Saung dan Baso Corner

Sebagai komunitas yang berbasiskan intelektualitas, Saung tengah mencoba untuk mengadakan sebuah transformasi dalam wacana pemikirannya. Pada awal perkembangannya ditahun 2007 yang silam, Saung lebih memfokuskan objek kajiannya terhadap literatur-literatur ushul fiqh lintas madzhab dengan metode pembacaan komparatif dan komprehensif. Berbagai bentuk dan ragam pemikiran ushul fiqh dalam madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali dan bahkan dalam madzhab Syi’i serta Dzahiri telah dikaji dan dikupas secara paripurna olehanak-anak muda Saung yang pada saat itu diketuai oleh saudara Anas Shafwan Khalid. Keputusan menjadikan ushul fiqh sebagai fokus kajian adalah lantaran fungsinya yang sangat urgen dalam proses pengambilan hukum dari nash/ sumber aslinya berupa al-Qur’an dan Sunnah.

Seiring berjalannya waktu, fokus kajianpun sedikit demi sedikit mulai ditingkatkan ketaraf metodologis dan epistimologis pembentuk tradisi ushul fiqh itu sendiri. Karena cakrawala pemikiran yang berkembang akhir-akhir ini lebih ditekankan kepada dua hal yang terakhir ini. Adapun objek ataupun tokoh yang dijadikan rujukan sekaligus panutan dalam kajian ini adalah Muhammad A’bid al-Jabiri, seorang pemikir asal Maroko yang baru saja wafat pada tahun 2010 yang lalu. Pilihan ini pada awalnya ditanggapi secara beragam oleh para anggota Saung, karena dengan mengubah alur kajian, itu berarti Saung telah melepaskan jatidirinya sebagai kelompok diskusi yang fokus terhadap fan ushul fiqh. Akan tetapi setelah diberi pengertian lebih lanjut oleh ketua Saung, akhirnya mereka sepakat untuk fokus pada pemikiran al-Jabiri yang pada dasarnya mempunyai relasi yang sangat erat dengan turast (tradisi), termasuk tradisi ushul fiqh sendiri.

Sebagai flow-up dari planning tersebut, Saung mengadakan relasi khusus dengan seorang pakar yang telah lama bergelut dengan pemikiran al-Jabiri. Pakar tersebut bernama Ahmad Baso, seorang intelektual muda NU sekaligus penulis buku NU Studies yang mengaku telah membaca pemikiran al-Jabiri secara intensif selama 4 tahun lamanya. Relasi inipun diteruskan dengan pengajian-pengajian mingguan yang diadakan langsung di rumah Baso dengan metode sorogan sebagaimana halnya kajian kitab-kitab klasik lainnya. Pada saat ini pengajian seperti ini masih berlanjut dan dijadwalkan akan terus berlanjut untuk beberapa bulan kedepan. Karena menurut penuturan Ahmad Baso sendiri, membaca al-Jabiri tidak bisa dilakukan secara setengah-setengah, akan tetapi harus dilakukan secara paralel dan kritis. Sehingga akhirnya didapatkan sebuah pemahaman yang padu dan teoritis mengenai tradisi dan segala sesuatu yang terkait dengannya.

Hingga saat ini Saung telah mengadakan kajian lebih kurang sebanyak 15 kali pertemuan dengan Ahmad Baso. Adapun buku yang dijadikan pegangan dalam pengajian ini adalah buku Nahnu wa al-Turast Qiraah Mua’shirah fi Turaatsina al-Falsafi karya al-Jabiri yang terbit pertama kali pada tahun 1980. Buku ini sebagaimana dijelaskan Baso dalam pengantarnya terhadap buku Post Tradisinalisme Islam adalah buku yang dianggap kontroversial oleh kalangan intelektual Arab saat itu. Karena dalam buku ini al-Jabiri dengan beraninya mengajukan tesis mengenai “filsafat Islam sebagai Ideologi” dan menyebut Ibnu Sina seorang tokoh filsafat Islam klasik sebagai titik awal kemunduran peradaban Islam, karena tidak rasional dan mengajarkan ilmu-ilmu sihir dan astrologi. Tesis ini terkesan kontradiktif dengan asumsi kebanyakan pemikir liberal yang malahan menganggap Ibnu Sinalah icon kemajuan berfikir dalam Islam dan memberikan gelar itu kepada Imam Al-Ghazali yang menjadikan tashauf sebagai jalan akhir dalam hidupnya.

Terlepas dari berbagai asumsi tersebut, al-Jabiri dalam pandangan Ahmad Baso merupakan sosok pemikir yang sangat ideal untuk zaman sekarang dan percikan pemikirannya sangat jauh berbeda dengan kebanyakan pemikir dunia lainnya seperti Hasan Hanafi, Ashgar Ali Engener, Mahmud Muhammad Thoha, dan lain-lain. Satu hal yang membuat al-Jabiri berbeda dengan yang lain adalah epistemologi pemikirannya yang padu serta metodology pembacaannya yang sistematis terhadap turast (tradisi). Dalam kata lain al-Jabiri menekankan kepada setiap orang yang berkeinginan membaca ataupun mengkritik tradisi secara benar dan objektif, supaya dia menguasai seluruh bidang keilmuan yang terkait dengan tradisi tersebut terlebih dahulu. Karena tidak mungkin seseorang yang tidak sempurna dari segi perbendaharaan keilmuan dapat mengkritik mereka yang menguasai berbagai macam keilmuan. Al-Jabiri memberikan istilah khusus terhadap cara baca yang seperti ini dalam bukunya Nahnu Wa Al-Turast dengan “qira’aat” yaitu pembacaan yang paripurna terhadap tradisi.

Berdasarkan hal ini, Ahmad Baso sangat mengecam para pemikir liberal yang kebanyakan mereka tidak mempunyai landasan epistimologis yang kuat dalam kritikan mereka terhadap tradisi. Mereka mengambil teori-teori barat secara serampangan, kemudian mengaplikasikannya secara bebas untuk membaca tradisi mereka sendiri. Padahal salah satu prinsip yang harus dipegang pertama kali dalam membaca turast menurut al-Jabiri adalah memahami turast itu sebagaimana orang Arab memahaminya. Karena turast yang kita baca berasal dari Arab, maka kita juga harus membacanya sebagaimana mereka memahaminya. Nah ini dalam istilahnya al-Jabiri dikenal dengan “fashlu al-maqru’ a’ni al-Qaari” atau memisahkan objek bacaan dari praasumsi sang pembaca. Sehingga tidak terjadi pemaksaan epistimologis terhadap teks/ turast itu sendiri.

Kemudian setelah memisahkan bahan bacaan dengan praasumsi sang pembaca, maka barulah teori “washlu al-maqru bil qaari” diaplikasikan. Namun dalam hal pengaplikasiannya juga tidak semudah dan sepraktis yang dibayangkan. Sangat banyak analisa dan pertimbangan yang harus dipikirkan untuk memilih 2 hal berikut yaitu mempertahankan tradisi sebagaimana adanya dahulu kala atau mengadakan tajdid dan rekonstruksi terhadap tradisi-tradisi yang memang tidak relevan lagi dengan tradisi kita sekarang. Inilah sebenarnya salah satu latar belakang penamaan kitab Nahnu wa al-Turast karya A’bid al-Jabiri. Kata-kata nahnu memiliki pengertian kekinian dan kedisinian kita, sementara itu kata-kata al-Turast melambangkan tradisi masa lalu. Sehingga gabungan keduanya diharapkan bisa menyingkronkan hubungan masa kini dengan masa lalu secara harmonis dan dinamis.

Kalau ditilik dari kongklusi pemikirannya, mungkin teori dan konsep pemikiran al-Jabiri ini tidak jauh berbeda dengan teori-teori pemikir lainnya. Kesamaan itu dapat dilihat dari proyek yang mereka tawarkan berupa kritik epistimologis terhadap nalar Arab khususnya. Hal ini juga pernah penulis rasakan pada saat pertama kali berkenalan dengan pemikiran al-Jabiri. Bahkan penulis hampir tidak bisa membedakan pemikirannya dengan pemikir-pemikir liberal lainnya. Namun setelah berdiskusi dengan teman-teman Saung dan membaca karya-karya beliau melalui kajian mingguan bersama Ahmad Baso, sedikit demi sedikit penulispun bisa memahami apa sebenarnya tujuan dan maksud dari percikan pemikirannya. Kongklusi dari pemikiran mereka boleh saja sama dengan konsep al-Jabiri, namun epistimology serta metodology yang dipakai al-Jabiri jauh berbeda dengan yang mereka pakai. Hal inilah kiranya yang membuat al-Jabiri mempunyai nilai lebih sebagai tokoh yang unik dan langka.
           
Itulah sekilas tentang rutinitas dan perkembangan kajian Saung beberapa bulan terakhir. Adapun kolom ini sengaja ditambahkan sebagai penyempurna sekaligus simpulan dari tema buletin Saung kali ini. Pada dasarnya Saung tidak keluar dari komitmen awal pendiriannya sebagaimana yang dijelaskan diatas, namun kajian-kajian yang ada pada halaman-halaman sebelumnya merupakan upaya untuk mengaplikasikan pemikiran al-Jabiri dalam konteks ke-Indonesia-an. Sehingga kajian yang terkait dengan Pancasila dan historisnya, sejarah reformasi dan substansinya, serta segala hal yang termaktup didalam buletin kali ini merupakan representasi dari dialektika anak-anak Saung terhadap tradisi masa lalunya, terlebih dengan sejarah masa lalu bangsanya sendiri. Dan akhirnya diharapkan teori yang telah dipelajari dan dijelaskan diatas tidak hanya bersifat teoritis semata, namun disisi lain juga mempunyai nilai praktis dan aplikatif, khususnya dalam upaya membaca tradisi kita sendiri sebagai bangsa Indonesia. Semoga bermanfaat…!!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mohon kritik dan sarannya.!

Ada kesalahan di dalam gadget ini

صاحب الكتابة

Foto saya
Bukittinggi, Agam, Indonesia
Seorang pelajar yang tengah berkontemplasi dalam pencarian jatidiri dan ilmu pengetahuan, walau hingga saat ini ilmu yang dia harapkan terasa masih dangkal dan jauh dari kesempurnaan. Dia lahir pada hari Kamis pagi, tanggal 22 Februari 1990 atau bertepatan dengan 26 Rajab 1410 Hijriah. Diberi nama dengan Yunal Isra bin Syamsul Bahri dan biasa dipanggil dengan sebutan Yunal/Isra/Inal. Pendidikan pertama yang pernah dijalaninya adalah Pendidikan TK pada tahun 1996, kemudian dilanjutkan ke SD 01 Baso dan tamat pada tahun 2002. Setelah itu memutuskan untuk fokus mendalami ilmu-ilmu keislaman di MTI Canduang dan tamat pada tahun 2009. Setahun kemudian ia meneruskan petualangan intelektualnya di program S1 Fakultas Dirasah Islamiyyah UIN Syarif Hidayatullah dan Darus-Sunnah International Institute For Hadith Sciences Jakarta. Berharap semoga bisa menjadi orang yang bermanfaat untuk manusia lain dan diredoi orang tua dan tuhannya, amien.! Fokus kajiannya sekarang "al-Muhaafazhah A'la al-Qadiimi al-Shaalih, wa al-Akhdzu bi al-Jadiidi al-Ashlah".

Terima kasih atas kunjungannya.........!!!!!!

نحمدك اللهم منزل الآيات تبصرة لأولى الألباب ورافع الدلالات عبرة لتزيل بها عن القلوب الحجاب ونشكرك شرعت الحلال والحرام وأنزلت الكتاب وجعلته هدى لكل خير يرام ونصلى ونسلم على سيدنا محمد المؤيد من الله بأجلى النيرات والساطع نوره في أفق الهداية بما يزيح الريب والمدلهمات وعلى آله خير آل وأصحابه ومن لهم مقتف أوموال