Pra Kuliah (bagian 1)

Diapit oleh Beberapa Pilihan
Al-Azhar Mesir, yaa itulah sebuah universitas yang pernah menjadi tujuan kuliah penulis sejak beberapa tahun yang lalu. Tepatnya semenjak penulis berada di kelas 4 tsanawiyyah (pondok penulis bernama MTI Canduang, masa pendidikan tingkat tsanawiyyahnya adalah 4 tahun, dan aliyahnya 3 tahun). Hal itu bermula lantaran ke”iri”an penulis kepada 5 orang senior yaitu Bg Syahidin Pekal, Bg Anton, Bg Busri, Bg Arif, dan Bg Benyamin yang pada waktu itu dinyatakan lulus mengikuti test yang diadakan oleh Depag pusat melalui beberapa perwakilannya di seluruh Indonesia. Salah satu tempat yang dijadikan pusat test/ujian waktu itu adalah kampus IAIN Imam Bonjol Padang, kurang lebih 86 kilo dari pondok penulis. Mereka berhak melanjutkan pendidikannya ke universitas tersebut melalui jalur non beasiswa. “Betapa senangnya mereka, bisa melanjutkan pendidikan ke negeri para nabi” cetus penulis polos dalam hati waktu itu. Tapi memang dalam kenyataannya al-Azhar merupakan sebuah universitas tertua yang ada di dunia, banyak imam-imam besar yang dikenal lantaran kedalaman ilmunya pernah berkuliah di universitas tersebut. Daya tarik lainya adalah lantaran universitas tersebut bertempat di daerah dimana para nabi banyak yang di”dinas”kan kesana. Ditambah lagi, penulis perhatikan tuah mereka yang berangkat kesana sangat tinggi dan direspon sangat positif oleh masyarakat, walau ada juga sebagiannya yang berpandangan negatif. Itulah sedikit informasi yang penulis dapatkan waktu itu.

Keinginan tersebut masih saja bertambah ketika 2 orang senior penulis, kembali berangkat untuk menuntut ilmu kesana. Keduanya adalah Zamzami Saleh (1 tingkat diatas penulis) dan Bg Isra Mardi (2 tingkat diatas penulis). Perjuangan keduanya juga tidak gampang dalam arti penuh perjuangan. Zamzami misalnya, walaupun telah dinyatakan lulus oleh depag pada tes yang diadakan pada tahun 2008, tapi baru berangkat pada tahun 2009 artinya dia mengalami keterlambatan pemberangkatan yang disebabkan lamanya pengurusan visa oleh pihak Kedubes Mesir, sehingga dia ketinggalan 1 semester yang mengharuskan dia harus berstatus rosit pada tahun itu, karena namanya sudah terdaftar di Azhar, akan tetapi tidak mengikuti ujian semester 1 sehingga otomatis dia harus mengulangi mata kuliah yang tidak sempat dia ikuti itu ditahun selanjutnya.

Begitu pula halnya dengan Bg Isra Mardhi, beliau sebenarnya sudah melanjutkan kuliah di IAIN Imam Bonjol Padang dengan jurusan Program Khusus Fakultas Ushuluddin dengan beasiswa penuh dari Kementerian Agama. Namun nampaknya jurusan itu hanya menjadi pilihan kedua bagi beliau. Terbukti pada tahun 2007 itu beliau juga pernah ikut tes Mesir melalui jalur Depag di Padang. Tapi tahun itu beliau belum ditaqdirkan untuk bisa belajar kesana, nah ketidaklulusan itulah akhirnya yang menyebabkan beliau memilih PK sebagai solusi kedua, maka akhirnya beliau meneruskan kuliah disana kurang lebih setahun lamanya. Sebab ditahun 2008, beliau kembali mengikuti tes bersama dengan Zamzami (adik senior beliau) dan alhamdulillah pada tahun ini keduanya dinyatakan lulus dan berhak untuk melanjutkan pendidikanya ke Univ. Al-Azhar tersebut. Walaupun Bg Isra ini terbelit berbagai persoalan pasca masuknya beliau ke Program Khusus Fakultas Ushuluddin yang dibeasiswai secara penuh oleh Kementerian Agama. Namun semua persoalan itu tidak menyurutkan cita-cita beliau untuk melanjutkan pendidikan ke Negeri Kinanah itu.
           
Itulah beberapa hal yang melatarbelakangi keinginan penulis untuk kuliah kesana. Dan anehnya sampai kelas 7 di MTI keinginan tersebut masih belum memudar, dalam arti kata “syahwat” untuk belajar disana masih kuat saja. Walau disana sini banyak masukan dan banyak pro kontra diantara para penasehat penulis, sebagiannya ada yang menganjurkan penulis untuk kuliah disana dan sebagian yang lain ada juga yang melarang dan lebih menganjurkan agar penulis kuliah di dalam negeri saja. Akan tetapi masukan-masukan itu penulis musyawarahkan dengan keluarga, abah, amak, sama uni dan kakak penulis. Akhirnya penulis putuskan untuk memilih masukan mereka yang menyarankan penulis untuk kuliah kesana. Lagi pula penulis telah berkomunikasi langsung sama senior-senior penulis yang tadinya berangkat kesana baik dengan Bg Syahidin, Bg Isra Mardhi, Bg Arif, dan Zamzami serta senior-senior lainnya. Dan mayoritas mereka memberikan informasi positif mengenai Al-Azhar yang membuat hasrat penulis semakin memuncak untuk segera kesana.
           
Adapun alasan bagi mereka yang menganjurkan penulis untuk memilih kuliah didalam negeri diantaranya adalah lantaran system pendidikan Azhar yang dinilai masih mempertahankan system klasikalnya, yaitu dengan system muhadhorah dengan dosen berceramah di depan dan kita mahasiswa mendengar dibelakang. Selain itu mereka juga mengkritik peraturan Azhar yang sangat longgar dibanding universitas-universitas lain yang ada di dunia. Bayangkan saja, pihak kampus tidak mewajibkan para mahasiswa untuk hadir tiap hari ke kampus. Sebagian besar mereka akan berusaha hadir tepat waktu hanya pada saat ujian dilaksanakan, karena saat itulah Azhar yang sebenarnya terlihat, hanya pada saat ujian saja, sehingga kampus Azhar bak lautan manusia pada hari-hari itu, bahkan ada yang bilang saking melimpahnya mahasiswa sampai-sampai ada sebagian mereka yang tidak kebagian bangku ujian, akhirnya WC pun menjadi tempat yang “nyaman” buat ujian. Sebagai ganti dari kelonggaran peraturan itu mereka dituntut untuk menguasai muqarrar/ diktat yang dikarang oleh para dosen secara keseluruhan, karena ujian nantinya sebagian besar akan diambilkan dari diktat-diktat tersebut. “Nah kalau hanya seperti itu ngapain jauh-jauh ke Mesir” kata sebagian mereka. Ditambah lagi dengan suasana yang hampir bisa dikatakan tidak nyaman sama sekali, bayangkan saja satu kelas diisi lebih dari 300-an orang. Bagaimana mungkin kita akan bisa fokus dan konsen belajar dengan jumlah orang yang sebanyak itu, lagian dosen hanya berbicara (berceramah) saja tanpa adanya dialog diantara mereka dengan para mahasiswa.

Kemudian ada juga yang berpandangan bahwa banyak diantara tamatan Mesir itu yang seketika pulang dari sana, ilmunya tidak bertambah sama sekali, malahan cendrung berkurang seperti bahasa Arabnya yang tidak lancar, kemampuan analisis yang kurang memadai karena hanya mengandalkan hafalan semata, pengetahuan ke-Indonesia-an yang dangkal padahal penguasaan terhadap hal itu adalah suatu keharusan bagi seorang refolusioner yang menjadikan masyarakat sebagai objek dakwah mereka sehabis kuliah disana dan yang paling mengawatirkan mereka adalah adanya sebagian alumni mesir itu yang keluar dari manhaj tarbiyah yang telah digariskan oleh Syekh Sulaiman Al-Rasuli, sang pelopor tarbiyah islamiyah. Tentu saja asumsi-asumsi tersebut bersifat subjektif, karena sebagian besar dari mereka yang beropini seperti itu hanya mendapatkan informasi dari mulut-kemulut saja, dalam artian mereka belum pernah mengecap pendidikan secara langsung disana.

Masa Penuh Perjuangan
Kembali kekisah penulis, setelah memutuskan untuk tetap memilih Azhar sebagai tujuan belajar. Maka mulailah penulis bersama 3 orang teman lainnya yaitu Leo Surya Sarli, Hengki Ferdiansyah, dan Eka Saputra yang mempunyai visi yang sama dengan penulis, mencari informasi-informasi yang berkaitan dengan tatacara untuk bisa kesana, mulai dari informasi tesnya, prosedur pelaksanaan tesnya, tempat diadakan tes, dan lain sebagainya. Dan kamipun berkolaborasi dengan teman-teman dari MAPK Padang Panjang seperti Beni, Rendi, Kemal, dan teman-teman lainnya. Karena memang mereka mempunyai link lebih banyak serta alumni yang sebagian besarnya melanjutkan kuliah ke Azhar. Akhirnya didapatlah informasi bahwa pada tahun itu yaitu tahun 2009, secara mengejutkan Depag tidak mengadakan test penerimaan calon mahasiswa baru Mesir lagi. Mereka menyerahkan hak sepenuhnya kepada Kedubes Mesir untuk mengurus segala hal yang berkaitan dengan test, pemberangkatan, dan lain-lain.

Hal itu sangat mengejutkan kami, karena hal itu bisa saja menghambat cita-cita kami untuk kuliah ke negeri Kinanah tersebut. Kabar yang kami dengar menyebutkan bahwa salah satu penyebabnya adalah dilatarbelakangi oleh konflik yang terjadi antara Depag yang sudah mendapat mandat khusus dari Azhar untuk mengadakan seleksi penerimaan mahasiswa baru non beasiswa dengan Kedubes Mesir yang merasa berhak juga untuk ikut andil dalam usaha pengetesan itu. Selama ini memang pihak Kedutaan mendapat pekerjaan yang agak enteng dari Azhar, yaitu menyeleksi calon-calon mahasiswa yang telah lulus tes depag untuk mengikuti tes muqabalah program beasiswa penuh secara langsung dengan mereka. Akan tetapi pihak Depag tidak mau untuk membagi pekerjaan itu dengan pihak Kedubes yang seakan terlihat antusias untuk mengadakan tes juga. Akhirnya karena terus berseteru, pihak Depag melepaskan sama sekali hak seleksi yang seharusnya berada ditangan mereka untuk diurus oleh pihak Kedubes. Akibat dari perseteruan itu adalah kaburnya system penyeleksian antara tes beasiswa dengan tes yang non beasiswa/ mandiri yang selama ini telah jelas.

Selama ini bagi calon mahasiswa yang ingin berangkat tahun itu juga, maka mereka akan mengikuti tes dengan jalur non beasiswa dengan standar nilai yang tidak terlalu tinggi, minimal 60 saja. Dan mereka berhak berangkat dengan menggunakan dana pribadi mereka masing-masing yaitu sekitar 12 sampai 13 jutaan. Sementara itu bagi mereka yang ingin memperoleh beasiswa dan bersedia untuk berangkat tahun depannya (seandainya lulus tes) akan memilih jalur beasiswa dengan standar nilai awal yang harus mereka capai minimal 80, kemudian mereka juga harus mengikuti tes muqabalah langsung di Kedubes Mesir setelah dinyatakan lulus pada tes Depag. Namun setelah adanya konflik tersebut, maka system yang seperti yang penulis paparkan diatas menjadi kabur dan tidak jelas.

Beberapa hari kemudian kamipun mendapat kabar dari teman-teman MAPK yang berisikan bahwa ternyata tes Kedubes untuk program beasiswa penuh akan diadakan pada tanggal 11,12, dan 13 Mei di Kedubes Mesir Jakarta, padahal hari itu sudah tanggal 3 atau 4 Mei. Dan kebetulan juga pada hari itu adalah hari terakhir ujian akhir sekolah tingkat aliyah yang diadakan serentak di seluruh Indonesia. Mendengar kabar yang benar-benar mendadak itu, kamipun menjadi bimbang antara maju untuk mengikuti tes ataukah mundur dengan harus membatalkan niat untuk kuliah di Mesir. Selain itu penulis dengan teman-teman yang dari MTI juga harus memikirkan dana untuk berangkat ke Jakarta. Karena test tersebut diadakan langsung di Kedubes Mesir Jakarta. Ditambah lagi dengan jadwal ujian akhir pondok yang akan segera dilaksanakan, padahal kami belum ada persiapan sama sekali.

Setelah bermusyawarah dikediaman penulis (sekitar 10 hari sebelum test), akhirnya didapatlah keputusan bahwa kami akan maju (walaupun dengan persiapan yang sangat minim) untuk mengikuti tantangan test yang akan diadakan kurang lebih seminggu lagi itu. Kamipun disibukkan dengan persiapan berkas-berkas yang belum ada sama sekali. Untunglah karena kebersamaan dan kekompakan kami, akhirnya seluruh berkas-berkas yang dibutuhkan untuk pendaftaran test seperti daftar riwayat hidup, ijazah tsanawiyyah, dan lain-lainnya dapat kami bereskan dengan segera. Dan pada hari selanjutnya, yaitu pada hari Sabtunya, penulis bersama Hengki mengantarkan berkas-berkas itu langsung ke teman-teman MAPK di Padang Panjang supaya dibikin jadi satu dukument yang berguna untuk memudahkan pendaftaran. Karena persoalan mereka langsung diurus oleh guru-guru mereka, sementara kami yang dari MTI mengurus secara pribadi-pribadi saja. Lantaran memang pada waktu itu kami tidak memberitahukan rencana keberangkatan itu kepada pihak MTI, khawatir kalau-kalau pengurusannya akan berjalan lama sekaligus ada rasa malu juga terhadap teman-teman penulis yang lain. Walaupun pada akhirnya yaitu saat meminta surat keterangan berkelakuan baik kepada Rais Amm madrasah yaitu Bapak Amhar Zein, rahasia kami terbongkar juga, karena pada saat itu beliau bertanya perihal tujuan pembuatan surat tersebut. Namun secara umum kami mengurus segalanya secara mandiri dengan dibantu oleh teman-teman dari MAPK dalam hal pengiriman berkas serta hal keberangkatan ke Jakarta.

Pada hari Selasanya kami yang dari MTI diundang oleh teman-teman MAPK untuk rapat mengenai kronologis pemberangkatan ke Jakarta, sekaligus membicarakan tempat penginapan selama berada disana. Rapat itu berlangsung selama beberapa jam dan berjalan dengan sangat alot serta serius. Seorang ustadzah yang kebetulan menjadi salah seorang tenaga pengajar disana (tapi penulis lupa namanya) sempat membantu kami dalam memutuskan beberapa hal. Tepat pada jam sengah 12 siang, rapatpun usai. Adapun keputusan yang didapat adalah pemberangkatan ke Jakarta akan dilaksanakan pada tanggal 10 Mei, tepat 1 hari sebelum pelaksanaan test dimulai. Sementara itu alat transportasi yang akan digunakan adalah pesawat terbang dengan anggaran untuk masing-masing orang mencapai satu juta rupiah lantaran pembelian tiket yang diperkirakan nantinya akan sedikit lebih mahal, mengingat sudah dekatnya hari pemberangkatan. Pengumpulan uang untuk booking pesawatpun disepakati paling lambat hari Rabunya, 1 hari setelah rapat tersebut. Akan tetapi pasca rapat tersebut ada sebagian teman yang merasa keberatan dengan keputusan itu, karena bisa dimaklumi sebagian besar kami yang akan berangkat tergolong kepada mereka yang belum mapan dan mandiri dalam segala hal serta ditambah lagi dengan penghasilan orangtua yang kami yang tidak terlalu besar, terlebih dengan uang sebanyak itu. Lantaran tingginya biaya, sebagian teman MAPK ada yang mengurungkan niat untuk mengikuti test, tapi alhamdullah kami yang berasal dari MTI tidak satupun yang mundur, dalam arti kata semuanya sanggup menghadapi tantangan yang segera akan kami hadapi itu.

Setelah semuanya beres, mulai dari pengumpulan dana pem-booking-an pesawat, pengiriman berkas, dan lain-lain, tibalah waktu keberangkatan menuju Jakarta. Hari itu adalah hari Minggu, tepat pada jam 1 siang kami berkumpul di depan ruangan guru MAPK, tentunya bersama-sama seluruh teman-teman pejuang yang akan mengikuti tes beasiswa Kedubes yang sangat mendadak itu. Keberangkatan ke bandara Internasional Minangkabau dijadwalkan pada jam 2 siang itu. Tepat pada jam setengah 2-nya mobil travel yang disewapun berdatangan. Dan pas pada jam 2 siang kamipun bertolak menuju bandara Internasional Minangkabau di Pariaman. Perjalanan ke bandara diperkirakan menghabiskan waktu kurang lebih 2 jam, maka sebagian teman memanfaatkan waktu yang sedikit itu untuk memurajaah hafalan, sebagiannya ada yang baca-baca buku, sebagian lagi ada yang tidur pules karena kecapekan. Adapun materi-materi test yang akan kami hadapi sesampai di Jakarta nantinya adalah hafalan minimal 3 juz, kemudian ujian tulisan bermaterikan Fiqh ibadah, penguasaan Nahu, Sharaf, Balaghah, dan Sejarah. Sementara ujian lisan bermaterikan muhadatsah dengan menggunakan bahasa Arab dan hafalan. Hal ini kami peroleh berkat informasi dari salah seorang senior MAPK yang bernama Kak Rezky Daswir yang kebetulan pada saat itu berada di Jakarta. Dan beliau jugalah yang telah membantu kami untuk menyerahkan berkas-berkas yang dibutuhkan langsung ke Kedubes Mesir yang berada di daerah Menteng, Jakarta Pusat.

Pada jam 4 sore kamipun sampai di Bandara dengan selamat. Setelah berhenti sejenak, berkumpul didepan bandara, kami berjalan masuk ke bandara untuk melakukan check in supaya bisa masuk ke ruang tunggu keberangkatan. Setelah semuanya selesai kamipun shalat Ashar di mushalla yang telah disediakan dan sehabis itu bersiap-siap untuk terbang ke Jakarta. Kami semuanya berjumlah sekitar 23 orang yang tergabung dari beberapa sekolah seperti MTI Candung yang diwakili oleh penulis, Leo, Hengki, dan Eka. Kemudian dari MAN 2 Payakumbuah yang diwakili oleh Devianto dan seorang temannya. Selanjutnya dari Diniyah V Jurai Sungai Puar yang diwakili oleh Yahya Ibrahim bersama 3 orang temannya. Lalu dari Pesantren Mua’llimin yang diwakili oleh Vipne Dzulmayusir. Selebihnya berasal dari MAPK Padang Panjang yang diketuai oleh saudara Rendi/Beni Saputra. Dalam keberangkatan kali ini, kami dibagi jadi 2 kloter penerbangan. Karena kebetulan pesawat Lion Air yang dipesan duluan hanya tersisa untuk beberapa orang saja, sehingga sebagian teman yang lain harus berangkat dengan pesawat yang lain, akan tetapi tetap pada jam yang sama. Penulis lupa nama pesawat yang lain itu, tapi yang jelas kami tetap bersama-sama hingga sampai di bandara Soekarno-Hatta.

Tepat pada jam 5 sore pesawat yang akan membawa kamipun datang dan terbanglah kami ke “medan pertempuran” itu dengan perasaan yang harap-harap cemas. Karena sebagian besar kami (apalagi penulis pribadi) tidak mempunyai persiapan sama sekali untuk mengikuti test itu. Berhubung karena kami baru saja selesai menghadapi ujian akhir sekolah yang tidak kalah pentingnya dengan tes yang akan kami jalani. Rasa takut, lega, cemas, harap bercampur jadi satu dalam diri kami. Namun dengan tetap menyimpan rasa optimis di hati, semoga semua kami yang berangkat pada hari itu diluluskan oleh Allah demi tujuan menuntut ilmu lillahi ta’ala. Detik demi detikpun berlalu, akhirnya tak lama berselang kami sampai dengan selamat di Bandara Soekarno Hatta Cengkareng, Jakarta Timur. Alhamdulillah..

Masa Penuh Ketegangan
Setelah sampai di Bandara pada jam setengah 8 malam, kami kembali bermusyawarah mengenai transportasi menuju ke tempat penginapan, maklum sebagian besar dari kami baru pertama kali menginjakkan kakinya di Tanah Betawi itu, sehingga semua tampak aneh dan berbeda dengan apa yang kami rasakan di kampung halaman. Tampak begitu banyak orang disana yang mondar mandir masuk keluar bandara entah untuk tujuan apa. Begitu juga diluar bandara terdapat banyak kendaraan berupa mobil-mobil pribadi yang berjejeran menghiasi jalan-jalan bandara. Ditambah lagi dengan cuaca dan suasana udara yang lebih panas daripada kota Padang, kota tercinta, hal itu tak pelak membuat sebagian besar kami berkeringat, haus, lapar, dan perasaan-perasaan lain yang saling bercampur baur. Penginapan direncanakan bertempat di rumah bibi salah seorang teman yang berasal dari MAPK, bernama Imam Mujaddid al-Hakimi. Kebetulan dia mempunyai bibi yang rumahnya lumayan besar untuk kami tempati selama beberapa hari di Jakarta. Rumah tersebut berjarak cukup jauh dari bandara, tepatnya di daerah Pisangan Barat, Ciputat Timur, Tangerang Selatan. Tepat disamping Pusat Study Al-Qur’an kepunyaan Bapak Quraisy Shihab, seorang pakar tafsir Indonesia, pengarang tafsir al-Mishbah yang sangat terkenal itu.
           
Setelah mobil yang dipesan datang, berupa mobil carry hitam yang lumayan agak kecil, sebagian kamipun mulai menaikinya dan berangkat menuju tempat penginapan sementara. Sementara yang lain masih menunggu mobil pesanan yang satu lagi. Penulis bersama teman-teman yang berasal dari MTI memutuskan untuk menunggu mobil tersebut. Beberapa saat kemudian mobil yang ditunggupun datang, kamipun naik secara bergantian dan melaju menuju Ciputat dengan ditemani oleh Kak Rizky Daswir yang langsung datang ke bandara khusus untuk menjemput kami. Perjalanan ini menghabiskan waktu lumayan agak lama, karena pada waktu itu jalanan Jakarta terkena macet dan diperparah lagi dengan hujan deras yang mengguyur semenjak sorenya. Kami berangkat pada jam setengah 9 dan sampai kira-kira pada jam setengah 12 malam, yaitu kurang lebih 3 jam perjalanan. Pas pada jam setengah 12 itu, kami sampai dirumah bibi Imam Mujaddid yang akan menjadi tempat penginapan kami untuk beberapa hari kedepan.
           
Senin 11 Mei, 2009. Tanpa terasa pada hari itu kami telah berada di Kota Jakarta. Daerah yang selama ini hanya bisa kami lihat dari siaran berita yang acak kali menyiarkan kondisi ibukota negara tersebut. Pagi itu setelah bangun tidur, shalat, dan mandi, kami bersama kak Rezki Daswir berkumpul bersama di ruang tamu rumah untuk membicarakan beberapa agenda yang akan dijalankan pada hari itu. Sebagaimana yang diketahui hari itu merupakan hari pertama dalam rangkaian hari test beasiswa Kedubes dari 3 hari yang dijadwalkan. Tapi menurut kabar yang penulis terima dari kak Rezky, hari test boleh dipilih diantara 3 hari tersebut, jadi tidak mesti bagi kami untuk ikut tes langsung pada hari pertama ini. Terus terang penulis merasa agak lega dengan berita itu, selain masih capek, penulis juga belum memantapkan hafalan yang menjadi salah satu materi yang ditest pada saat ujian nanti. Belum lagi persiapan bacaan yang lain seperti fiqh ibadah, nahu dan sharaf, sejarah Islam juga belum penulis baca sama sekali. Tapi penulis yakin test kali ini harus berhasil, mengingat panjangnya lika-liku perjalanan serta perjuangan yang tidak sedikit hanya untuk mengikuti test beasiswa tersebut.
           
Walaupun demikian, sebagian teman penulis ada yang berkeinginan untuk sekedar melihat-lihat jalannya test pada hari itu. Mereka berangkat bersama dipandu oleh Kak Rezky Daswir yang setia mendampingi. Namun penulis bersama beberapa orang teman lainnya tetap memilih untuk istirahat di rumah saja sembari mengulang hafalan serta menambah-nambah bahan bacaan supaya persiapan buat test dihari selanjutnya bisa lebih optimal. Jadilah penulis pada hari itu seorang pejuang yang berjuang ditengah bayangan ujian pondok yang semakin dekat. Perlu diketahui pondok penulis yang bernama Madrasah Tarbiyah Islamiyah Canduang mempunyai system doble, yaitu menggabungkan 2 kurikulum secara sekaligus. Pertama kurikulum tarbiyah yang terdiri dari ilmu-ilmu kekitaban seperti Nahu, Sharaf, Fiqh, Ushul Fiqh, Tafsir, Balaghah, Mantiq dan sebagainya. Kedua kurikulum depag yang terdiri dari pelajaran umum seperti Geografi, Sejarah, Ekonomi, dan sedikit pelajaran agama dengan diktat yang berasal dari depag seperti SKI, Fiqh Syariah, Aqidah Akhlaq, dan lain-lain. Kalau dihitung-hitung total mata pelajaran penulis secara keseluruhan adalah sekitar 30 sampai 32 mata   pelajaran yang dibagi dalam 6 hari. Sebuah jumlah yang sangat banyak dan membuat tercengang siapapun yang mendengarnya. Tapi itu adalah kenyataan dan ditemui di pondok sekaligus madrasah MTI Candung yang didirikan oleh Maulana Syekh Sulaiman al-Rasuli rahimahullah itu.
           
Pada sore harinya teman-teman penulis yang ikut ke Kedubes dengan maksud mencari informasi itupun pulang. Anehnya hampir seluruh mereka menunjukkan suatu kekecewaan yang dapat terlihat jelas dari mimik-mimik wajah mereka. Penulis bersama teman-teman yang tidak ikut merasa heran dengan situasi itu. Puncak dari keheranan itu, akhirnya salah seorang kamipun bertanya kepada mereka apa gerangan yang terjadi, sehingga membuat mereka terlihat sangat kecewa seperti itu. Salah seorang dari mereka menerangkan bahwa mereka baru saja mengikuti test beasiswa kedubes dengan tanpa persiapan sama sekali serta dengan suasana test yang sangat sangat tidak nyaman sama sekali. Kami masih belum mengerti kenapa bisa mereka langsung ikut test, padahal maksud mereka pada awalnya hanya untuk melihat tempat serta situasi test semata.?, ternyata setelah diterangkan oleh teman yang lain, pahamlah kami bahwa mereka yang telah hadir di ruang kedutaan pada hari ini diharuskan untuk mengikuti test pada hari itu juga. Sehingga mau tidak mau mereka semuanya terpaksa harus mengikutinya dengan tanpa persiapan sama sekali. Ditambah lagi dengan tatacara test yang sangat tidak beraturan, bayangkan saja sewaktu mengikuti test tulis, mereka hanya diberi waktu 15 menit saja dengan soal yang lumayan banyak, nyelimet, dan membuat otak panas. Hal itu diperparah lagi dengan kondisi lain yang tidak terbayangkan sebelumnya, yaitu situasi ujian lisan yang seakan-akan tidak menunjukkan adanya test sama sekali. Sebagian mereka ada yang ditanya dan diperintahkan untuk melanjutkan sepotong ayat, akan tetapi baru saja mereka akan membaca, penguji tersebut langsung menyuruh mereka keluar dari ruang ujian. Sementara yang lain ada yang diuji dalam keadaan berdiri ditengah kerumunan banyak orang, sebagaimana yang dituturkan oleh seorang teman yang bernama Muhammad Zakir dari Diniyah V Jurai Sungai Puar.

Mendengar cerita tersebut kami yang tidak ikut merasa prihatin terhadap nasib teman-teman yang ikut test pada hari itu, akan tetapi kami hanya bisa menenangkan mereka sembari menganjurkan agar banyak-banyak berdoa kepada Allah mudah-mudahan Beliau memberikan yang terbaik bagi kami semua. Tak lama kemudian seorang teman mengusulkan supaya mereka mengikuti test ulangan saja dengan cara mengajukan komplain terhadap pihak kedutaan. Usulan itupun langsung ditanggapi positif oleh Kak Rezki Daswir, dan beliau juga bersedia membantu teman-teman untuk mengajukan rasa keberatan tersebut. Rasa lega terlihat dari wajah teman-teman yang awalnya sangat kecewa itu. Setidaknya ada sedikit harapan dan semangat baru bagi mereka untuk kembali mempersiapkan diri untuk mengikuti test kembali pada esok harinya. Semoga saja pihak Kedutaan berkenan untuk mengizinkan mereka untuk mengikuti tes ulang tersebut. Kami yang tidak ikut terus terang agak merasa beruntung, karena masih mempunyai kesempatan untuk mempersiapkan diri semaksimal mungkin untuk mengikuti test pada hari berikutnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mohon kritik dan sarannya.!

Ada kesalahan di dalam gadget ini

صاحب الكتابة

Foto saya
Bukittinggi, Agam, Indonesia
Seorang pelajar yang tengah berkontemplasi dalam pencarian jatidiri dan ilmu pengetahuan, walau hingga saat ini ilmu yang dia harapkan terasa masih dangkal dan jauh dari kesempurnaan. Dia lahir pada hari Kamis pagi, tanggal 22 Februari 1990 atau bertepatan dengan 26 Rajab 1410 Hijriah. Diberi nama dengan Yunal Isra bin Syamsul Bahri dan biasa dipanggil dengan sebutan Yunal/Isra/Inal. Pendidikan pertama yang pernah dijalaninya adalah Pendidikan TK pada tahun 1996, kemudian dilanjutkan ke SD 01 Baso dan tamat pada tahun 2002. Setelah itu memutuskan untuk fokus mendalami ilmu-ilmu keislaman di MTI Canduang dan tamat pada tahun 2009. Setahun kemudian ia meneruskan petualangan intelektualnya di program S1 Fakultas Dirasah Islamiyyah UIN Syarif Hidayatullah dan Darus-Sunnah International Institute For Hadith Sciences Jakarta. Berharap semoga bisa menjadi orang yang bermanfaat untuk manusia lain dan diredoi orang tua dan tuhannya, amien.! Fokus kajiannya sekarang "al-Muhaafazhah A'la al-Qadiimi al-Shaalih, wa al-Akhdzu bi al-Jadiidi al-Ashlah".

Terima kasih atas kunjungannya.........!!!!!!

نحمدك اللهم منزل الآيات تبصرة لأولى الألباب ورافع الدلالات عبرة لتزيل بها عن القلوب الحجاب ونشكرك شرعت الحلال والحرام وأنزلت الكتاب وجعلته هدى لكل خير يرام ونصلى ونسلم على سيدنا محمد المؤيد من الله بأجلى النيرات والساطع نوره في أفق الهداية بما يزيح الريب والمدلهمات وعلى آله خير آل وأصحابه ومن لهم مقتف أوموال