Salah satu tradisi yang berkembang secara turun-temurun dari dulu
hingga sekarang di daerah Minangkabau, Sumatera Barat adalah budaya “mendarahi rumah”. Biasanya tradisi ini dilakukan
setelah pembangunan rumah sampai ke tahap penyelesaian akhir (finishing),
yaitu pada saat tiang tuo (inti) dan kudo-kudo (kerangka) atap rumah selesai
didirikan. Setelah itu, sang pemilik rumah menyembelih seekor ayam jago lalu
darahnya diedarkan ke seluruh tiang-tiang dan kerangka atap rumah tersebut.
Kemudian ayam tadi dimasak dan dimakan bersama-sama sambil memanjatkan doa-doa
kebaikan agar rumah yang sedang dibangun diberi kenyamanan dan keberkahan oleh
Allah Swt.
Selain itu, pada tiang tuo (inti) rumah, digantungkan beberapa
jenis tumbuhan seperti tunas
kelapa, pisang raja, buah pinang, dan juga daun sirih. Tumbuh-tumbuhan tersebut
digantung selama beberapa hari dan baru akan diturunkan ketika pemasangan
kerangka atap selesai semua atau pada saat tukang akan memasang atap rumah.
Begitu juga pada saat rumah selesai dibangun, diadakan doa bersama dalam rangka
syukuran atas karunia Allah kepada si pemilik rumah. Tidak jarang sebelum doa
dibacakan oleh sang ustadz, tuan rumah membakar kemenyan terlebih dahulu. Kemudian
setelah semua disiapkan, sang ustadz pun mulai berdoa sesuai dengan permintaan
tuan rumah. Lalu acara diakhiri dengan makan bersama.

