Sebagaimana yang diketahui bahwa zakat merupakan salah satu di
antara rukun Islam yang wajib dikeluarkan oleh setiap muslim yang diberi
kelebihan harta oleh Allah SWT. Selain bertujuan untuk menyucikan diri para muzakki
(orang yang berzakat) sebagaimana dijelaskan dalam Surah al-Taubah ayat 103,
zakat juga mempunyai hikmah dan tujuan untuk membantu mereka yang berkekurangan
dari segi ekonomi sehingga mampu menjalankan aturan-aturan agama tanpa harus takut
terhadap bayang-bayang kemiskinan. Begitu kira-kira al-Jurjani menjelaskan
hikmah zakat dalam karyanya Hikmah al-Tasyri’ wa Falsafatuhu.
Tampilkan postingan dengan label Telaah Hadis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Telaah Hadis. Tampilkan semua postingan
Kajian Takhrij dan Sanad Hadis “Anjuran untuk menyegerakan Amal Saleh”
Redaksi Hadis.
بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ سَبْعًا، هَلْ تَنْتَظِرُونَ
إِلاَّ مَرَضًا مُفْسِدًا أَوْ هَرَمًا مُفَنِّدًا أَوْ غِنًى مُطْغِيًا أَوْ فَقْرًا
مُنْسِيًا أَوْ مَوْتًا مُجْهِزًا أَوِ الدَّجَّالَ فَشَرُّ غَائِبٍ يُنْتَظَرُ أَوِ
السَّاعَةَ فَالسَّاعَةُ أَدْهَى وَأَمَرُّ.
Artinya : Waspadalah dari tujuh hal berikut (yang) manakala ia
datang maka tidak ada lagi kesempatan bagimu untuk beramal saleh! Yaitu
penyakit parah, tua bangka, kekayaan yang membuat lalim, kemiskinan yang
membuat lupa diri, mati secara tiba-tiba, kemunculan Dajjal sebagai makhluk
jahat yang paling ditunggu-tunggu, atau kiamat yang sangat mengerikan.
Hadis tersebut diriwayatkan oleh beberapa ahli hadis dengan redaksi
yang cukup beragam. Redaksi yang serupa dengan teks di atas terdapat dalam
kitab al-Dhu’afa al-Kabir karya al-‘Uqaili. Sementara itu redaksi lain
yang hampir mirip dan semakna diriwayatkan oleh al-Tirmidzi dalam Sunan-nya,
al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman, Ibn ‘Adi dalam al-Kamil fi Dhu’afa
al-Rijal, al-Hakim dalam Mustadrak-nya, dan al-Thabarani dalam Mu’jam
al-Ausath-nya. Semua riwayat ini menjadi tawabi’ terhadap riwayat
al-Uqaili yang penulis tetapkan sebagai nash al-hadits (riwayat utama)
dalam penelitian ini. Namun penulis -dengan segala kekurangannya- tidak
menemukan syahid yang cocok serta sesuai dengan hadis ini, kesimpulan
serupa juga ditegaskan oleh al-Albani dalam salah satu komentarnya terhadap
kitab Riyadh al-Sholihin karya al-Nawawi terkait riwayat di atas.
Money Politics Perspektif Hadis Nabawi
Tidak lama lagi Negara kita akan menyelenggarakan pemilu 2014, namun dalam
pesta rakyat terbesar lima tahunan itu sering kali diwarnai oleh berbagai manuver
politik para aktivis parpol dalam rangka menaikkan popularitas partai mereka,
mulai dari mencuri start kampanye, membuat isu-isu negatif yang
mendiskreditkan lawan politiknya, hingga ke money politics (melakukan politik
uang), Ali Mustafa Yaqub menyebutnya dengan political money atau uang
politik. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimanakah pandangan Islam terkait fenomena
tersebut?
هل السجود أثناء سورة آلم السجدة في فجر يوم الجمعة سنة من النبي أو الإجتهاد من العلماء.؟
1. نص
الحديث
هناك الرواية التى
تتكلم عن هذه القضية، يعنى كما يلي :
حدثنا أبو بكر بن أبى شيبة حدثنا عبدة بن سليمان عن سفيان عن
مخول بن راشد عن مسلم البطين عن سعيد بن جبير عن ابن عباس أن النبى صلى الله عليه وسلم كان يقرأ فى صلاة الفجر يوم الجمعة الم تنزيل
السجدة وهل أتى على الإنسان حين من الدهر وأن النبى
صلى الله عليه وسلم كان يقرأ فى صلاة
الجمعة سورة الجمعة والمنافقين.[1]
Analisis Kritis terhadap Hadis Bolehnya Menyusui Orang Dewasa
Suatu ketika Sahlah binti Suhail mendatangi Nabi SAW seraya berkata “Wahai Rasul, saya merasakan aura kebencian yang timbul dari Abi Hudzaifah ketika Salim (mantan anak angkatnya) lalu lalang menemuiku”. Lantas Nabi menjawab “susuilah dia.!”. Kemudian Sahlah pun bertanya “bagaimana mungkin aku akan menyusuinya, padahal dia adalah seorang laki-laki dewasa.?”. Nabi tersenyum sembari menjawab “aku juga tahu bahwa dia adalah laki-laki dewasa (dalam arti kata lakukan saja apa yang aku katakan.!)”. Maka Sahlah menyusuinya (Salim). (HR. Ibnu Majah).
Langganan:
Postingan (Atom)
صاحب الكتابة
- Al-Dho'if Yunal Isra al-Fadany
- Bukittinggi, Agam, Indonesia
- Seorang pelajar yang tengah berkontemplasi dalam pencarian jatidiri dan ilmu pengetahuan, walau hingga saat ini ilmu yang dia harapkan terasa masih dangkal dan jauh dari kesempurnaan. Dia lahir pada hari Kamis pagi, tanggal 22 Februari 1990 atau bertepatan dengan 26 Rajab 1410 Hijriah. Diberi nama dengan Yunal Isra bin Syamsul Bahri dan biasa dipanggil dengan sebutan Yunal/Isra/Inal. Pendidikan pertama yang pernah dijalaninya adalah Pendidikan TK pada tahun 1996, kemudian dilanjutkan ke SD 01 Baso dan tamat pada tahun 2002. Setelah itu memutuskan untuk fokus mendalami ilmu-ilmu keislaman di MTI Canduang dan tamat pada tahun 2009. Setahun kemudian ia meneruskan petualangan intelektualnya di program S1 Fakultas Dirasah Islamiyyah UIN Syarif Hidayatullah dan Darus-Sunnah International Institute For Hadith Sciences Jakarta. Berharap semoga bisa menjadi orang yang bermanfaat untuk manusia lain dan diredoi orang tua dan tuhannya, amien.! Fokus kajiannya sekarang "al-Muhaafazhah A'la al-Qadiimi al-Shaalih, wa al-Akhdzu bi al-Jadiidi al-Ashlah".
Terima kasih atas kunjungannya.........!!!!!!
نحمدك اللهم منزل الآيات تبصرة لأولى الألباب ورافع الدلالات عبرة لتزيل بها عن القلوب الحجاب ونشكرك شرعت الحلال والحرام وأنزلت الكتاب وجعلته هدى لكل خير يرام ونصلى ونسلم على سيدنا محمد المؤيد من الله بأجلى النيرات والساطع نوره في أفق الهداية بما يزيح الريب والمدلهمات وعلى آله خير آل وأصحابه ومن لهم مقتف أوموال