Unsur-Unsur Kalimat dalam Bahasa Arab


Pada kajian kali ini, kita akan masuk dalam pembahasan pertama dan paling penting dalam gramatikal Bahasa Arab, yaitu unsur-unsur kalimat. Materi ini disimpulkan oleh Ibn Malik dalam dua bait berikut :

كَلاَمُنَا لَفْظٌ مُفِيْدٌ كَاسْتَقِمْ # وَاسْمٌ وَفِعْلٌ ثُمَّ حَرْفٌ الْكَلِمْ
Kalam (kalimat) menurut istilah kami (ahli Nahwu) adalah lafadz yang mengandung faedah seperti “istaqim” (luruslah kamu!). Sedangkan Isim, Fi’il, dan Harf kalim namanya.

وَاحِدُهُ كَلِمَةٌ وَالْقَوْلُ عَمْ # وَكَلْمَةٌ بِهَا كَلاَمٌ قَدْ يُؤمْ
Bentuk tunggal dari kata kalim adalah kalimah, lumrahnya disebut qaul (perkataan). Terkadang yang dimaksud dengan kalimah (kata) sama dengan kalam (kalimat).

Sebelum menjelaskan maksud kedua bait di atas, ada baiknya kita jelaskan terlebih dahulu istilah-istilah umum dalam Bahasa Arab beserta padanannya dalam Bahasa Indonesia. Hal ini bertujuan untuk mempermudah teman-teman peserta kajian dalam menganalogikan kaedah-kaedah Bahasa Arab tersebut ke dalam Bahasa Indonesia. Perlu diingat bahwa pada dasarnya struktur umum seluruh bahasa adalah sama, sehingga ketika seseorang telah menguasai tata bahasa satu bahasa tertentu maka ia sebenarnya akan dengan mudah memahami struktur bahasa yang lain.

Di antara istilah tersebut adalah :
Pertama, الحروف الهجائية (Huruf Hijaiyyah) sama dengan huruf abjad dalam Bahasa Indonesia.

Kedua, kumpulan dari beberapa huruf hijaiyyah akan membentuk كلمة (kalimah) atau yang disebut juga dengan “kata” dalam Bahasa Indonesia.

Ketiga, susunan dari beberapa كلمة akan membentuk كلام (kalam) atau yang disebut juga dengan “kalimat” dalam Bahasa Indonesia.

Keempat, susunan kalimat yang hanya terdiri dari tiga kata di sebut juga dengan كلم (kalim) dalam Bahasa Arab.

Kelima, susunan dari beberapa “kalam” akan membentuk “faqrah” atau paragraf dalam Bahasa Indonesia.

Kedua bait di atas sebenarnya hanya menerangkan pengertian kalam (kalimat) dalam Bahasa Arab, yaitu kumpulan dari beberapa kalimah (kata) yang mengandung makna yang padu dan sempurna. Padu dan sempurna di sini dilihat dari sejauh mana ungkapan tersebut bisa memberikan pemahaman kepada si pendengar sehingga ia tidak perlu lagi bertanya terkait dengan maksud atau tujuannya. Tentunya ungkapan yang seperti ini harus melengkapi unsur-unsur kalimat efektif seperti adanya subjek (mubtada/fail), predikat (khabar/fi’il), dan objek (maf’ul bih).

Dalam Bahasa Arab unsur pembentuk kalam (kalimat) itu ada tiga, yaitu pertama isim (kata benda), kedua, fi’il (kata kerja), dan yang ketiga, harf (kata penghubung). Unsur-unsur inilah yang nanti selalu digunakan untuk menyusun sebuah ungkapan agar bisa dipahami oleh orang lain. Sebuah kalimat bisa saja tersusun dari dua isim seperti kalimat مُحَمَّدٌ مُدَرِّسٌ (Muhammad seorang guru), atau satu fi’il dengan satu isim seperti kalimat اِسْتًقِمْ dengan subjek أَنْتَ yang tersembunyi di dalamnya (luruslah kamu.!) sebagaimana yang dicontohkan Ibnu Malik dalam baitnya atau satu huruf dengan satu isim seperti فِيْ الْمَسْجِدِ (di mesjid), ataupun satu huruf dengan satu fi’il seperti لَمْ أَدْرِ (saya belum tahu) dan sebagainya.

Pada bait kedua, Ibn Malik menggarisbawahi bahwa ungkapan قول (ungkapan/perkataan) merupakan istilah yang bisa menghimpun semua term di atas, dalam artian dia bisa diartikan sebagai kalimah, kalam, ataupun kalim, meskipun lumrahnya kata-kata قول ini digunakan untuk kata-kata tunggal (kalimah). Terakhir, sebagian orang Arab ada juga yang memakaikan istilah كلمة (kata) terhadap sebuah كلام (kalimat), seperti pada contoh لا إله إلا الله (tiada Tuhan selain Allah). Mereka menyebutnya sebagai kalimah al-ikhlash (كلمة الإخلاص), padahal sebenarnya ungkapan tersebut sudah layak disebut sebagai kalam (kalimat). Allahu A’lam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mohon kritik dan sarannya.!

Ada kesalahan di dalam gadget ini

صاحب الكتابة

Foto saya
Bukittinggi, Agam, Indonesia
Seorang pelajar yang tengah berkontemplasi dalam pencarian jatidiri dan ilmu pengetahuan, walau hingga saat ini ilmu yang dia harapkan terasa masih dangkal dan jauh dari kesempurnaan. Dia lahir pada hari Kamis pagi, tanggal 22 Februari 1990 atau bertepatan dengan 26 Rajab 1410 Hijriah. Diberi nama dengan Yunal Isra bin Syamsul Bahri dan biasa dipanggil dengan sebutan Yunal/Isra/Inal. Pendidikan pertama yang pernah dijalaninya adalah Pendidikan TK pada tahun 1996, kemudian dilanjutkan ke SD 01 Baso dan tamat pada tahun 2002. Setelah itu memutuskan untuk fokus mendalami ilmu-ilmu keislaman di MTI Canduang dan tamat pada tahun 2009. Setahun kemudian ia meneruskan petualangan intelektualnya di program S1 Fakultas Dirasah Islamiyyah UIN Syarif Hidayatullah dan Darus-Sunnah International Institute For Hadith Sciences Jakarta. Berharap semoga bisa menjadi orang yang bermanfaat untuk manusia lain dan diredoi orang tua dan tuhannya, amien.! Fokus kajiannya sekarang "al-Muhaafazhah A'la al-Qadiimi al-Shaalih, wa al-Akhdzu bi al-Jadiidi al-Ashlah".

Terima kasih atas kunjungannya.........!!!!!!

نحمدك اللهم منزل الآيات تبصرة لأولى الألباب ورافع الدلالات عبرة لتزيل بها عن القلوب الحجاب ونشكرك شرعت الحلال والحرام وأنزلت الكتاب وجعلته هدى لكل خير يرام ونصلى ونسلم على سيدنا محمد المؤيد من الله بأجلى النيرات والساطع نوره في أفق الهداية بما يزيح الريب والمدلهمات وعلى آله خير آل وأصحابه ومن لهم مقتف أوموال