Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Apakah Mungkin Umat Ini Disatukan Dalam Satu Corak Pemikiran.?

Kalau diperhatikan selintas, apa yang dilakukan oleh setiap aliran dalam Islam ataupun dalam kelompok sosial manapun dalam “dakwah” mereka hanyalah ingin mengajak semua orang untuk berbuat seperti yang mereka lakukan. Mereka ingin semua orang mempunyai pola pikir keagamaan yang sama dan seragam dengan mereka. Sehingga di dunia ini, tidak ada seorangpun yang mengatakan dirinya muslim kecuali mereka beramal dan berpikir seperti apa yang mereka amalkan dan pikirkan.

Perbedaannya hanyalah sebagian golongan itu ada yang memaksakan pendapatnya diterima oleh orang lain, ada yang ingin menyampaikan gagasan agar diakui eksistensi atau keberadaannya, dan ada juga yang hanya ingin dipahami dan dihargai pendapatnya. Bagi mereka yang ingin memaksakan, selalu berusaha agar bagaimana semua pendapat keagamaan itu hanyalah dari pendapat mereka semata. Sementara pendapat yang berbeda dengan mereka dianggap salah dan keliru.

Letak Universalitas Ajaran Islam

Salah satu bentuk keuniversalan ajaran Islam, sebagaimana yang disebutkan oleh Syekh Abdul Wahhab Khalaf dalam mukadimah Ushul Fikih-nya adalah bahwa tidak satupun sisi kehidupan manusia di dunia ini, kecuali terdapat aturan, tuntunan, serta arahan syariat berdasarkan petunjuk dari al-Qur’an dan Sunah di dalamnya. Hal ini seakan menutup pintu bagi seorang muslim untuk mengambil referensi kehidupan dari yang lain selain Islam, karena semuanya sudah ada dan paripurna dalam ajaran Islam.
Ungkapan ini seakan kontras dengan apa yang pernah disinggung oleh Imam Ibn Rusyd dalam mukadimah Bidayah al-Mujtahidnya yang menyebutkan bahwa ajaran Islam sebenarnya belum bisa dikatakan “sempurna” dalam artian yang sederhana, karena pada kenyataannya teks al-Qur’an dan Hadis sudah terhenti sejak wafatnya Rasulullah Saw, sementara realitas kehidupan senantiasa berubah seiring berjalannya waktu dan berubahnya situasi, kondisi, serta teknologi yang ada.

Apakah Setiap Amalan Harus Didasarkan Dengan Dalil Khas (Spesifik).?

Salah satu di antara nalar ijtihad yang dirumuskan oleh teman-teman dari kalangan “Ashabul Yamin” adalah keharusan setiap muslim untuk beramal berdasarkan dalil yang bersifat juz’i atau khusus/spesifik. Artinya setiap tradisi serta amalan yang dilakukan oleh seseorang harus disebutkan reverensinya secara teks dari al-Qur’an dan Hadis. Jika tidak ada, maka amalan atau tradisi tersebut tidak boleh dikerjakan karena dianggap sebagai sebuah kebid’ahan.

Nalar ini lagi-lagi didasarkan kepada semangat kembali kepada al-Qur’an dan Sunah. Sebuah kaedah universal yang menjadi senjata utama para “ashabul yamin” dalam mengkritisi amalan atau tradisi kelompok lain. Mereka memahami bahwa tidak ada amalan tanpa dalil, dan tidak ada dalil kecuali harus diambil dan disebutkan secara gamblang dari teks-teks al-Qur’an dan Hadis. Sehingga amalan atau tradisi yang secara teks tidak tersebut dalam kedua reverensi itu, otomatis tidak bisa diamalkan.

Menelusuri Jejak Guru; Buya Amilizar Amir – Syekh Kanis Tuanku Tuah – Syekh Muda Abdul Qadim Balubuih – Syekh Abdurrahman Batuhampar

Ketika pulang kampung lebaran Idul Fitri dua bulan yang lalu, kami bersama istri menyempatkan diri untuk bersilaturahmi dengan salah seorang guru dan mursyid kami, Buya Amilizar Amir Hafizahullah, seorang guru yang alim secara lahir dan batin. Pakar Ilmu Kalam, Fikih, Ushul, dan tata bahasa Arab serta mendalami Ilmu Tashawwuf. Beliau juga dikenal sebagai seorang mursyid dalam Thariqah Naqsyabandiyah al-Khalidiyyah yang bersurau di Jorong Lompatan, Nagari Barulak, Kec. Tanjung Baru, Tanah Datar, Sumatera Barat.

Dalam Ilmu Syariat beliau pernah berguru langsung dengan Syekh Sulaiman Arrasuli, salah seorang ulama besar dan pendiri PERTI (Persatuan Tarbiyah Islamiyah), salah satu organisasi yang bergerak di bidang sosial keagamaan yang lahir dan berkembang di daerah Sumatera Barat sejak 5 Mei 1928. Buya Amilizar talaqqi dengan Syekh Sulaiman setelah diperintahkan oleh guru beliau yang lain, Syekh Amran Asshamad yang juga merupakan murid senior Syekh Sulaiman.

Sekilas Tentang Imam Zarruq dan Kitab Qawaid al-Tashawwuf (Sebuah Pengantar dan Ikhtishar Pengajian)

Kalau dalam Ilmu Fikih terdapat Ilmu Qawaid Fiqhiyyah, yaitu kaedah-kaedah universal yang disimpulkan dari beragam pendapat ulama dalam kitab-kitab fikih, maka dalam Ilmu Tashawwuf ada istilah qawaid al-tashawwuf, yaitu kaedah-kaedah yang muncul dari beragam pendapat ulama tashawwuf dalam menjelaskan segala hal yang berkaitan dengan Ilmu Tashawwuf.

Namun berbeda dengan Qawaid Fiqhiyyah yang sudah mapan dengan nama dan epistemologi sendiri, maka qawaid tashawwuf yang kami maksud di atas hanyalah sebuah judul kitab yang ditulis oleh seorang ulama besar keturunan, Fes, Maroko yang bernama Abu al-Abbas Ahmad ibn Ahmad ibn Muhammad ibn ‘Isa Zarruq al-Fasi al-Burnusi. Beliau lahir pada tahun 846 H dan wafat pada tahun 899 H dalam usia 54 tahun.

Apakah Ahli Fikih Itu Ahli Hadis Juga.?

Pendikotomian sebagian kalangan terhadap ahli hadis dan ahli fikih telah memunculkan stigma negatif bagi ahli fikih dan kitab-kitab fikih itu sendiri. Mereka kadang menjadi korban “ejekan” para oknum yang menyuarakan agar umat Islam kembali kepada al-Qur’an dan Hadis saja, bukan ke kitab-kitab fikih. Pernyataan tersebut seolah-olah menganggap bahwa ahli fikih itu tidak paham dengan hadis sama sekali.
Sebaliknya mereka yang terlalu “nyaman” dengan fikih menganggap bahwa ahli hadis merupakan “musuh” yang berpotensi menghancurkan nalar-nalar ijtihadi mereka. Ahli hadis mereka anggap hanya mengedepankan nalar hitam-putih saja terhadap berbagai persoalan. Sehingga ketika sebuah hadis yang menyinggung sebuah persoalan sudah dicap bermasalah (dalam artian dhoif), maka ia tidak bisa diapa-apakan lagi.

Tidak Ada Istilah Bid’ah Dalam Persoalan Khilafiyyah

Beberapa hari yang lalu, seorang pendakwah dari kalangan “ashabul yamin” kembali mempersoalkan tentang kebid’ahan qunut pada salat subuh. Dia berpendapat bahwa amalan tersebut tidak didasari oleh dalil yang kuat alias dhoif. Sehingga orang yang melakukannya dianggap sebagai pelaku bid’ah yang keliru dan tidak pantas untuk diikuti.
Lagi-lagi persoalan yang ia permasalahkan adalah hal-hal sepele yang sejak dahulu sudah selesai dibahas oleh para ulama. Imam Ibn Rusyd dalam Bidayahnya dan Imam Nawawi dalam Majmu’nya telah menjabarkan secara detail khilafiyah ulama terkait hal itu lengkap dengan dalil dan sebab perbedaan mereka. Namun entah kenapa pendapat bid’ah yang dipilih oleh sang penda’i.
Saya tidak akan mengulangi khilafiyah ulama tersebut dalam tulisan ini karena beberapa tulisan lain serta media-media kajian online juga sudah banyak yang mempublishnya. Namun yang ingin saya sampaikan dalam tulisan pendek ini adalah tentang sebuah kaedah fikih yang mungkin terlupakan oleh sang da’i ketika menyampaikan petuah bid’ahnya.

Tabarukan Dengan Atsar Ulama; Sebuah Ekspresi Cinta, Bukan Pengkultusan

Tidak terhitung banyaknya riwayat sahih yang menjelaskan prosesi tabarukan para sahabat dengan atsar (bekas) Nabi Muhammad Saw, baik berupa air wudhu, air sisa minum, rambut, keringat, kuku, piring, gelas dan sebagainya. Menariknya Nabi tidak melarang apalagi menegur mereka karena tindakan tersebut.
Kemudian kebiasaan itu dilanjutkan oleh para sahabat, tabi'in, ulama, dan para orang saleh dari umat ini dari generasi ke generasi. Seorang murid bertabaruk dengan atsar ulama yang dia kagumi, begitu juga sang ulama bertabaruk dengan atsar gurunya, dan gurunya juga bertabaruk dengan guru-gurunya dan begitu seterusnya, dengan harapan agar mareka mendapatkan keberkahan dari Allah Swt lewat wasilah atsar orang-orang saleh yang mereka caintai tersebut.

Tidak Mengamalkan Hadis Ahad Yang Shahih Karena Bertentangan dengan Prinsip Dasar Syariat, Mungkinkah.?

Sewaktu S-1 dulu, saya sempat berencana untuk menulis skripsi tentang kritik hadis melalui pendekatan Maqashid Syariah. Pertanyaan yang muncul saat itu adalah apakah mungkin sebuah hadis sahih tidak diaplikasikan hanya karena substansinya bertentangan dengan tujuan utama syariah.?

Namun karena satu dan lain hal, dosen pengampu metodologi penelitian saya saat itu menyarankan agar mengganti tema dengan upaya memahami hadis melalui pendekatan Maqashid Syariah saja. Beliau beralasan bahwa tema itu terlalu berat dan secara metodologis akan sulit dirumuskan, apalagi diaplikasikan.
Setelah 3 tahun berlalu, saya menemukan ternyata konsep itu cukup populer di kalangan ulama, khususnya di lingkungan Mazhab Maliki. Saat diskusi kitab al-Ihkam karya al-Qarrafi beberapa hari yang lalu, saya mendapati redaksi "Terkadang Hadis Ahad tidak diamalkan (ditinggalkan) karena bertentangan dengan qawaid (kaedah-kaedah dasar dalam agama)."

Apakah Setiap Hadis Sahih Otomatis Diamalkan dan Hadis Sahih Otomatis Ditolak.?

Di antara sebab munculnya nalar sering mentabdi' (membid'ahkan) dari sebagian kawan kita dari kalangan "ashabul yamin" itu adalah adanya keyakinan bahwa setiap hadis sahih mesti diamalkan dan setiap hadis dhoif mesti ditolak.
Padahal dalam kenyataannya, satu hadis, sekalipun dia berderajat sahih, ataupun bahkan satu ayat, sekalipun ia berstatus mutawatir, tidak bisa langsung diamalkan sebelum mengkomparasikannya dengan hadis ataupun ayat lain.
Bisa saja satu ayat yang bersifat mutawatir itu atau sebuah hadis yang berstatus shahih itu ditakhsis (dikhususkan maknanya) oleh ayat atau hadis lain yang mempunyai dalalah yang lebih spesifik.
Atau bisa saja ayat atau hadis shahih tersebut ditaqyid (dikait) bentuk kemutlakannya oleh ayat atau hadis lain yang lebih kongkrit.
Atau bisa juga ayat atau hadis sahih tersebut ditabyin (dijelaskan) bentuk kemujmalannya oleh ayat atau hadis lain yang lebih jelas.
Atau bisa juga ayat atau hadis tersebut telah dinasakh (dihapuskan) pemberlakuannya oleh ayat atau hadis lain karena mempertimbangkan sisi kemaslahatannya.
Atau bisa juga ayat atau hadis tersebut dimarjuhkan (dikalahkan) sisi penerapannya karena keberadaan ayat atau hadis lain yang lebih rajih (kuat), dll.
======================

Sebaliknya bisa saja hadis dhoif tadi diperkuat statusnya oleh hadis dhoif lain yang punya derajat yang sama atau lebih kuat darinya.
Atau bisa juga hadis dhoif tersebut tingkat kedhoifannya tidak terlalu parah sehingga tetap bisa diamalkan sebagai fadhoilul a'mal sebagaimana dijelaskan oleh oleh Imam Nawawi dan banyak ulama lainnya.
Atau bisa juga hadis dhoif itu diamalkan karena mayoritas ulama mengamalkannya sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam al-Tirmidzi, Sayyid Muhammad, dan banyak ulama lainnya.
Atau bisa juga hadis dhoif itu mempunyai semangat atau spirit yang sama dengan tujuan-tujuan dasar syariat (sebut maqashidus syariah) sehingga pada akhirnya masih bisa diamalkan.
Pendeknya jangan membaca kasus apapun dalam agama ini hanya dengan modal satu dalil saja, insyaAllah selamat dan maslahat.
===================

Fatwa dan Fleksibelitas Hukum Islam



Setelah penaklukan Irak dan Syam pada masa kekhalifahan Saydina Umar ibn Khattab, para sahabat dihadapkan dengan persoalan apakah yang harus mereka lakukan terhadap tanah hasil rampasan perang tersebut. Jika merujuk kepada apa yang pernah dipraktekkan oleh Rasulullah Saw di masa hidupnya, maka empat perlima dari tanah tersebut harus dibagikan kepada mereka yang ikut berperang dan seperlimanya digunakan untuk kemaslahatan umum. Namun Saydina Umar mempunyai pandangan yang berbeda, ia tidak lagi membagikan harta rampasan perang tersebut seperti aturan yang pernah berlaku. Malahan ia memutuskan untuk membiarkan tanah tersebut tetap berada di tangan pemiliknya, hanya saja mereka dikenakan pajak dan hasilnya diberdayakan untuk kepentingan umat Islam dan pemerintahan.

Sepintas apa yang dilakukan oleh Umar pada kasus di atas adalah suatu hal yang menyalahi aturan baku yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Allah Swt menyebutkan dalam surat al-Anfal, ayat ke-41, bahwa seperlima harta rampasan perang dialokasikan buat kepentingan kaum muslimin dan sisanya dibagi-bagikan kepada prajurit muslim yang ikut serta dalam berperang. Sehingga pertanyaannya sekarang adalah kenapa ijtihad (sebut fatwa) dari Saydina Umar terkait kasus di atas bisa berbeda? Apa dasar hukum serta alasan beliau mengubah hukum tersebut? Tidak khawatirkah beliau kalau nantinya dianggap sebagai orang yang berani menentang ataupun bahkan merubah hukum Allah dan Rasul-Nya?

Hukum Membangunkan Orang di Saat Waktu Salat Tiba



Dalam pergaulan sehari-hari bersama keluarga atau teman kos misalnya, mungkin saja seseorang menemukan sebagian dari mereka (keluarga atau teman tersebut) yang sulit bangun di pagi hari. Mereka baru bangun setelah matahari menyingsing menyinari segala yang ada di permukaan bumi, sehingga waktu subuh pun berakhir sementara mereka belum melaksanakan ibadah salat sama sekali. Bagi orang yang kebetulan tinggal bersama anggota keluarga atau teman seperti ini tentunya akan bimbang antara pilihan membangunkan mereka saat itu juga atau membiarkan saja sampai mereka bangun dengan sendirinya.

Bagi mereka yang bisa bangun sendiri nampaknya hal ini tidak menjadi persoalan, karena mereka masih punya kesempatan untuk melaksanakan ibadah salat di dalam waktunya. Akan tetapi bagaimana dengan mereka yang tidak bisa, apakah orang yang sudah bangun berkewajiban membangunkan mereka atau bagaimana? Apakah ketika yang bersangkutan baru bangun setelah waktu salat habis dan tidak sempat melaksanakan salat, dosanya ditanggung oleh orang yang sudah bangun duluan atau bagaimana? Beberapa pertanyaan tersebut akan dibahas dalam tulisan yang sederhana ini, insyaAllah.

Tertidur dalam Salat, Apakah Salat Jadi Batal.?



Sebagaimana yang sudah dijelaskan pada tulisan sebelumnya bahwa ketika seseorang sangat mengantuk di saat akan melaksanakan salat, maka ia dianjurkan untuk tidur terlebih dahulu sekedar untuk menghilangkan rasa kantuk yang dapat menciderai kualitas salatnya. Hal ini berdasarkan hadis-hadis sahih riwayat Imam al-Bukhari dan Muslim yang bersumber dari Sayyidah Aisyah dan Saydina Abi Hurairah. Hal itu diperbolehkan hanya untuk menjaga kualitas salat dengan syarat salat tersebut tetap dikerjakan di dalam waktunya dan rasa kantuk yang muncul benar-benar datang secara alamiah tanpa disengaja atau dibuat-buat sebelumnya.

Akan tetapi, meskipun Rasulullah Saw menganjurkan hal seperti itu, tetap saja ada di antara umat Islam yang mengantuk ataupun bahkan yang tertidur tatkala melakukan ibadah salat -terlepas apakah itu merupakan bagian dari tipu daya setan atau murni kondisi kesehatan seseorang-. Parahnya lagi ketika yang bersangkutan menjadi imam yang diikuti oleh beberapa orang makmum di belakangnya. Bisa dibayangkan betapa riuhnya situasi ketika sang imam tertidur dalam salatnya sedangkan para makmumnya tetap menunggu sekalipun dengan perasaan yang penuh kebimbangan antara meneruskan atau memutuskan jamaah/salatnya.

Celana Cingkrang dan Tradisi Kenabian



Salah satu di antara persoalan yang menyulut kontroversi di kalangan umat Islam saat ini adalah persoalan isbal atau menjulurkan pakaian hingga melebihi mata kaki. Sebagian kalangan dari umat ini menyuarakan keharaman pakaian tersebut. Mereka berdalih bahwa orang yang isbal telah melanggar aturan agama atau tepatnya telah menyalahi sunah Rasulullah Saw. Menurut mereka, Rasulullah Saw sangat melarang umatnya untuk berpakaian melebihi mata kakinya. Sementara itu, bagi umat Islam yang sudah terbiasa dengan pakaian di bawah mata kaki merasa kaget dan tidak menyangka sama sekali kalau model berpakaian mereka ternyata masuk dalam wilayah agama. Padahal tidak sedikit dari mereka yang berpakaian seperti itu hanya berniat untuk kenyamanan semata-mata.

Memang benar, sangat banyak hadis-hadis Nabi yang berbicara terkait dengan persoalan tersebut. Misalnya saja sebuah riwayat yang terekam baik oleh Imam al-Bukhari dan al-Nasa’i dalam kitab-kitab mereka yang bersumber dari Saydina Abu Hurairah di mana ia pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Pakaian yang melebihi dua mata kaki tempatnya adalah di neraka”. Begitu juga dengan hadis sahih riwayat Ahmad yang juga berasal dari Abu Hurairah di mana beliau mendengar Rasulullah berkata bahwa, “Allah tidak akan melihat pada hari kiamat kepada orang yang menjulurkan pakaiannya (hingga di bawah mata kaki)”. Kedua hadis di atas (tanpa membandingkannya dengan hadis lain) menjadi dalil kuat atas keharaman isbal menurut kalangan yang mengharamkannya.

Tradisi “Mendarahi Rumah” dan Doa Simbolik

Salah satu tradisi yang berkembang secara turun-temurun dari dulu hingga sekarang di daerah Minangkabau, Sumatera Barat adalah budaya “mendarahi rumah”. Biasanya tradisi ini dilakukan setelah pembangunan rumah sampai ke tahap penyelesaian akhir (finishing), yaitu pada saat tiang tuo (inti) dan kudo-kudo (kerangka) atap rumah selesai didirikan. Setelah itu, sang pemilik rumah menyembelih seekor ayam jago lalu darahnya diedarkan ke seluruh tiang-tiang dan kerangka atap rumah tersebut. Kemudian ayam tadi dimasak dan dimakan bersama-sama sambil memanjatkan doa-doa kebaikan agar rumah yang sedang dibangun diberi kenyamanan dan keberkahan oleh Allah Swt.
          
Selain itu, pada tiang tuo (inti) rumah, digantungkan beberapa jenis tumbuhan seperti tunas kelapa, pisang raja, buah pinang, dan juga daun sirih. Tumbuh-tumbuhan tersebut digantung selama beberapa hari dan baru akan diturunkan ketika pemasangan kerangka atap selesai semua atau pada saat tukang akan memasang atap rumah. Begitu juga pada saat rumah selesai dibangun, diadakan doa bersama dalam rangka syukuran atas karunia Allah kepada si pemilik rumah. Tidak jarang sebelum doa dibacakan oleh sang ustadz, tuan rumah membakar kemenyan terlebih dahulu. Kemudian setelah semua disiapkan, sang ustadz pun mulai berdoa sesuai dengan permintaan tuan rumah. Lalu acara diakhiri dengan makan bersama.

Kyai-ku, Kyai-mu, dan Kyai Kita; Sebuah Refleksi Terhadap Perjuangan Kyai Ali Mustafa Yaqub (1952-2016)


Wisuda Darus-Sunnah 2014

Sudah banyak berita, informasi, obrolan, serta kenangan tertumbah ruah di berbagai media terkait kiai yang satu ini. Kiai yang andai tulisan ini tidak saya tulis sekalipun, tidak akan mengurangi kebesaran beliau sebagai seorang ulama pembela hadis dan sunah Nabi. Seorang kiai nan arif bijaksana yang sampai marahnya pun tidak membuat hati kesal serta hardikannya pun tidak lantas membuat diri ini dongkol kepadanya. Beliaulah Ali Mustafa Yaqub yang hari ini telah dipanggil oleh Sang Kekasih, Allah Swt untuk menghadap keharibaan-Nya. Kepergian yang begitu cepat dan tidak disangka-sangka sebelumnya.

Sebagai murid (meskipun hanya pengakuan sepihak), jujur dari lubuk hati yang paling dalam, saya merasa kehilangan yang mendalam saat mendengar berita kepulangan beliau. Meskipun interaksi saya dengan beliau tidak terlalu intens, tapi entah kenapa gaya berpikir dan analisa-analisa beliau terkait ajaran agama sejalan dan mudah diserap oleh pikiran saya. Dan bahkan (kalau harus jujur) banyak tulisan-tulisan “sampah” yang pernah saya tulis seputar kajian keislaman terinspirasi dan disadur dari pikiran serta buku-buku karangan beliau.

Cara Memahami Hadis yang Diskriminatif


Doktrin Islam sebagai agama yang cinta damai kembali terusik. Aksi teror yang terjadi di jalan Thamrin bulan kemaren kembali disangkutpautkan dengan Islam. Hal tersebut ditambah lagi dengan beberapa data yang diungkap oleh pihak berwenang yang meneguhkan bahwa pelakunya adalah seorang muslim. Pertanyaannya sekarang adalah, apakah ini sandiwara -meminjam bahasa Kyai Ali Mustafa Ya’qub dalam sebuah tulisannya- dalam rangka mendiskreditkan Islam ataukah sikap tersebut memang tergolong sebagai salah satu karakteristik ajaran Islam yang membuatnya harus dikritik -meminjam bahasa Ulil Abshar Abdalla dalam bukunya Menyegarkan Kembali Pemikiran Islam?-
           
Sudah jamak diketahui bahwa Islam merupakan agama cinta yang diturunkan sebagai rahmat untuk alam semesta. Ia diturunkan bukan hanya untuk umat Islam semata, akan tetapi untuk manusia secara merata. Firman Tuhan dan sabda Rasul-Nya sudah banyak dikutip oleh para peneliti dalam rangka membuktikan fakta tersebut, akan tetapi entah kenapa para manusia bermental teroris selalu saja mendapat celah dari beberapa doktrin Islam yang bersifat tentatif dan kondisional menjadi dasar atas gerakan mereka. Iming-iming pahala jihad dan sorga telah mendorong mereka untuk melakukan perbuatan konyol tersebut.

Kajian Hadis Kebolehan Perempuan Menjadi Imam Salat



Sudah menjadi pengetahuan dharūri di kalangan kita warga Tarbiyah Islamiyah ketika membaca literatur fikih, khususnya dalam persoalan imāmah al-shalāh, bahwa orang yang sah menjadi imam salat hanyalah laki-laki. Sejak dari kitab fikih terkecil seperti Matan Abī Suja’, Fath al-Qarīb, Fath al-Mu’in, I’ānah al-Thālibīn, sampai kepada kitab fikih yang agak besar seperti Hāsyiyah al-Qalyūbi wa ‘Umayrah li Minhaj al-Thālibin dan lain sebagainya juga mengajarkan bahwa hanya laki-laki yang boleh menjadi imam.

Bahkan dalam kitab al-Umm karya Imam Syāfi’i sendiri disebutkan bahwa seandainya ada seorang perempuan mengimami segolongan kaum yang terdiri dari laki-laki, perempuan, dan anak laki-laki, maka salat para makmum perempuan adalah sah, sedangkan salat para makmum laki-laki dan anak laki-laki tidak sah. Hal itu menurut Imam Syāfi’i karena Allah Swt menjadikan laki-laki sebagai pemimpin untuk perempuan. Selain itu, Allah Swt juga tidak menjadikan perempuan sebagai wali dan lain-lain. Serta perempuan dalam keadaan bagaimanapun tidak boleh menjadi imam salat untuk makmum laki-laki.

Belajar dari Setan



Seorang kawan bercerita tentang keheranannya terhadap jawaban Prof. Quraisy Shihab ketika ditanya oleh seorang mahasiswanya terkait bolehkah kita sebagai umat Islam mengambil ilmu kepada orientalis. Kawan ini menuturkan, “Beliau (Prof. Quraisy Shihab) menjawab, “bagaimana pendapat Anda kalau setan mengajarkan sebuah kebaikan untuk Anda, maukah Anda mengikutinya.?”. Si mahasiswa yang bertanya itu pun diam sembari berpikir dan menganalogikan jawaban tersebut agar sesuai dengan pertanyaannya. Akhirnya dia menyimpulkan bahwa jangankan dengan orientalis, dengan setan sekalipun jika ia mengajarkan sebuah kebaikan kita diperbolehkan untuk mengikutinya.
           
Ilustrasi singkat di atas mengingatkan kita kepada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya. Riwayat tersebut menceritakan kisah seorang pencuri yang menyusup ke sebuah lumbung zakat yang disiapkan untuk kaum muslimin pada bulan Ramadan. Selama dua malam berturut-turut pencuri tersebut melakukan aksinya, mencuri bahan-bahan makanan yang terdapat dalam lumbung yang pada malam itu kebetulan tengah dijaga oleh Sahabat Abu Hurairah. Abu Hurairah berhasil menangkapnya, akan tetapi saat ia akan melaporkannya kepada Rasulullah, pencuri tersebut berdalih kalau perbuatan tersebut terpaksa dia lakukan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya yang sedang kelaparan dan ia berjanji untuk tidak akan mengulanginya lagi.

Hikayat-hikayat Tentang Imam Sibawaihi



Kitab Tentang Sibawaihi
Siapa yang tidak kenal dengan sang ilmuwan Nahu yang satu ini. Namanya begitu harum dikalangan para ahli bahasa dan sangat familiar sebagai seorang yang ahli dalam ilmu tatabahasa Arab khususnya dalam Fan Ilmu Nahwu. Beliau mempunyai sejarah hidup yang sangat menakjubkan, terlebih dalam perjalanan intelektualnya menggeluti bidang gramatika arab itu. Beliau mempunyai guru yang bernama Imam Khalil bin Ahmad al-Farahidi, seorang yang sangat alim dalam bidang Nahu sekaligus pencipta ilmu A’ruud (ilmu timbangan syiir) yang populer itu. Imam Khalil juga dikenal sebagai pengarang kitab al-A’in, kitab/ kamus bahasa Arab pertama yang muncul di permukaan bumi. Sibawaihi berguru kepada Imam Khalil selama beberapa tahun lamanya bersama seorang teman seperguruannya yang bernama Asmu’i. Sibawaihi adalah seorang yang sangat jenius, terbukti dalam beberapa kesempatan beliau pernah berdebat sengit dengan gurunya dan tak jarang Imam Khalil dibuat kewalahan oleh muridnya yang satu itu.

صاحب الكتابة

Foto saya
Bukittinggi, Agam, Indonesia
Seorang pelajar yang tengah berkontemplasi dalam pencarian jatidiri dan ilmu pengetahuan, walau hingga saat ini ilmu yang dia harapkan terasa masih dangkal dan jauh dari kesempurnaan. Dia lahir pada hari Kamis pagi, tanggal 22 Februari 1990 atau bertepatan dengan 26 Rajab 1410 Hijriah. Diberi nama dengan Yunal Isra bin Syamsul Bahri dan biasa dipanggil dengan sebutan Yunal/Isra/Inal. Pendidikan pertama yang pernah dijalaninya adalah Pendidikan TK pada tahun 1996, kemudian dilanjutkan ke SD 01 Baso dan tamat pada tahun 2002. Setelah itu memutuskan untuk fokus mendalami ilmu-ilmu keislaman di MTI Canduang dan tamat pada tahun 2009. Setahun kemudian ia meneruskan petualangan intelektualnya di program S1 Fakultas Dirasah Islamiyyah UIN Syarif Hidayatullah dan Darus-Sunnah International Institute For Hadith Sciences Jakarta. Berharap semoga bisa menjadi orang yang bermanfaat untuk manusia lain dan diredoi orang tua dan tuhannya, amien.! Fokus kajiannya sekarang "al-Muhaafazhah A'la al-Qadiimi al-Shaalih, wa al-Akhdzu bi al-Jadiidi al-Ashlah".

Terima kasih atas kunjungannya.........!!!!!!

نحمدك اللهم منزل الآيات تبصرة لأولى الألباب ورافع الدلالات عبرة لتزيل بها عن القلوب الحجاب ونشكرك شرعت الحلال والحرام وأنزلت الكتاب وجعلته هدى لكل خير يرام ونصلى ونسلم على سيدنا محمد المؤيد من الله بأجلى النيرات والساطع نوره في أفق الهداية بما يزيح الريب والمدلهمات وعلى آله خير آل وأصحابه ومن لهم مقتف أوموال