Ngaji Posonan Kajen (Bagian 2)

Perjalanan menuju ke Kajen.
Setelah perencanaan matang, akhirnya rencana untuk ikut ngaji pasaran terealisasi juga. Penulis berangkat kesana dengan seorang teman yang bernama Ibnu Harist dengan sebuah bus Harianto dengan ongkos sekitar 140.000 rupiah. Dengan diantar oleh mobil pribadi keluarga Harist ke terminal bus Lebak Bulus, penulis awali perjalanan itu dengan menyimpan segudang rasa penasaran di hati. Semoga saja natinya penasaran yang penulis rasakan dapat terobati setelah mengikuti ngaji pasaran tersebut. Amien..!! Perjalanan ke Pati menghabiskan waktu kurang lebih 12 jam yaitu dari jam 5 sore sampai jam 5 subuh dengan melewati berbagai kota-kota besar di sepanjang daerah Jawa Tengah seperti Karawang, Cikampek, Subang, Indramayu, Cerebon, Glosari, Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, Kendal, Semarang, Waleri, Demak, dan Kudus, hingga akhirnya sampai di Kabupaten Pati tempat tujuan penulis.

Ngaji Posonan Kajen (Bagian 1)

Berawal dari rasa penasaran.         
Setelah membaca beberapa halaman buku “fiqih sosial” buah pikiran Kiai Sahal Mahfudz (seorang ulama yang berasal dari daerah Kajen, Kec. Margoyoso, Kab. Pati Jateng), penulis merasakan suatu nuansa yang berbeda dari biasanya. Yaitu adanya semangat baru untuk bisa meningkatkan dan merubah image pesantren yang selama ini dinilai oleh segelintir orang sebagai tempat orang-orang yang ortodok, tradisional, berfikiran sempit serta berwawasan dan pengetahuan sosial yang kurang memadai menjadi suatu tempat “produksi” para penggagas pembaharuan dan pemberi sumbangsih serta manfaat terhadap kemanusian sebagaimana yang telah dibuktikan oleh para ulama/kiai pada masa lalu. Sehingga pesantren sekarang tidak hanya dipahami sebagai suatu lembaga yang hanya berbicara mengenai kehidupan akhirat saja, tanpa mau tau dengan kondisi sosial masyarakat dan perubahan zaman yang ada disekelilingnya.

Pra Kuliah (bagian 5)

Mengikuti Test UIN tahun 2009
Beberapa hari setelah itu, penulis mengikuti test mandiri UIN bersama Hengki Ferdiansyah. Test itu tetap penulis ikuti mengingat penulis telah membayar uang pendaftaran beberapa minggu sebelumnya sebesar kurang lebih 200 ribu dengan pilihan prodi 1 Fakultas Dirasat Islamiyah dan prodi 2 jurusan Tafsir Hadist di Fakultas Ushuluddin. Walaupun telah positif ke Azhar tapi penulis tetap mengikuti ujian tersebut dengan serius dan berharap lulus dengan nilai yang memuaskan. Karena bagi penulis test apapun harus diikuti dengan serius walaupun nantinya penulis tidak mengambilnya. Hasilnyapun alhamdulillah menggembirakan, pas pada saat pengumuman kelulusan diposting di situs UIN, penulis dinyatakan lulus bersamaan dengan Hengki yang juga dinyatakan lulus pada test tersebut dan pada fakultas yang sama yaitu fakultas hasil promosi bg Ashfi, senior penulis tahun 2005 itu.hehe. Akan tetapi penulis tidak sempat mengikuti test masuk Pesantren Darussunnah, karena pada saat test tersebut berbarengan dengan jadwal kepulangan penulis ke kampung halaman kembali, dengan agenda menunggu berita keberangkatan dari pihak Kedubes dan sekaligus mempersiapkan bekal-bekal yang lain, kalau-kalau keberangkatan kami sesuai dengan jadwal yang telah diberitahukan oleh mediator yaitu buk Sri Sabbahatun pada bulan oktober yang akan datang. 

Pra Kuliah (bagian 4)

Hari Perjuangan Kembali Dimulai
Hari pemberangkatanpun tiba, beberapa orang dari keluarga dan tetangga penulis melepas keberangkatan penulis ke Jakarta. Mulai dari jama’ah mushalla Nurul Umum yang kebetulan menjadi lahan praktek ilmu penulis selama kurang lebih 7 tahun lamanya, kemudian nenek penulis, baik dari pihak bapak ataupun ibu dan keluarga-keluarga lainnya. Penulis sangat terharu dengan ceremonial pelepasan penulis waktu itu, seakan-akan bak seorang pejuang yang dilepas oleh anggota keluarganya untuk berjuang dijalanNya. Terharu, itulah kata-kata yang dapat penulis gambarkan saat itu, walaupun kalimat tersebut tidak bisa mewakili seluruh perasaan yang bercampur aduk memenuhi relung hati dan otak penulis. Akan tetapi semua penghargaan, sanjungan, dan sokongan dari seluruh keluarga dan masyarakat tersebut penulis jadikan saja sebagai sebuah tali pelicut semangat untuk nantinya bisa mempersembahkan suatu yang terbaik buat mereka semua. Aku ada lantaran kalian..!! Wujudkanlah cita-cita hamba ya Rabb..amien..!!

Pra Kuliah (bagian 3)

Bahagia yang bercampur Kesedihan         
Dibalik kebahagian kami yang sebagian besarnya dinyatakan lulus dalam ujian, terselip suatu kesedihan yang seakan mengurangi kemenangan pada hari itu. Apa gerangan yang terjadi..??, yaitu salah seorang teman kami yang telah menginspirasi kami untuk terus giat dan rajin belajar yang bernama Eka Saputra mendapat kenyataan yang berbeda dengan kami. Dia dinyatakan tidak lulus dalam ujian nasional yang diadakan kurang lebih satu bulan yang lalu itu. Walaupun dalam ujian pondok, dia lulus dengan nilai yang lumayan memuaskan. Ketidaklulusan Eka otomatis membuat kami tidak terlalu mengobral tawa akibat kebahagian kami, namun kami mencoba untuk menghiburnya sehingga kesedihan dan kebagian menjadi larut dalam campur baur kekompakan kami pada hari itu. Kami hanya bisa menyarankan kepada Eka untuk bersegera mendaftarkan diri untuk mengikuti ujian nasional paket C yang akan diadakan pada minggu depannya lagi setelah perayaan ijazah pondok dilaksanakan. Akhirnya dia bersedia mengikutinya dengan semangat yang alhamdulillah lumayan besar, sehingga kami yang membantupun juga tidak sia-sia.

Pra Kuliah (bagian 2)

Cerita Bahagia dari Seorang Teman
Dibalik kekecewaan teman-teman yang merasa dirugikan pada test hari pertama tersebut, ternyata tidak dengan seorang teman kami yang bernama Eka Saputra. Beliau adalah teman angkatan penulis yang kebetulan mengalami kebutaan semenjak berumur 4 bulan lantaran terserang penyakit campak yang telah merenggut penglihatannya. Namun dengan semangat yang tinggi dan cita-cita yang besar akhirnya Allah memberikan suatu keberuntungan kepada beliau. Pada saat mengikuti test pada hari pertama tersebut (kebetulan Eka ditemani oleh kawan penulis juga yang bernama Leo Surya Sarli), Eka mendapat keistimewaan dari para penguji yang kebetulan juga merangkap sebagai dosen-dosen al-Azhar itu. Ketika mengetahui bahwa Eka adalah seorang tunanetra, para penguji tersebut terlihat salut dan bangga dengan kondisi dan semangat seorang Eka. Meskipun dia tidak bisa melihat secara normal, akan tetapi dia mempunyai modal semangat dan keinginan yang tinggi untuk menuntut ilmu ke Al-Azhar Mesir. Suatu prestasi yang jarang dimiliki oleh orang lain yang senasib dengannya. Akhirnya lantaran hal itu, Eka tidak di test sebagaimana teman-teman yang lain, akan tetapi dia langsung dinyatakan lulus test setelah mengadakan sedikit irterview langsung dengan Syekh Yahya, Kedubes Mesir untuk Indonesia pada saat itu.

Pra Kuliah (bagian 1)

Diapit oleh Beberapa Pilihan
Al-Azhar Mesir, yaa itulah sebuah universitas yang pernah menjadi tujuan kuliah penulis sejak beberapa tahun yang lalu. Tepatnya semenjak penulis berada di kelas 4 tsanawiyyah (pondok penulis bernama MTI Canduang, masa pendidikan tingkat tsanawiyyahnya adalah 4 tahun, dan aliyahnya 3 tahun). Hal itu bermula lantaran ke”iri”an penulis kepada 5 orang senior yaitu Bg Syahidin Pekal, Bg Anton, Bg Busri, Bg Arif, dan Bg Benyamin yang pada waktu itu dinyatakan lulus mengikuti test yang diadakan oleh Depag pusat melalui beberapa perwakilannya di seluruh Indonesia. Salah satu tempat yang dijadikan pusat test/ujian waktu itu adalah kampus IAIN Imam Bonjol Padang, kurang lebih 86 kilo dari pondok penulis. Mereka berhak melanjutkan pendidikannya ke universitas tersebut melalui jalur non beasiswa. “Betapa senangnya mereka, bisa melanjutkan pendidikan ke negeri para nabi” cetus penulis polos dalam hati waktu itu. Tapi memang dalam kenyataannya al-Azhar merupakan sebuah universitas tertua yang ada di dunia, banyak imam-imam besar yang dikenal lantaran kedalaman ilmunya pernah berkuliah di universitas tersebut. Daya tarik lainya adalah lantaran universitas tersebut bertempat di daerah dimana para nabi banyak yang di”dinas”kan kesana. Ditambah lagi, penulis perhatikan tuah mereka yang berangkat kesana sangat tinggi dan direspon sangat positif oleh masyarakat, walau ada juga sebagiannya yang berpandangan negatif. Itulah sedikit informasi yang penulis dapatkan waktu itu.

Hikayat-hikayat Tentang Imam Sibawaihi



Kitab Tentang Sibawaihi
Siapa yang tidak kenal dengan sang ilmuwan Nahu yang satu ini. Namanya begitu harum dikalangan para ahli bahasa dan sangat familiar sebagai seorang yang ahli dalam ilmu tatabahasa Arab khususnya dalam Fan Ilmu Nahwu. Beliau mempunyai sejarah hidup yang sangat menakjubkan, terlebih dalam perjalanan intelektualnya menggeluti bidang gramatika arab itu. Beliau mempunyai guru yang bernama Imam Khalil bin Ahmad al-Farahidi, seorang yang sangat alim dalam bidang Nahu sekaligus pencipta ilmu A’ruud (ilmu timbangan syiir) yang populer itu. Imam Khalil juga dikenal sebagai pengarang kitab al-A’in, kitab/ kamus bahasa Arab pertama yang muncul di permukaan bumi. Sibawaihi berguru kepada Imam Khalil selama beberapa tahun lamanya bersama seorang teman seperguruannya yang bernama Asmu’i. Sibawaihi adalah seorang yang sangat jenius, terbukti dalam beberapa kesempatan beliau pernah berdebat sengit dengan gurunya dan tak jarang Imam Khalil dibuat kewalahan oleh muridnya yang satu itu.

Pengalaman Gharib di Hari Jum’at


-->
Ketika membaca hikayat-hikayat Abu Nawas yang lucu dan sangat kocak itu, mungkin kita akan berfikir bahwa apa yang pernah beliau alami hanya khusus terjadi pada diri beliau saja. Dan bahkan mungkin ada sebagian kita yang meragukan keotentikan sebagian kisah-kisah lucu yang dinisbatkan kepada tokoh sufi yang bernama lengkap Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami itu. Betapa banyak kisah-kisah yang sangat berkesan telah dilakoni oleh Abu Nawas semasa hidupnya. Sebagaimana yang diketahui Abu Nawas dilahirkan pada tahun 145 Hijriah di daerah Ahvaz, Persia dengan bapak yang berasal dari Arab dan ibunya yang merupakan pribumi Persia. Beliau hidup berbarengan dengan masa kekhalifahan Harun al-Rasyid, khalifah yang sangat terkenal dari Bani Abbasiyyah. Dan tak jarang kisah-kisah lucu yang beliau goreskan dalam kehidupannya dibayang-bayangi oleh ketegangan dan ketegasan dari khalifah.

Membaca Diri.

Kalau boleh bercermin kepada ulama-ulama dahulu, maka siapa yang tidak akan salut dengan kehebatan Imam Syafi’I yang mampu menguasai ilmu secara mendalam khususnya fiqh dan ushulnya, walau seumur hidup beliau dijangkiti penyakit ambaien dan gula batu yang tak kunjung sembuh hingga beliau wafat. Begitu juga dengan imam al-Ghazali yang mampu menguasai hampir seluruh bidang keilmuan, padahal beliau hanya berasal dari keluarga yang sangat miskin sekali. Tidak kalah dengan beliau Imam Suyuthi yang hampir setiap fan ilmu, tidak ada yang luput dari karangannya (selain ilmu hisap/hitung yang menjadi satu kelemahan beliau). Begitu juga halnya dengan imam Nawawi yang tidak menikah seumur hidupnya lantaran kecintaannya terhadap ilmu mengalahkan syahwatnya untuk menikah, bahkan seperti yang dibahasakan Pak Said Agil al-Munawwar dalam sebuah pidatonya tentang sosok Imam Nawawi “al-‘Ilmu baina fakhizaihi” ilmu ibarat (istri) baginya, yaitu berada diantara kedua pahanya.

Masjid Sebagai Basis Pengentas Kemiskinan

 (Nau'dzubillah min haadza al-haal)

Pada kesempatan kali ini kita akan berbicara mengenai 3 poin penting yang menjadi substansi dari judul yang saya kemukakan diatas yaitu Masjid, Kemiskinan, dan apa sebenarnya korelasi diantara keduanya. Sebagai ummat yang ber-dien-kan islam tentu kita sama-sama tahu bahwa masjid merupakan suatu tempat yang sacral dan suci bagi kita. Sebagai tempat yang suci sudah barang tentu masjid hendaknya kita fungsikan sebagaimana mestinya sesuai dengan apa yang Rasulullah SAW contohkan ketika beliau menata kehidupan ummat Kota Madinah antara kaum Muhajirin, Anshar, dan Yahudi Madinah. 

Profil Syaikhuna Syekh Sulaiman Ar-Rasuli

Pesan Terakhir Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli :
 
"Teroeskan membina Tarbijah Islamijah sesoeai dengan peladjaran jang koeberikan..! Tjandoeng, 26 Djuli 1970, Sjech Soelaiman Ar-Rasoeli".   

Begitulah pesan terakhir ulama besar ini yang tertulis pada makamnya, di halaman pesantren salafiyah Madrasah Tarbiyah Islamiyah, Candung. Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli al-Minangkabawi atau Inyiak Canduang -begitu ia dijuluki- lahir di desa Candung, sekitar 10 km sebelah timur kota Bukittinggi, Sumatera Barat, 1287 H/1871 M. Ia adalah seorang tokoh ulama dari golongan Kaum Tuo (golongan ulama yang tetap mengikuti salah satu dari empat mazhab fikih) yang gigih mempertahankan ajaran Ahl al-Sunnah dalam masalah akidah dan fikih. Ayahnya bernama Angku Mudo Muhammad Rasul, adalah seorang ulama yang disegani di daerahnya ketika itu. Sedangkan ibunya, Siti Buliah, seorang wanita yang taat beragama.

Pendidikan
Ia yang dikenal oleh para muridnya dengan nama Maulana Syeikh Sulaiman, memperoleh pendidikan awal sejak kecil; terutama pendidikan agama langsung dari ayahnya. Selanjutnya ia belajar di pesantren Tuanku Sami' Ilmiyah di desa Baso, tidak jauh dari desanya. Setelah itu ia belajar kepada Syeikh Muhammad Thaib Umar di daerah Sungayang. Pada masa itu masyarakat Minang masih menggunakan sistem pengajian surau atau sistem salafiyah sebagai sarana transfer pengetahuan keagamaan. Kemudian ia belajar dari Syeikh Muhammad Thaib Umar ini Inyiak Canduang melanjutkan belajar agama pada Syeikh Abdullah Halaban.

Ritual Penyelenggaraan Jenazah

Pekuburan
Tahab-tahab penyelenggaraan jenazah.
A.Mentalqinkan seseorang ketika sakaratul maut.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika kita melepas orang yang akan meninggal dunia diantaranya:
1. Orang yang sekarat itu hendaknya dihadapkan kearah kiblat. Berdasarkan hadist riwayat Hakim dan Baihaqi.
2. Menurut kata yang aujah” disunatkan mentalqinkan mayat ketika sakaratul maut” dengan ucapan ”Lailaillah” karena ada khabar dari dari Imam Muslim dan hadist shohih :

لقنوا موتاكم لا اله الا الله رواه مسلم و الاربعة من كان اخر كلامه لااله الا الله دخل الجنه

3. Membacakan surat yasin. Berdasarkan hadist riwayat Abu Daud dan Nasai’

Bait Pentahsin Makharijul Huruf

Bait-bait ini penulis dapatkan dari seorang ustadz, sewaktu mengikuti program MDA (Madrasah Diniyyah Awwaliyyah) Tabek Lumpuah, Kec. Baso kira-kira 10 tahun yang lalu. Ust Jarnaini, itulah nama ust yang sedikit gemuk namun berparas putih bersih yang suaranya sangat penulis kagumi tersebut. Diantara ilmu-ilmu yang pernah beliau ajarkan kepada penulis dan teman-teman adalah ilmu nagham al-Qur'an (seni baca Al-Qur'an), ilmu Tajwid, Tartil dan Mujawwad.

Mungkin menurut sebagian orang bait-bait itu tidak penting dan tidak begitu dibutuhkan dalam upaya pembelajaran Al-Qur'an. Termasuk penulis sendiri sewaktu mengikuti program MDA dahulu juga menganggap bahwa pelajaran yang seperti ini tidaklah penting untuk dihafal atau diapresiasi secara intens. Akan tetapi sekarang penulis baru menyadari bahwa semudah dan sekecil apapun ilmu yang disampaikan oleh seseorang serta apapun jenisnya, suatu saat nanti pasti dibutuhkan dan akan bermanfaat. Kalau tidak sekarang, mungkin 10 atau 20 tahun yang akan datang pasti bermanfaat. Tidak hanya buat diri sendiri, bahkan juga terhadap orang lain.

Resensi Buku Wacana Ideologi Negara Islam

Nama Buku                 : Wacana Ideologi Negara Islam.
Pengarang                   : Al-Chaidar.
Harga Buku                : 10.000 Rupiah.
           
Buku dengan judul Wacana Ideologi Negara Islam karangan Al-Chaidar[1] ini pada dasarkan sangat menarik untuk dibaca. Pengarangnya mencoba untuk mengilustrasikan wacana pembentukan negara Islam yang pada saat ini masih menjadi bahan sorotan serta menjadi ajang perdebatan antara mereka yang pro dengan wacana tersebut dengan mereka yang kontra. Perdebatan itu bergerak ibarat bola salju yang semakin lama semakin membesar tanpa adanya titik temu yang jelas antara keduanya. Bagi pihak yang mendukung mereka beralasan bahwa penegakan Negara Islam Indonesia merupakan suatu hal yang sangat mungkin sekali, bahkan sangat mudah mengingat mayoritas warga Negara Indonesia adalah beragama Islam.

Jadal Mengenai Haid dan Hal-hal yang Terkait dengannya.

Berikut ini adalah debat yang rada-rada ilmiah yang pernah penulis lakoni didunia maya facebook, bersama senior penulis angkatan 2005 yang icon facebooknya bernama Ashfi Raihan, Ust Asril Aziz (guru penulis sewaktu mondok di MTI Canduang dahulu), Zamzami Saleh (senior penulis angkatan 2008 yang sekarang tengah melanjutkan pendidikannya di Univ al-Azhar Mesir), dan Buya Najwan A.Shamad. Maksud dari diskusi ini tidak lain hanya untuk mendiskusikan persoalan haid yang terkadang diabaikan oleh sebagian besar umat Islam, khususnya kaum hawa. Jadi penulis sajikan dalam bentuk tanyajawab yang insyaAllah bermanfaat. Penulis serahkan kesimpulannya kepada para pembaca, untuk mengambil ataupun menolak pendapat-pendapat yang disampaikan dalam forum ini..!!!

Berawal dari sebuah status yang dibuat oleh Kakanda Ashfi Raihan di group MTI Canduang yang berbunyi “Assalaamu 'alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh. Mengapa dalam hadis itu wanita nifas dan haid tidak disyari'atkan mengqadha shalatnya setelah suci? 'Illatnya pun tidak dijelaskan...” kemudian dari stetement tersebut muncullah perdebatan seperti dibawah ini :

Benarkah term Islam belum populer diawal-awal perkembangannya.?

"Ternyata term “Islam” yang dikenal sebagai nama sebuah agama, baru populer pada abad-abad ke-2/3 hijriah, yaitu setelah wilayah kekuasaan Islam itu meluas ke daerah-daerah diluar Arab” begitu gumam seorang teman kepadaku. Mendengar pernyataan tersebut secara refleks akupun angkat bicara lalu bertanya mengenai apa maksud dari pernyataan yang baru saja dia lontarkan itu. Kemudian dia mengambil sebuah tafsir Al-Qur’an berbahasa Inggris karya Muhammad Asad, dan membacakan teks seperti dibawah ini :

“Furthermore, one must beware of rendering, in each and very case, the religious terms used in the Quran in the sense which they have acquired after islam had become “institutionalized” into a definite set of laws, tenets, and practices. However legitimate this “institutionalized” may be in the context of Islamic religious history, it is obvious that the Quran cannot be correctly understood if we read it merely in the light of later ideological developments” yang artinya :

Pentingnya Kesholehan Sosial

Saleh dalam tinjauan kebahasaan merupakan kata serapan yang diadobsi dari bahasa Arab “shalihun” yang berarti baik atau bagus. Ibnu Manzur menerangkan secara panjang lebar tentang ma’na kata shalihun tersebut dalam mu’jamnya Lisanul Arabi. Dalam perspektif agama Islam, saleh sering diterjemahkan sebagai suatu bentuk ketaatan dalam menjalankan perintah agama. Namun seiring berjalannya waktu kata itupun mengalami penyempitan ma’na, sehingga seolah-olah hanya dipahami sebagai ketaatan yang bersifat vertikal semata. Dalam arti kata orang saleh itu adalah mereka yang menjalankan ibadah yang sifatnya individual saja, seperti shalat, puasa, haji dan lain-lain.

Pengarang tafsir “Adhwaau al-Bayaan fii Idhoohi al-Qur’an bi al-Qur’an” menjelaskan ada tiga kriteria sebuah amalan bisa dikategorikan sebagai amalan saleh. Yaitu apabila amalan itu sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, dikerjakan niat ikhlas karena Allah, dan amalan tersebut berlandaskan akidah yang benar. Apabila ketiga syarat tersebut telah terpenuhi, maka secara otomatis orang yang mengerjakannya akan disebut sebagai orang shaleh dan pekerjaannyapun akan dianggap sebagai amalan yang saleh. Akan tetapi manakala salah satunya luput, maka amalan tersebut dianggap lagho dalam artian tidak terklasifikasi sebagai amalan sama sekali.

Dialog Agama dengan Kebudayaan

Islam bukan semata-mata diinu al-aqidah wa al-syari’ah. Disamping itu Islam juga diinu al-ilmi wa al-tsaqafah, diinu al-adab wa al-hadhorah, diinu al-taqaddum wa al-Madaniyyah. Inilah yang menyebabkan Islam bisa diterima ditempat manapun, termasuk di bumi Nusantara. Seandainya Islam hanya difahami sebagai diinu al-a’qidah wa al-syariah semata, niscaya tidak banyak manusia yang mau memeluk agama Islam ini”(Said Agil Siradj).

Kutipan diatas cukup menarik untuk dikaji dan dianalisis secara mendalam. Substansinya berkaitan erat dengan wacana yang pernah dilontarkan oleh Sidi Gazalba mengenai kebudayaan. Dia disinyalir pernah menyatakan bahwa Islam tak lebih dari hasil kebudayaan semata sebagaimana halnya seni dan sains. Tak pelak ide Sidi tersebut dikritik oleh Faisal Ismail dalam bukunya “Paradigma Kebudayaan Islam”. Sebaliknya, dia berasumsi perlunya umat Islam membedakan antara Islam dengan kebudayaan yang muncul darinya. Penyamaan keduanya akan berimplikasi terhadap lenyapnya kesakralan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW itu.

Reinterpretasi Nalar Fiqih Kontemporer

Dalam suatu wawancara khusus kru Jurnal Nuansa dengan Jamal al-Banna, seorang pemikir prolifik kontemporer Mesir yang juga merupakan adik kandungnya Hasan al-Banna pendiri Ikhwanul Muslimin, mengatakan bahwa fiqih dan ushul fiqh itu bernilai baru ketika keduanya muncul dan relevan dengan zaman, manakala fiqh tersebut tidak lagi bisa menkounter fenomena-fenomena yang ada, maka fiqh itu disebut kuno/ klasik. pernyataan ini pada dasarnya merupakan wacana yang telah lama muncul dalam percaturan pemikiran hukum Islam, baik di Timur Tengah ataupun di Indonesia. Terutama persoalan sejauh mana fiqh dan ushul fiqh klasik itu bisa dijadikan sebagai referensi dalam menjawab seluruh fenomena-fenomena sosial yang muncul belakangan ini.

صاحب الكتابة

Foto saya
Bukittinggi, Agam, Indonesia
Seorang pelajar yang tengah berkontemplasi dalam pencarian jatidiri dan ilmu pengetahuan, walau hingga saat ini ilmu yang dia harapkan terasa masih dangkal dan jauh dari kesempurnaan. Dia lahir pada hari Kamis pagi, tanggal 22 Februari 1990 atau bertepatan dengan 26 Rajab 1410 Hijriah. Diberi nama dengan Yunal Isra bin Syamsul Bahri dan biasa dipanggil dengan sebutan Yunal/Isra/Inal. Pendidikan pertama yang pernah dijalaninya adalah Pendidikan TK pada tahun 1996, kemudian dilanjutkan ke SD 01 Baso dan tamat pada tahun 2002. Setelah itu memutuskan untuk fokus mendalami ilmu-ilmu keislaman di MTI Canduang dan tamat pada tahun 2009. Setahun kemudian ia meneruskan petualangan intelektualnya di program S1 Fakultas Dirasah Islamiyyah UIN Syarif Hidayatullah dan Darus-Sunnah International Institute For Hadith Sciences Jakarta. Berharap semoga bisa menjadi orang yang bermanfaat untuk manusia lain dan diredoi orang tua dan tuhannya, amien.! Fokus kajiannya sekarang "al-Muhaafazhah A'la al-Qadiimi al-Shaalih, wa al-Akhdzu bi al-Jadiidi al-Ashlah".

Terima kasih atas kunjungannya.........!!!!!!

نحمدك اللهم منزل الآيات تبصرة لأولى الألباب ورافع الدلالات عبرة لتزيل بها عن القلوب الحجاب ونشكرك شرعت الحلال والحرام وأنزلت الكتاب وجعلته هدى لكل خير يرام ونصلى ونسلم على سيدنا محمد المؤيد من الله بأجلى النيرات والساطع نوره في أفق الهداية بما يزيح الريب والمدلهمات وعلى آله خير آل وأصحابه ومن لهم مقتف أوموال