Mana sebuah kemerdekaan

Sekitar 62 tahun yang lalu, masih terbayang didalam ingatan kita bagaimana Bangsa Indonesia ini telah berhasil merebut kemerdekaannya dari penjajahan bangsa kolinial Inggris dan Belanda yang telah berkuasa selama kurang lebih 3,5 abad ditanah ibu pertiwi ini. Kemerdekaan tersebut diperoleh bukanlah dengan cara yang mudah dan sebagai suatu hadiah dari Inggris kepada kita Bangsa Indonesia, namun kemerdekaan itu merupakan perjuangan yang membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit, baik itu pengorbanan disegi moril ataupun dari segi materil dari para pahlawan bangsa, dan yang paling penting diingat bahwa itu merupakan rahmat dan kurnia Allah yang sangat besar bagi Negara Indonesia yang sangat kita cintai ini.

Nah berbicara tentang kemerdekaan mungkin sebagian orang ada yang menginterpretasikannya dengan suatu kebebasan berbuat yang bersifat unifersal yang membuat seseorang bebas berbuat apapun sesuai dengan kehendak hatinya sendiri tanpa memandang kepada hak orang lain dan peraturan yang berlaku dinegeri tempat ia tinggal. Paham seperti ini tidak hanya terjadi dalam bidang duniawi saja namun sudah ada yang membawanya kedalam ruang lingkup agama, sehingga mereka merasa bebas dalam hidup tanpa berpikir bahwa pada suatu saat mereka akan kembali kepada Allah dan akan mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatan mereka selama hidup di dunia ini.

Pada saat ini kita mungkin bisa mengatakan bangsa kita telah merdeka, namun itu hanyalah dari pandangan lahiriah semata, karena kalau kita lihat secara batiniah Negara kita belumlah merdeka. Pada saat ini negara kita negara kesatuan republic Indonesia tengah menghadapi suatu penjajahan dengan model dan spekasi yang baru dan sangat berbeda dengan penjajahan pada tempo dulu. Kalau penjajahan dizaman dahulu mengutamakan fisik dan kekuatan namun pada saat ini penjajahan tersebut bersifat halus dan sangat besar pengaruhnya terhadap rakyat Indonesia itu sendiri khususnya lagi Umat Islam yang sebagian besar bermukim didaerah Indonesia ini.

Apa bentuk penjajahan tersebut …? Yaitunya penjajahan dalam bentuk kemerosotan moral dan dekadensi akhlak yang kian hari kian parah dikalangan umat Islam Indinesia. Umat Islam Indonesia pada saat ini sudah terpengaruh dengan budaya barat yang setiap hari semakin berkembang melalui berbagai media seperti media televisi, internet, facebook, dan media cetak berupa gambar-gambar yang tidak sesuai dengan budaya umat Islam. Lembaga-lembaga sensor film pada saat ini seolah-olah tidak berfungsi lagi karena mereka tidak bisa lagi mengklasifikasikan mana tayangan yang patut untuk ditayangkan dan mana tayangan yang tidak pantas untuk dipertontonkan.

Akhirnya mereka berkiblat penuh terhadap dunia barat dengan menanggalkan jatidiri mereka sebagai manusia yang berakhlak dan beradab pada mulanya. Nah diantara sekian banyak umat Islam yang telah terpengaruh dengan budaya barat tersebut maka sebagian besar mereka berasal dari kalangan remaja-remaja islam yang nantinya akan melanjutkan tongkat estafet dari golongan tua yang ada pada saat ini, cobalah kita bayangkan seandainya keadaan seperti ini tidak diantisipasi secara cepat dan terus berlanjut untuk beberapa tahun yang akan datang. Maka akan dikhawatirkan umat Islam beberapa tahun yang akan datang hanya tinggal nama saja lantaran tidak adanya orang yang akan melanjutkan perjuangan umat islam pada saat ini.

Mungkin peranan orangtua pada saat ini sangatlah diperlukan sekali sebagai filter bagi golongan remaja agar mereka tidak terlalu jauh meninggalkan peradaban islam yang seharusnya mereka pakai dan realisasikan dalam kehidupan sehari. Namun yang amat kita sayangkan lagi pada saat ini andaikata orang tua pada saat ini tidak lagi menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai orangtua, mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka sendiri dan membiarkan anak-anak mereka bebas bergaul sehingga anak berbuat dengan kehendaknya sendiri dan urangtuapun berbuat sesuai dengan kehendaknya sendiri, seolah-olah antara anak dengan orangtua tidak mempunyai hubangan sedikitpun. Nau’zubillah.

Remaja merupakan aset yang paling penting bagi agama dan negara, dengan baiknya remaja akan berakibat baiknya agama dan negara, namun apabila mental remaja saja gobrok dan jauh dari nilai-nilai Islami nah itu menyebabkan hancurnya sendi-sendi kehidupan beragama dan bernegara pada masa-masa yang akan datang. Sehingga karena begitu pentingnya remaja ini dalam agama dan negara, maka Allah melarang para orangtua untuk menyia-nyiakan remaja, khusus dalam kehidupan sosialnya sebagaimana firman Beliau dalam surah An-Nisa’ ayat 8 yang berbunyi “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”

Nah oleh sebab itu, remaja adalah tulang punggung negara, karena sekali lagi remaja hari ini akan menentukan bagaimana negara kita pada masa yang akan datang. Dan yang paling penting sekali adalah keadaan agama islam, sehingga kalau kita tidak ingin agama islam ini hanya tinggal nama semata-mata maka dalam momen 17 Agustus ini marilah kita perbaharui tekat dan semangat untuk meningkatkan segala potensi yang ada. Kita remaja mempunyai segalanya, kita punya kekuatan, kita punya otak, kita punya pikiran yang kuat dan badan yang sehat, mari kita katakan kepada mereka dibarat sana “ Antum rijal wa nahnu rijal” ( kamu laki-laki, kamipun laki-laki ). Dalam tanda kutip kita katakana “Tidak ada yang mustahil untuk kita wujudkan, karena kita punya segalanya” berjuanglah….!
Semoga bermanfaat…Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mohon kritik dan sarannya.!

Ada kesalahan di dalam gadget ini

صاحب الكتابة

Foto saya
Bukittinggi, Agam, Indonesia
Seorang pelajar yang tengah berkontemplasi dalam pencarian jatidiri dan ilmu pengetahuan, walau hingga saat ini ilmu yang dia harapkan terasa masih dangkal dan jauh dari kesempurnaan. Dia lahir pada hari Kamis pagi, tanggal 22 Februari 1990 atau bertepatan dengan 26 Rajab 1410 Hijriah. Diberi nama dengan Yunal Isra bin Syamsul Bahri dan biasa dipanggil dengan sebutan Yunal/Isra/Inal. Pendidikan pertama yang pernah dijalaninya adalah Pendidikan TK pada tahun 1996, kemudian dilanjutkan ke SD 01 Baso dan tamat pada tahun 2002. Setelah itu memutuskan untuk fokus mendalami ilmu-ilmu keislaman di MTI Canduang dan tamat pada tahun 2009. Setahun kemudian ia meneruskan petualangan intelektualnya di program S1 Fakultas Dirasah Islamiyyah UIN Syarif Hidayatullah dan Darus-Sunnah International Institute For Hadith Sciences Jakarta. Berharap semoga bisa menjadi orang yang bermanfaat untuk manusia lain dan diredoi orang tua dan tuhannya, amien.! Fokus kajiannya sekarang "al-Muhaafazhah A'la al-Qadiimi al-Shaalih, wa al-Akhdzu bi al-Jadiidi al-Ashlah".

Terima kasih atas kunjungannya.........!!!!!!

نحمدك اللهم منزل الآيات تبصرة لأولى الألباب ورافع الدلالات عبرة لتزيل بها عن القلوب الحجاب ونشكرك شرعت الحلال والحرام وأنزلت الكتاب وجعلته هدى لكل خير يرام ونصلى ونسلم على سيدنا محمد المؤيد من الله بأجلى النيرات والساطع نوره في أفق الهداية بما يزيح الريب والمدلهمات وعلى آله خير آل وأصحابه ومن لهم مقتف أوموال