![]() |
Wisuda Darus-Sunnah 2014 |
Sudah banyak berita, informasi, obrolan, serta kenangan tertumbah
ruah di berbagai media terkait kiai yang satu ini. Kiai yang andai tulisan ini
tidak saya tulis sekalipun, tidak akan mengurangi kebesaran beliau sebagai
seorang ulama pembela hadis dan sunah Nabi. Seorang kiai nan arif bijaksana
yang sampai marahnya pun tidak membuat hati kesal serta hardikannya pun tidak
lantas membuat diri ini dongkol kepadanya. Beliaulah Ali Mustafa Yaqub yang
hari ini telah dipanggil oleh Sang Kekasih, Allah Swt untuk menghadap
keharibaan-Nya. Kepergian yang begitu cepat dan tidak disangka-sangka
sebelumnya.
Sebagai murid (meskipun hanya pengakuan sepihak), jujur dari lubuk
hati yang paling dalam, saya merasa kehilangan yang mendalam saat mendengar
berita kepulangan beliau. Meskipun interaksi saya dengan beliau tidak terlalu
intens, tapi entah kenapa gaya berpikir dan analisa-analisa beliau terkait ajaran
agama sejalan dan mudah diserap oleh pikiran saya. Dan bahkan (kalau harus
jujur) banyak tulisan-tulisan “sampah” yang pernah saya tulis seputar kajian
keislaman terinspirasi dan disadur dari pikiran serta buku-buku karangan
beliau.
Alhamdulillah, selama kurang lebih empat tahun lamanya
diri ini pernah ditatar dan ditempa oleh “tangan kreatif” beliau di
Darus-Sunnah. Sebuah pesantren yang menjadi surganya para pemulung ilmu dan
pengetahuan seputar hadis dan ilmu-ilmunya. Penjelasan dan
pertanyaan-pertanyaan simpel namun menjebak menjadi menu “sarapan pagi” kami
setiap pagi Senin dan Kamis bersama beliau kala itu. Ratusan dan bahkan ribuan
petuah unik nan ilmiah sudah berseliweran di telinga ini dari mulut beliau,
meskipun tidak semuanya terekam baik oleh pikiran.
Satu di antara hal unik yang masih teringat hingga sekarang adalah
saat pertama kali belajar dengan beliau pada tahun 2010 silam. Waktu itu saya belum berstatus
apa-apa di Darus-Sunnah, tidak tamu, bukan juga mahasantri, apalagi keluarga
beliau. Bisa dibahasakan waktu itu saya tidak lebih dari seorang penyusup yang
menyelinap ke sebuah majelis pengajian tanpa seizin pemilik majelis.
“Penyelinapan” itu saya lakukan karena didorong oleh rasa penasaran yang sudah
lama saya pendam ketika mendengar kealiman beliau dengan pesantren
Darus-Sunnahnya.
Sebagai seorang yang dilahirkan dari kultur budaya yang berbeda,
saya mengira bahwa bertanya di sela-sela pemilik majelis sedang berbicara
merupakan suatu hal yang biasa. Dengan beraninya saya acungkan tangan sambil
bersuara agak keras memanggil beliau untuk menanyakan sebuah hal yang saya
anggap janggal dari keterangan beliau. Kalau saya tidak salah ingat, pada saat
itu beliau sedang menerangkan persoalan hukum membaca al-Fatihah bagi makmum
dalam salat jamaah atau hal yang terkait dengan persoalan tersebut.
Beberapa kali saya menyaut “Ya Syekh, urid al-sual”, tapi
tidak digubris oleh beliau dan malahan –kata teman yang di samping saya- beliau
meminta saya untuk diam terlebih dahulu. Akan tetapi, lucunya saya tidak
mendengarkan perkataan teman tersebut dan malahan saya mengira beliau tidak
mendengar panggilan saya. Akhirnya saya panggil beliau untuk ketiga kalinya
dengan nada yang tidak jauh berbeda dengan nada sebelumnya. Akhirnya dengan
suara yang agak keras “uskut” (diamlah.!), beliau pun menjawab sautan
saya. Sadar kalau apa yang saya lakukan kurang tepat, akhirnya saya bungkam dan
mencoba menata hati kembali untuk menahan rasa malu yang bersarang dalam hati
dari anggota majelis yang lain, Hehe.
Akan tetapi beberapa saat kemudian, setelah selesai menjelaskan,
dengan kearifannya, Kiai Ali mengarahkan pandangannya kepada saya sembari
menanyakan apa yang hendak saya tanyakan tadi. Akhirnya pertanyaan saya ulangi
(meskipun dengan suara bergetar dan suasana hati yang kurang nyaman) dan beliau
pun menjelaskan dengan baik tanpa menegur ataupun mempermalukan saya di tengah
teman-teman yang hadir saat itu. Sejak saat itu, saya mengenal beliau sebagai
seorang yang menghargai setiap pertanyaan, dari mana pun sumbernya.
Di kesempatan yang berbeda, kali ini setelah menjadi mahasantri
Darus-Sunnah, saya pernah disuruh berdiri oleh beliau karena mengira saya tidur
saat belajar. Padahal sebenarnya yang terjadi hanyalah saya agak sedikit
menekurkan kepala karena kebetulan kitab yang tengah dipelajari saya hamparkan
langsung di atas lantai sehingga membuat saya sedikit merunduk. Tiba-tiba
“prook”, sebuah bunyi pukulan meja agak keras mengejutkan saya hingga membuat
saya menegakkan kepala secara otomatis untuk melihat sumber suara tersebut.
Namun tiba-tiba saja kalimat “Qum anta” (berdirilah.!) terdengar
keras dan beliau arahkan kepada saya. Sadar akan isyarat tersebut, tidak ada
pilihan lain bagi saya kecuali mematuhi perintah beliau. Itulah hukuman berdiri pertama
dan terakhir kali yang pernah beliau hadiahkan kepada saya. Meskipun agak
sedikit kecewa, namun entah kenapa hati ini tidak merasa dongkol ataupun dendam
sedikitpun terhadap keputusan beliau, malahan saya menikmati hukuman tersebut
sebagai bukti perhatian beliau kepada seluruh murid-muridnya. Beliau tidak
ingin kalau murid-muridnya menyepelekan apalagi meremehkan proses pembelajaran.
Begitu juga dengan hukumun berdiri yang sempat beliau berikan
kepada jawara kamar mandi terkotor yang diadakan oleh divisi kebersihan
Darus-Sunnah kala itu. Lagi-lagi saya mendapat “hadiah” berdiri dari beliau
karena memperoleh anugerah sebagai ausakh al-hammam (kamar mandi
terkotor) dalam kompetisi tersebut. Sialnya lagi, saat itu yang disuruh berdiri hanya ketua kamar mandi
saja yang orangnya tidak lain dan tidak bukan adalah saya sendiri. Namun sekali
lagi hal tersebut tidak membuat saya dongkol terhadap keputusan beliau, malahan
saya semakin takjub atas perhatian beliau terhadap hal-hal sepele tapi mempunyai
pengaruh yang besar terhadap kehidupan, yaitu masalah kebersihan.
Tidak satupun kebijakan yang beliau terapkan di pesantren, kecuali
mempunyai hikmah dan filosofi-filosofi khusus dibaliknya. Beliau sangat tidak
suka dengan kekotoran. Beliau sangat benci dengan sikap santri yang kurang
perhatian terhadap pelajarannya. Hal tersebut terbukti dari ketegasan beliau
dalam memberikan izin libur kepada seluruh mahasatri kecuali dengan uzur yang
benar-benar syar’i. Beliau tidak segan-segan mengeluarkan mahasantri yang
terang-terangan menambah liburan dari ketentuan yang sudah ditetapkan, meskipun
hanya satu hari saja. Sebuah kebijakan yang agak keras tapi hakikatnya penuh
dengan nilai kasih sayang.
Selanjutnya saya ingin menegaskan di sini bahwa beliau juga seorang
ulama yang mempunyai kepedulian sosial yang tinggi. Sudah berkali-kali beberapa
orang dari dewan pengajar Darus-Sunnah mengajukan usulan untuk membuat sebuah
kantin lengkap yang akan memfasilitasi seluruh kebutuhan mahasantri di dalam
pondok kepada beliau, sehingga mereka tidak perlu lagi keluar pondok untuk
membeli berbagai alat kebutuhan tersebut. Namun usulan tersebut belum beliau
perkenankan karena bagi beliau kehadiran pesantren harus memberikan manfaat
untuk masyarakat sekitar. Beliau merasa kasihan terhadap para pedagang yang ada
di sekitar pondok yang pasti akan kehilangan pelanggan dengan keberadaan kantin
tersebut, “Lantas di mana peran pesantren buat masyarakat?” sebagai
jawaban dari usulan tersebut.
Berdasarkan cerita di atas, saya yakin dan percaya bahwa beliau pantas
untuk disebut sebagai sebagai seorang ulama sekaligus intelektual abad ini yang
mempunyai banyak pengaruh terhadap masyarakat, bangsa, dan negaranya. Beliau
menghimpun ilmu agama dan sosial secara sekaligus sehingga tidak ada istilah
diskriminasi ilmu dalam kecamata beliau. Setiap ilmu pasti bermanfaat,
sekalipun ilmu yang berasal dari barat sekalipun seperti bahasa Inggris dan
lain-lain. Hal itu terbukti dengan kemampuan beliau dalam menguasai bahasa arab
dan inggris secara bersamaan tanpa membedakan yang satu dari yang lainnya.
Meskipun hari ini beliau sudah meninggalkan kita semua, namun semangat
dan cita-cita beliau akan selalu hidup ditengah-tengah jiwa dan pikiran para
muridnya. Tidak ada istilah “kiamat” untuk pesantren Darus-Sunnah hingga Allah
sendiri yang menjadikan kiamat sebagai akhir dari segala yang ada. Selamat
jalan duhai guru mulia, semoga arwahmu tenang di alam sana sesuai dengan
janji-janji Allah dan Rasul-Nya kepada setiap mereka yang istikamah dalam memperjuangkan
agama-Nya. Semoga kami bisa menjadi penerus cita-citamu. Amien.!!
اللهم اجعلنا
بدلا منه في العلم والمعرفة. آمين.!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon kritik dan sarannya.!