Daftar Menu

Abu Hanifah; Sang Wara' Sejati

Yazid ibn Harun bercerita, "Saya belum pernah melihat orang yang lebih wara' (menjaga diri dari hal-hal yang dilarang agama) daripada Abu Hanifah. 

Suatu hari saya melihatnya duduk di bawah terik matahari di dekat pintu rumah seseorang.

Lalu dengan penuh keheranan saya menyapanya sembari bertanya, "Wahai Abu Hanifah, kenapa Engkau tidak berteduh ke bagian yang terhalang matahari saja.?"

Lalu dia menjawab, "Pemilik rumah ini adalah seorang yang kaya raya dan saya sungkan untuk duduk di teras rumahnya (berhutang manfaat kepadanya). Kira-kira sifat wara' mana lagi yang lebih dari ini.?

Sebagian sumber lain menyebutkan ketika Abu Hanifah ditanya terkait keengganannya untuk berteduh di bawah naungan teras rumah orang kaya tersebut, ia menjawab :

"Saya memiliki sedikit hutang kepada pemilik rumah ini dan saya khawatir hal tersebut akan menambah nominal hutang tersebut (karena saya menggunakan barang miliknya untuk keperluan pribadi saya).

Saya berpendapat bahwa hal tersebut hendaknya dijaga betul oleh setiap orang (tidak sembarangan dalam menggunakan hak milik orang lain), apalagi bagi seorang alim (ahli agama).
Sudah seharusnya seorang ahli agama tersebut mengambil standar yang lebih tinggi dalam hal penjagaan terhadap hukum-hukum syariat ketimbang hukum-hukum syariat yang dia sampaikan ke orang-orang awam.

(Diterjemahkan langsung dari kitab Alf Qisshah wa Qisshah karya Hani al-Hajj, hal 234).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon kritik dan sarannya.!