Membaca Diri.

Kalau boleh bercermin kepada ulama-ulama dahulu, maka siapa yang tidak akan salut dengan kehebatan Imam Syafi’I yang mampu menguasai ilmu secara mendalam khususnya fiqh dan ushulnya, walau seumur hidup beliau dijangkiti penyakit ambaien dan gula batu yang tak kunjung sembuh hingga beliau wafat. Begitu juga dengan imam al-Ghazali yang mampu menguasai hampir seluruh bidang keilmuan, padahal beliau hanya berasal dari keluarga yang sangat miskin sekali. Tidak kalah dengan beliau Imam Suyuthi yang hampir setiap fan ilmu, tidak ada yang luput dari karangannya (selain ilmu hisap/hitung yang menjadi satu kelemahan beliau). Begitu juga halnya dengan imam Nawawi yang tidak menikah seumur hidupnya lantaran kecintaannya terhadap ilmu mengalahkan syahwatnya untuk menikah, bahkan seperti yang dibahasakan Pak Said Agil al-Munawwar dalam sebuah pidatonya tentang sosok Imam Nawawi “al-‘Ilmu baina fakhizaihi” ilmu ibarat (istri) baginya, yaitu berada diantara kedua pahanya.
       
Kita ingat dengan Imam Sibawaih (murid imam Khalil bin Ahmad al-Farahidi), seorang anak muda yang sangat cerdik dan taammuq dalam ilmu nahu, sehingga seluruh timur dan barat mengakui kehebatan ilmunya, tak terkecuali gurunya sendiri. kita tidak lupa dengan Imam Ibnu Jarir al-Thabari yang hafal kitab matan sebanyak muatan “seratus ekor onta”. Atau Ibnu al-Anbari yang setiap Jum’atnya hafal “seribu koras” kitab. Begitu juga halnya dengan Ibnu Sina yang dalam satu malam bisa menamatkan hafalan al-Qur’annya. Imam al-Sarokshi dan Ziyad bin Hasan yang hampir tidak pernah tidur pada tiap malamnya hanya untuk memperkaya keilmuan dan ibadahnya. 

Imam al-Qoffal al-Kabir seorang mujtahid dikalangan ashab Syafii yang setingkat dengan Imam Muzanni dan al-Ghazali, dalam kesehariannya ternyata seorang tukang kunci, akan tetapi masih tetap bisa menuntut ilmu. Abu Bakar al-Hulwani sang ilmuwan penjual manisan yang tidak pernah putus asa dalam mengais ilmu pengetahuan, dan yang terakhir Imam Sya’roni pengarang kitab Mizaanul Kubra yang sering pusing dalam pencariannya terhadap ilmu, tapi kepusingan itu dikalahkannya dengan selalu menghafal dan menghafal.
            
Itu mungkin ulama-ulama tempo dulu yang sebagian besarnya mempunyai jarak yang lumayan jauh dengan kita. Nah bagaimana pula dengan ulama-ulama nusantara yang dekat dengan kekinian kita, adakah diantara mereka sosok yang patut kita tiru dan kita teladani guna untuk memacu semangat untuk terus maju dan melaju menghadapi tantangan zaman ini.?. Jawabannya adalah sangat sangat banyak sekali. Bagi yang ingin mengetahuinya secara lengkap, dapat membaca biografi mereka dalam bukunya Pak Azyumardi Azra misalnya yang berjudul “jaringan ulama nusantara”. 

Dalam buku tersebut dihimpun beberapa orang nama ulama-ulama nusantara yang mempunyai andil besar dalam penyebaran ilmu pengetahuan ditanah Indonesia. Begitu juga dalam buku-buku yang lain seperti dalam ensiklopedi ulama-ulama Minangkabau misalnya, atau dalam buku ensikplopedi ulama-ulama jawa dan buku-buku biografi lainnya. Telah banyak buku-buku manaqib ulama yang telah dikarang dengan tujuan bisa kita teladani dan kita tiru jalan hidup serta perjuangannya dalam usaha pemulungan ilmu. Hanya saja masih banyak diantara kita yang tidak mau menapaki kisah hidup mereka tersebut disebabkan lantaran sifat malas dan sikap suka mengulur-ulur waktu yang senantiasa bersarang dalam hati kita, terlebih penulis sendiri.
            
Kalau boleh bercerita pengalaman, jujur penulis akui bahwa setelah kurang lebih 14 tahun menuntut ilmu, belum banyak ilmu yang tercover dalam memori penulis, dan yang lebih gawat lagi sampai sekarang penulis belum menemukan kecenderungan penulis dalam usaha pemulungan ilmu ini, semoga saja Allah memberi hidayah kepada penulis untuk menjalani hari-hari kedepan dengan cahaya ilmu Beliau, amien. Pendidikan penulis dimulai dari tingkat SD selama 6 tahun, kemudian dilanjutkan ketingkat tsanawiyyah dan aliyah selama 7 tahun di Madrasah Tarbiyah Islamiyah Canduang, Sumbar. 

Serta ditambah dengan 1 tahun yang lalu, tepatnya tahun 2010 yang lalu penulis menjadi “pengangguran kelas berat” dalam penantian yang tiada berujung untuk melanjutkan pendidikan penulis yang awalnya direncanakan ke Univ. Al-Azhar Mesir, namun karena keterlambatan pemberangkatan dan hal-hal lain yang tidak bisa penulis ungkap disini, akhirnya penulis putuskan untuk merubah haluan dengan memilih tempat kuliah dalam negeri saja (mengenai kisah ini, akan penulis tuturkan dalam catatan tersendiri, insyaAllah). Dan sekarang penulis tengah dan akan menjalani semester 3 di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta sekaligus di Pesantren Darussunnah al-A’li li u’luumi al-hadist sebagai mahasantri thaalibul hadist.
             
Mungkin siapapun yang membaca perjalanan pendidikan penulis akan mengira bahwa penulis adalah seorang yang sudah mapan dalam bidang keilmuannya, karena telah 14 tahun/ 15 tahun (kalau ditambah dengan masa pengangguran) belajar, sudah barang tentu begitu banyak ilmu telah tercover dalam kepala penulis. akan tetapi kalau boleh menjawab, maka jawaban penulis untuk perkiraan orang tersebut adalah salah besar dan tidak benar sama sekali. Penulis bukannya tawadhu’ sebagaimana halnya imam-imam besar penulis kitab tebal-tabal yang mempunyai bergudang-gudang ilmu, namun masih mengatakan “walau lastu ahlan li haadza al-fann” “(aku tulis kitab ini) walaupun sebenarnya aku bukanlah orang yang ahli dibidang ini”, bukan juga tidak mensyukuri ni’mat pemberian Allah selama ini terhadap penulis, akan tetapi ini adalah bentuk dari kejujuran penulis mengenai kondisi diri penulis yang sebenarnya. 

Mungkin memang ada sebagian teman menganggap penulis hebat dalam salah satu bidang keilmuan, akan tetapi itu hanyalah pandangan subjektif yang biasa dilontarkan oleh siapapun. Namun hal yang sebenarnya cuman penulis dan Allahlah yang tahu. Penulis cendrung mengatakan bahwa kalaupun ada beberapa teman menganggap penulis hebat, jago ngomong, nulis, dan lain sebagainya, itu hanya kebetulan saja pada saat itu penulis menguasai persoalan yang tengah dibicarakan, itu makanya penulis ngomong. Akan tetapi selain itu, keilmuan penulis bernilai nol besar alias sedikit sekali.
            
Ini bukan curhatan, bukan juga pengakuan, akan tetapi ini hanya rintihan hati seorang yang sangat harap dengan ilmu pengetahuan, semoga saja Allah memberikan setetes ilmunya kepada diri ini, memberikan hikmah dari apapun yang penulis temukan dalam hidup ini, membukakan tabir atau pembatas yang menjauhkan penulis dengan ilmu itu sendiri. Penulis sangat ingin mencontoh dan mengikuti jalan-jalan para ilmuwan yang telah penulis sebutkan diatas. Penulis ingin untuk menguasai apa-apa yang pernah dikuasai juga oleh para ulama tersebut. Disamping itu, sekarang penulis tengah mengumpulkan beberapa target yang harus penulis kuasai setelah tamat dari bangku perkuliahan ini, insyaAllah. Ada beberapa teman yang membangkitkan hasrat penulis untuk terus mengejar cita-cita ini. 

Penulis ingin menghafal al-Qur’an secara keseluruhan, juga ingin bisa berbahasa Arab dan Inggris dengan lancar dan fasih, juga ingin aktif berorganisasi layaknya teman-teman yang telah aktif duluan dari penulis, juga ingin bisa menguasai bidang kajian filsafat dan kontemporer, juga ingin jadi penulis yang handal dan menulis setiap harinya, juga ingin handal dalam bidang fiqh dan ushulnya, juga ingin lancar berbicara didepan umum dengan mimik dan retorika yang jelas serta benar. Dan masih banyak keinginan-keinginan lain yang penulis targetkan dalam beberapa tahun kedepan. Yaa rabb, jadikanlah hambamu ini ilmuan yang ilmunya bermanfaat untuk diri sendiri, orang tua, serta buat orang lain. Kayakanlah diri ini dengan hikmah, dan mau’izah yang engkau anugerahkan dari setetes ilmuMu yang tiada terbatas itu..Amien.!!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mohon kritik dan sarannya.!

Ada kesalahan di dalam gadget ini

صاحب الكتابة

Foto saya
Bukittinggi, Agam, Indonesia
Seorang pelajar yang tengah berkontemplasi dalam pencarian jatidiri dan ilmu pengetahuan, walau hingga saat ini ilmu yang dia harapkan terasa masih dangkal dan jauh dari kesempurnaan. Dia lahir pada hari Kamis pagi, tanggal 22 Februari 1990 atau bertepatan dengan 26 Rajab 1410 Hijriah. Diberi nama dengan Yunal Isra bin Syamsul Bahri dan biasa dipanggil dengan sebutan Yunal/Isra/Inal. Pendidikan pertama yang pernah dijalaninya adalah Pendidikan TK pada tahun 1996, kemudian dilanjutkan ke SD 01 Baso dan tamat pada tahun 2002. Setelah itu memutuskan untuk fokus mendalami ilmu-ilmu keislaman di MTI Canduang dan tamat pada tahun 2009. Setahun kemudian ia meneruskan petualangan intelektualnya di program S1 Fakultas Dirasah Islamiyyah UIN Syarif Hidayatullah dan Darus-Sunnah International Institute For Hadith Sciences Jakarta. Berharap semoga bisa menjadi orang yang bermanfaat untuk manusia lain dan diredoi orang tua dan tuhannya, amien.! Fokus kajiannya sekarang "al-Muhaafazhah A'la al-Qadiimi al-Shaalih, wa al-Akhdzu bi al-Jadiidi al-Ashlah".

Terima kasih atas kunjungannya.........!!!!!!

نحمدك اللهم منزل الآيات تبصرة لأولى الألباب ورافع الدلالات عبرة لتزيل بها عن القلوب الحجاب ونشكرك شرعت الحلال والحرام وأنزلت الكتاب وجعلته هدى لكل خير يرام ونصلى ونسلم على سيدنا محمد المؤيد من الله بأجلى النيرات والساطع نوره في أفق الهداية بما يزيح الريب والمدلهمات وعلى آله خير آل وأصحابه ومن لهم مقتف أوموال