُهُ وَمِثْلَ حِيْنٍ قَدْ يَرِدْ # ذَا الْبَابُ وَهْوَ عِنْدَ قَوْمٍ يَطَّرِدْ
Akan tetapi lafadz yang terakhir ini terkadang diberlakukan padanya seperti i’rab lafadz حِيْنَ (ketika) yang oleh sebagian kaum diberlakukan.

وَنُوْنَ مَجْمُوْعٍ وَمَا بِهِ الْتَحَقْ # فَافْتَحْ وَقَلَّ مَنْ بِكَسْرِهِ نَطَقْ
Nun jamak dan isim yang yang dimulhaqkan kepadanya fatahkanlah. Sedikit sekali orang yang mengucapkannya dengan harkat kasrah.

وَنُوْنُ مَا ثُنِّيَ وَالْمُلْحَقِ بِهْ # بِعَكْسِ ذَاكَ اسْتَعْمَلُوْهُ فَانْتَبِهْ
Dan nun isim yang mutsanna serta yang diilhaqkan kepadanya kebalikan dari yang tadi. Berlakukanlah hal ini dan ingatlah baik-baik.

Mulhaq Jamak Muzakkar Salim adalah setiap isim yang mengandung makna banyak laki-laki dan dii’rab dengan menggunakan huruf waw ketika rafak dan ya ketika nasab dan jar, namun isim tersebut tidak melengkapi syarat-syarat jamak muzakkar sebagaimana yang dibahas pada kajian sebelumnya, baik yang berbentuk Isim Jamid ataupun sifat.

Di antara isis-isim yang tergolong sebagai mulhaq jamak muzakkar tersebut adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Ibn Malik dalam bait syiirnya :

Pertama, lafadz عِشْرُوْنَ (20) dan teman-temannya seperti ثَلَاثُوْنَ, أَرْبَعُوْنَ, hingga bilangan تِسْعُوْنَ. Masing-masingnya tidak bisa digolongkan sebagai jamak muzakkar salim karena masing-masingnya tidak mempunyai bentuk tunggal.

Kedua, lafadz أَهْلُوْنَ (keluarga). Ia juga tidak bisa digolongankan sebagai jamak muzakkar salim karena bentuk tunggalnya adalah أَهْلٌ yang merupakan isim jenis yang jamid. Padahal salah satu syarat isim yang akan dijadikan sebagai jamak muzakkar harus berbentuk isim jamid atau isim sifat, bukan isim jenis.

Ketiga, lafadz أُوْلُوْ (yang mempunyai), karena tidak mempunyai bentuk tunggal.

Keempat, lafadz عَالَمُوْنَ (alam), karena dia tergolong isim jenis yang jamid.

Kelima, عِلِّيُّوْنَ (nama surga tertinggi), karena dia bukan isim yang berakal.

Keenam, lafadz أَرْضُوْنَ (bumi), karena dia tergolong sebagai isim jenis yang jamid dan munnats, padahal jamak muzakkar harus diambilkan dari isim-isim yang muzakkar.

Ketujuh, lafadz السِّنُوْنَ (bertahun-tahun) yang merupakan bentuk jamak dari سَنَةٌ serta isim-isim yang sejenis dengannya seperti lafadz مِائَةٌ, ثِبَةٌ, شِفَةٌ, ظِبَةٌ dan lain-lain, karena masing-masingnya tergolong sebagai isim jenis yang muannats.

Akan tetapi pada kata yang terakhir ini (السِّنُوْنَ dan teman-temannya), sebagian ulama ada yang mengi’rabnya seperti i’rab isim mufrad yaitu dengan dommah ketika rafak, fatah ketika nasab, dan kasrah ketika jar seperti pada contoh هَذِهِ سِنِيْنٌ – رَأَيْتُ سِنِيْنًا – مَرَرْتُ بِسِنِيْنٍ. Ada juga yang membuang huruf nunnya, meskipun dalam prakteknya sangat sedikit sekali. Serta ada juga yang mengi’rabnya sebagai zarof sebagaimana halnya lafadz حِيْنَ (ketika), sehingga ia harus diidhofahkan kepada kata setelahnya sebagai mazruf/mudhofun ilaihnya.

Kemudian pada dua bait terakhir pada kajian ini, Ibn Malik menjelaskan perbedaan bacaan antara jamak muzakkar salim dengan isim mutsanna ketika nasab dan jar. Secara sepintas mungkin saja keduanya terlihat sama dalam hal tulisan, namun cara membacanya berbeda. Adapun jamak muzakkar salim, huruf ya-nya disukunkan dan huruf nun-nya difatahkan seperti رَأَيْتُ مُسْلِمِيْنَ (saya melihat beberapa orang muslim), sedangkan isim mutsanna huruf ya-nya disukunkan tapi huruf nun-nya dikasrahkan seperti رَأَيْتُ مُسِلِمَيْنِ (saya melihat dua orang muslim). 

Allahu A’lam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mohon kritik dan sarannya.!

Ada kesalahan di dalam gadget ini

صاحب الكتابة

Foto saya
Bukittinggi, Agam, Indonesia
Seorang pelajar yang tengah berkontemplasi dalam pencarian jatidiri dan ilmu pengetahuan, walau hingga saat ini ilmu yang dia harapkan terasa masih dangkal dan jauh dari kesempurnaan. Dia lahir pada hari Kamis pagi, tanggal 22 Februari 1990 atau bertepatan dengan 26 Rajab 1410 Hijriah. Diberi nama dengan Yunal Isra bin Syamsul Bahri dan biasa dipanggil dengan sebutan Yunal/Isra/Inal. Pendidikan pertama yang pernah dijalaninya adalah Pendidikan TK pada tahun 1996, kemudian dilanjutkan ke SD 01 Baso dan tamat pada tahun 2002. Setelah itu memutuskan untuk fokus mendalami ilmu-ilmu keislaman di MTI Canduang dan tamat pada tahun 2009. Setahun kemudian ia meneruskan petualangan intelektualnya di program S1 Fakultas Dirasah Islamiyyah UIN Syarif Hidayatullah dan Darus-Sunnah International Institute For Hadith Sciences Jakarta. Berharap semoga bisa menjadi orang yang bermanfaat untuk manusia lain dan diredoi orang tua dan tuhannya, amien.! Fokus kajiannya sekarang "al-Muhaafazhah A'la al-Qadiimi al-Shaalih, wa al-Akhdzu bi al-Jadiidi al-Ashlah".

Terima kasih atas kunjungannya.........!!!!!!

نحمدك اللهم منزل الآيات تبصرة لأولى الألباب ورافع الدلالات عبرة لتزيل بها عن القلوب الحجاب ونشكرك شرعت الحلال والحرام وأنزلت الكتاب وجعلته هدى لكل خير يرام ونصلى ونسلم على سيدنا محمد المؤيد من الله بأجلى النيرات والساطع نوره في أفق الهداية بما يزيح الريب والمدلهمات وعلى آله خير آل وأصحابه ومن لهم مقتف أوموال