Pra Kuliah (bagian 4)

Hari Perjuangan Kembali Dimulai
Hari pemberangkatanpun tiba, beberapa orang dari keluarga dan tetangga penulis melepas keberangkatan penulis ke Jakarta. Mulai dari jama’ah mushalla Nurul Umum yang kebetulan menjadi lahan praktek ilmu penulis selama kurang lebih 7 tahun lamanya, kemudian nenek penulis, baik dari pihak bapak ataupun ibu dan keluarga-keluarga lainnya. Penulis sangat terharu dengan ceremonial pelepasan penulis waktu itu, seakan-akan bak seorang pejuang yang dilepas oleh anggota keluarganya untuk berjuang dijalanNya. Terharu, itulah kata-kata yang dapat penulis gambarkan saat itu, walaupun kalimat tersebut tidak bisa mewakili seluruh perasaan yang bercampur aduk memenuhi relung hati dan otak penulis. Akan tetapi semua penghargaan, sanjungan, dan sokongan dari seluruh keluarga dan masyarakat tersebut penulis jadikan saja sebagai sebuah tali pelicut semangat untuk nantinya bisa mempersembahkan suatu yang terbaik buat mereka semua. Aku ada lantaran kalian..!! Wujudkanlah cita-cita hamba ya Rabb..amien..!!


Penghargaan yang sangat berkesan muncul dari jamaah mushalla Nurul Huda Surau Umum Baso. Ketika itu malam selepas shalat Isya sebelum keberangkatan penulis ke Jakarta, penulis pamitan secara lisan kepada seluruh jamaah, baik yang laki-laki maupun yang perempuan. Bapak ketua pengurus waktu itu yang bernama Bapak Datuak Indo Sanjato menjadikan acara tersebut lebih berkesan dan berisi. Betapa tidak malam itu beliau membuka sebuah acara yang agak formal yang beliau kasih tema dengan “malam perpisahan jamaah dengan imam Mushalla Nurul Huda Baso”. Kebetulan selama 4 tahun terakhir, penulis dipercaya oleh jamaah mushalla yang lumayan besar itu untuk menjadi imam tetap mushalla pada setiap waktu shalat, terlebih shalat-shalat jahar. Walaupun dalam prakteknya penulis tidak bisa memenuhi permintaan itu secara menyeluruh karena kesibukan dan kegiatan lain yang tidak bisa penulis hindari, baik di pondok maupun ditempat-tempat lain yang terkadang berbenturan dengan jadwal shalat jamaah di surau tersebut. Pada malam itu setelah beliau buka dengan sedikit sambutan, kemudian diberikanlah kesempatan buat penulis untuk berbicara sepatah atau dua patah kata. Nah penulis gunakanlah sedikit waktu itu untuk meminta maaf kepada seluruh jamaah, kalau-kalau selama ini penulis mempunyai kesalahan baik yang disengaja ataupun yang tidak disengaja. Selain itu penulis juga minta doa kepada mereka supaya mendapat kelancaran dalam proses menuntut ilmu, dimudahkan dalam menghafal setiap pelajaran, serta bermanfaat segala apa yang penulis tuntut nantinya. Merekapun mengaminkan seluruh doa penulis. Selain doa mereka juga memberi sedikit oleh-oleh sebagai bekal diperjalanan buat penulis. Jumlahnya lumayan banyak, dan penulis mensyukuri itu semua sebagai karunia dari Allah SWT. Berakhirlah malam itu dengan kebahagiaan yang tidak terbahasakan oleh penulis.Hamdan wa Syukran lillahi.
           
Kembali ke cerita keberangkatan, tepat pada jam setengah 8 pagi, penulis dengan Hengki diantar oleh beberapa orang keluarga seperti ibu, kakak perempuan penulis dengan keponakan, kemudian kakak perempuan ibu penulis, dan lain-lain. Dari keluarga Hengkipun ada yang mengantar seperti ibu dan bapaknya. Kami diantar sampai ke Simpang Tarok, tempat pemberhentian/stasiun AWR atau mobil travel yang akan mengantar kami langsung ke bandara Internasional Minangkabau di Padang Pariaman. Pada jam 9-nya kami berangkat dari Simpang Tarok dan tiba di bandara sekitar jam setengah 12-an, setelah mengikuti seluruh prosedur bandara kamipun terbang ke Jakarta dengan berjuta angan di hati. Pada jam 3 lewat sedikit kami sampai di bandara Soekarno Hatta Cengkareng dan langsung naik bus damri jurusan Lebak Bulus. Di sana menurut perencanaan, kami akan ditunggu oleh Buk Hafni Muhtar, yaitu ibu yang mana rumahnya akan kami tempati untuk beberapa hari sebelum nantinya mendapatkan kejelasan tempat tinggal setelah mengikuti test di UIN ataupun Pesantren Darussunnah.
           
Buk Hafni Muhtar ternyata seorang yang sangat baik dan ramah. Beliau menjemput kami sampai ke terminal Lebak Bulus yang mempunyai jarak lumayan jauh dari rumah beliau yang terletak didaerah perumahan Graha Hijau Dua, Kampung Hutan, Ciputat Timur. Seorang dosen yang berpenampilan sederhana itu sangat cerdas dan lumayan kaya. Beliau mempunyai 3 orang anak yang satunya tengah merampungkan pendidikannya di Tokyo Jepang waktu itu. Sementara yang 2 lagi tinggal di rumah menemani beliau. Ketiga anak beliau itu bernama Putra, Satria, dan Yoga sesuai dengan urutan umur. Namun sayang, Satria anak beliau yang nomor 2 pada saat itu tengah mengidap sebuah penyakit selepas pulang dari Jepang yang membuat kedua kakinya tidak bisa dibawa berjalan. Namun Ibu Hafni Muhtar merawatnya dengan penuh kasih sayang dan selalu mensuportnya supaya semangat dalam menghadapi hidupnya yang tidak bisa jauh dari korsi roda. Selain itu sikap keibuan beliau juga terlihat jelas ketika teman saya Hengki pasca beberapa hari tinggal di rumah beliau mengalami sakit perut pasca operasi usus buntu yang telah dijalaninya beberapa minggu sebelum keberangkatan. Beliau melayani Hengki sebagaimana beliau menyayangi anak beliau sendiri.
           
Hal yang menjadi bukti nyata hal itu adalah ketika pada suatu malam, sakit perut yang dialami Hengki cukup parah. Sampai-sampai saking sakitnya, membuat dia tidak sanggup untuk berjalan dan beraktivitas sebagaimana biasanya. Penulispun sebagai teman satu-satunya pada saat itu merasa kebingungan juga, karena tidak mungkin bisa sendirian mengurus Hengki yang sama sekali tidak sanggup berjalan itu. Akhirnya berkat inisiatif beliau, akhirnya Hengki dibawa ke rumah bidan terdekat untuk di obati dengan obat seadanya. Pada saat itu seluruh biaya berobat termasuk beli obatnya sedikit banyaknya telah beliau bantu. Sehingga berkat bantuan beliau penyakit perut yang dialami Hengkipun dari hari kehari dapat beransur pulih. Dan akhirnya bisa sembuh sebagaimana sedia kala. Sangat banyak kebaikan-kebaikan yang beliau berikan kepada kami, mulai dari izin tinggal di rumah beliau, makan dan minum selama disana, mandi dan segala aktivitas sehari-hari kami tidak ada satupun yang terlepas dari fasilitas beliau. Terima kasih Buk Hafni, semoga Allah membalasi seluruh kebaikanmu dengan yang lebih baik lagi. Amien…!!!
           
Satu lagi yang menjadi bukti kebaikan beliau, pada saat kami tinggal beberapa hari di rumahnya. Tiba-tiba Eka Saputra, teman kami yang dinyatakan lulus dalam test beasiswa Kedubes dahulu datang ke Jakarta. Adapun tujuan kedatangannya adalah untuk mengurus dan mengumpulkan berkas-berkas pendaftaran ke Kedubes Mesir secara langsung, karena dikhawatirkan kalau pengiriman tersebut dilakukan lewat via pos akan mengakibatkan ketidakamanan ataupun masalah-masalah lain yang mungkin saja membutuhkan kehadiran secara langsung seperti tanda tangan dan lain-lain. Hal-hal tersebut mengharuskan Eka tinggal beberapa di Jakarta bersama bapaknya. Karena kebetulan Eka juga tidak mempunyai keluarga di Jakarta sebagaimana halnya penulis, maka diapun menginap di rumah Ibu Hafni untuk beberapa hari sampai segala urusan yang berkaitan dengan pengumpulan berkas tersebut selesai semua. Hal ini membuat warga rumah ibu Hafni semakin ramai saja, namun hal itu tidak lantas membuat beliau gelisah ataupun menunjukkan sikap ketidaksukaan ataupun ketidaknyamanan yang biasanya dapat terlihat jelas dari mimik wajah seseorang. Bahkan disela-sela kesibukan beliau mengurusi keduanya anaknya, beliau tak lupa mengajak kami untuk mengobrol tentang berbagai hal yang menghabiskan waktu lumayan lama. Apalagi dengan Eka Saputra bersama bapaknya yang baru datang dari kampung, perbincangan kami sangat intents dengan sedikit canda tawa disana-sini mengiringi segala hal yang kami bicarakan. Begitulah beberapa pengalaman yang penulis alami di rumah ibu Hafni Muhtar yang sangat baik itu.

Berita Mengejutkan dari Kedubes
Sebagaimana yang telah disebutkan diatas bahwa tujuan utama kedatangan Eka ke Jakarta adalah untuk melengkapi persyaratan berkas-berkas yang diminta oleh pihak Kedutaan sebagai bahan pendaftaran ke Azhar Mesir. Maka pada hari kedua kedatangannya dari kampung, dia meminta tolong kepada penulis untuk mengantarkannya kesana, berhubung karena dia lupa jalan serta bus jurusan apa yang beroperasi kesana. Karena dulu walaupun sempat kesana, tapi bersama-sama dengan teman lain, sehingga Eka kurang memperhatikan jalan-jalannya. Dan karena kebetulan penulis sebelum kedatangan Eka sudah pernah kesana bersama seorang teman yang bernama Imam Mujaddid yang juga dinyatakan lulus dalam test tersebut, maka penulispun dimintai tolong untuk mengantarkannya ke sana. Tepat pada jam 8 pagi setelah sarapan pagi di rumah buk Hafni dan dilepas oleh mereka semua, kamipun memulai perjalanan menuju ke Kedubes Mesir yang berjarak lumayan jauh dari kediaman tempat tinggal kami. Setelah 2 setengah jam diperjalanan akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Dengan segera kami melapor kesatpam yang kebetulan sedang berjaga-jaga di depan pintu masuk dan mengizinkan kami untuk masuk ke ruangan resepsionis yang bertempat dibagian depan gedung.
           
Setiba di ruang resepsionis, kami melihat ada beberapa orang yang juga tengah sibuk membereskan berkas-berkasnya. Mungkin dia juga telah positif lulus dalam test tersebut. “beruntung sekali kalian” ketus penulis dalam hati, tanpa bermaksud iri ataupun hasad dengan apa yang telah Allah tetapkan buat penulis. Karena jujur pada saat itu penulis telah mencoba untuk tidak lagi berharap lulus dalam seleksi kemaren itu, penulis telah bulat untuk menfokuskan perhatian kepada test mandiri UIN yang kurang lebih 3 minggu lagi akan penulis jalani. Setelah teman-teman yang lain itu selesai mengumpulkan berkas-berkasnya, kamipun mulai mendekati petugas yang kebetulan langsung dilaksanakan oleh mediator yang bernama Ibu Sri Sabbahatun. Penulis baru tahu kalau orang yang pernah penulis telpon dulu untuk memastikan kelulusan penulis dalam test kedubes adalah beliau, sehingga ada sedikit basa basi yang penulis lontarkan terhadap ibu tersebut. Setelah berkenalan sesaat barulah penulis mengutarakan maksud dann tujuan kedatangan kami kesana dan beliaupun langsung paham. Berkas-berkas Eka yang telah ia persiapkan diserahkan kepada beliau, terdiri dari beberapa ducument asli seperti ijazah, Surat tanda kelakuan baik, Surat keterangan sehat dari dokter, foto, dan lain-lain. Akan tetapi disinilah Eka mendapatkan sedikit permasalahan.
           
Sebagaimana diketahui, salah satu persyaratan yang diminta oleh pihak kedubes sebagai salah satu persyaratan pendaftaran di Azhar adalah harus melampirkan ijazah aliyah negeri dan bukan swasta. Padahal sebagaimana yang penulis ceritakan diatas, Eka kebetulan pada saat itu tidak mempunyai ijazah aliyah melainkan hanya ijazah pondok saja, yaitu ijazah dari MTI Candung yang berstatus swasta. Kemudian masalah itu kami bicarakan secara serius dengan ibu Sri. Awalnya beliau bersikeras mengatakan tidak bisa kalau yang dikumpulkan itu ijazah pondok, karena Azhar sama sekali tidak mengakui ijazah yang seperti itu. Namun akhirnya karena merasa tidak enak juga sama Eka ataupun saya yang mengantarkannya serta adanya minat yang kuat dari Eka untuk melanjutkan pendidikan kesana, akhirnya dengan agak terpaksa beliau akhirnya menerima ijazah tersebut. Akan tetapi dengan konsekwensi kalau-kalau nantinya Eka mengalami masalah perihal pendaftaran disana, beliau tidak bertanggungjawab atas segala hal tersebut, karena sudah dari awal beliau sampaikan bahwa pihak Azhar tidak menerima ijazah selain ijazah negeri saja. Namun semua itu disanggupi oleh Eka yang sangat mempunyai azam yang tinggi untuk kesana, walaupun nantinya harus menghabiskan waktu beberapa tahun lamanya, sebagaimana yang dituturkan langsung olehnya dihadapan ibu Sri.  Sebenarnya Eka bisa mengumpulkan ijazah paket C yang pernah dia ikuti beberapa bulan sebelumnya, karena dia alhamdulillah dinyatakan telah lulus dalam ujian tersebut, akan tetapi ijazah paket C itu belum selesai waktu itu, karena biasanya ijazah itu baru diserahkan kepada peserta setelah 3 atau 4 bulan setelah pengumuman kelulusan dikeluarkan. Sehingga dengan sangat terpaksa Eka harus mengumpulkan ijazah pondoknya. Semoga saja hal itu tidak berdampak buruk bagi Eka pada saat sudah berada di Mesir nantinya. Amien..!!
           
Setelah berkas-berkas tersebut dikumpulkan semuanya, kini giliran penulis untuk bertanya-tanya kepada Ibu Sri Sabbahatun mengenai nama-nama yang lulus test dahulunya. Awalnya penulis hanya bermaksud untuk basa basi saja untuk pelepas kebekuan suasana pada waktu itu, akan tetapi ditanggapi serius oleh beliau. Penulis juga sempat menanyakan kembali tentang nama yang kurang jelas yang dulu sempat menjadi persoalan juga, karena orangnya belum diketahui secara pasti. Karena penulis mengira orangnya sekarang sudah ada, namun tetap penulis tanyakan hanya sekedar untuk melepaskan rasa penasaran yang terselip dihati. Akan tetapi penulis sangat terkejut ketika ibu Sri Sabbahatun mengatakan kalau orang yang disinyalir bernama Bunil Yusri bin Syamsul Bahri itu sampai saat itu belum ada orangnya. Dan diapun sampai saat itu belum menyerahkan berkas-berkasnya. Sesaat kemudian ibu tersebut menoleh kepada penulis dan menanyakan siapa nama penulis dan penulis menyebutkannya dengan lantang beserta nama orang tua penulis yang kebetulan sama dengan nama orang tua dari nama tersebut. Setelah dicek beberapa kali oleh buk Sri, akhirnya beliau berkesimpulan kalau nama tersebut salah tulis, karena dilihat dari tulisannya yang lumayan “kedokteran-dokteran” alias cakar ayam.hehe, menyelipkan keserupaan dengan nama penulis Yunal Isra yang kalau dibahasaarabkan akan menjadi يونل إسري. Nama yang yang tertera dilampiran pengumuman tersebut kurang lebih seperti ini بونل يسري yang secara pengamatan selintas agak sedikit mirip dengan nama dan bentuk-bentuk huruf nama penulis. Hanya saja penempatan titik dan huruf hamzah pada kalimat Isra memang agak sedikit keliru, akan tetapi secara umum bisa mengindikasikan adanya kesalahan tulis oleh para penguji tersebut karena memang pengumuman tersebut diumumkan dengan menggunakan tulisan tangan yang cakar ayam alias tidak jelas sama sekali. Dan sebagai kesimpulan akhir ibu Sri Bunil itu tak lain dan tak bukan adalah penulis sendiri. Apabila diperkuat dengan nama belakang punulis yang juga bernama Syamsul Bahri dan berasal dari Padang, juga menambah kuat indikasi kalau nama yang tercantum di kertas pengumuman itu adalah penulis sendiri. Singkat cerita akhirnya ibu Sri Sabbahatun mengucapkan selamat kepada penulis atas kelulusan penulis walaupun sedikit tidak percaya akan hal itu. Namun secara umum penulis merasa sangat gembira sekali, karena hal itulah yang selama ini penulis idam-idamkan dan yang terlebih penting, ternyata firasat penulis kalau-kalau nama Bunil tersebut adalah diri penulis sendiri tidak meleset. Karena perkiraan tersebut memang terbukti benar adanya.
           
Beberapa saat kemudian, penulis bersama Eka keluar dari ruangan tersebut, dan ibu Sri itupun berpesan kepada penulis supaya mempersiapkan semua berkas yang dibutuhkan untuk pendaftaran nantinya sebagaimana yang telah dikumpulkan oleh Eka. Dan penulis menjawab InsyaAllah sembari berjalan keluar ruangan. Hari itu merupakan hari yang kembali membuat penulis bingung, betapa tidak planning yang telah penulis rencanakan dari kampung untuk tidak lagi memikirkan persoalan test Mesir ini dan telah berencana bulat untuk melanjutkan pendidikan didalam negeri saja yaitu di UIN Syarif Hidayatullah serta di Pesantren Darussunnah kembali diusik oleh adanya kabar kelulusan penulis dari Kedubes Mesir ini. Terus terang penulis sangat bimbang sekali, karena dihadapkan dengan dua pilihan yang sulit untuk penulis putuskan secara cepat. Namun penulis berencana untuk memusyawarahkannya dengan seluruh orang-orang terdekat penulis, mudah-mudahan saja mereka dapat membantu penulis dalam memutuskan pilihan yang sangat berat ini. Siang itu penulis kembali pulang bersama Eka ke rumah Ibu Hafni Muhtar, dan tiba di rumah kurang lebih pada jam 5 sorenya.
           
Setelah mandi, shalat Ashar, serta makan secukupnya penulis bersama ibu Hafni, Eka dan bapaknya berkumpul sejenak di ruang tamu dan menceritakan segala yang penulis temui di Kedubes tadi siang. Ternyata semua mereka menyambutnya dengan sangat positif dan menyampaikan selamat kepada penulis atas kelulusan tersebut. Akan tetapi penulis juga mengutarakan masalah keragu-raguan yang penulis rasakan pada saat itu, antara mengikuti test UIN dan Pesantren Darussunnah dan kuliah di Jakarta dengan memperkenankan himbauan ibu Sri untuk mempersiapkan berkas-berkas pendaftaran guna untuk kuliah di Azhar Mesir. Kemudian Ibu Hafni dan bapak Ekapun menyarankan penulis untuk memilih Azhar saja, karena disamping mutu dan bobot pendidikannya lebih unggul, juga perjuangan untuk mendapatkan kelulusan itu juga tidak sedikit. Penulis teringat betapa beratnya perjuangan dulu bersama-sama dengan teman di MAPK ataupun dari MAN Payakumbuh serta yang lainnya, berbondong-bondong dari Padang ke Jakarta ditengah-tengah urusan ujian akhir yang sedang menghadang dan dengan biaya yang tidak sedikit waktu itu hanya untuk mengikuti test beasiswa Kedubes yang pada saat ini penulis dinyatakan lulus dalam test tersebut. Amat sangat disayangkan kalau penulis menolak tawaran keberangkatan ini dengan gampang saja, padahal kelulusan inilah yang sangat penulis harap-harapkan sejak dari kelas IV tsanawiyyah dahulu. Yaa yang penting penulis harus menanyai orang-orang dekat penulis dahulu, sebelum nantinya memutuskan secara sendiri apa yang terbaik untuk masa depan penulis.
           
Pada keesokan harinya, penulis menelepon beberapa orang dekat penulis yang mungkin saja mereka bisa memberikan solusi cerdas dalam menjawab kebimbangan yang tengah penulis rasakan pada saat itu. Diantara mereka yang penulis hubungi adalah orang tua penulis, baik bapak ataupun ibu, kakak-kakak penulis, guru-guru penulis yang diantaranya ibu Ramainas, ibu Syukri, dan lain-lain. Setelah mendengarkan nasehat-nasehat dari mereka yang sebagian besarnya menganjurkan kepada penulis untuk memilih untuk melanjutkan pendidikan ke Mesir, terlebih ibu dan bapak penulis juga menyerahan sepenuhnya keputusan ditangan penulis, karena hasil dari keputusan itu akan dijalani oleh penulis sendiri, tutur bapak dan ibu penulis yang sangat penulis cintai itu. Akhirnya setelah beberapa hari berfikir dan juga telah melakukan shalat istikharah juga, penulis jatuhkan pilihan untuk terus maju mengikuti prosedur pendaftaran yang telah diminta oleh Ibu Sri selaku mediator kami pada beberapa hari sebelumnya. Penulis berharap sekali semoga Allah memberkati pilihan penulis itu serta senantiasa membantu penulis dalam menjalani hari-hari kedepan yang pastinya membutuhkan perjuangan yang tidak sedikit. Ya begitulah akhir dari cerita kebingungan penulis saat menjatuhkan pilihan kuliah pada tahun 2009 tersebut. Akan tetapi ceritanya belum berakhir hingga disini, masih banyak kisah-kisah yang menarik yang mungkin saja bisa bermanfaat buat saudara pembaca. Selamat mengikuti kisah selanjutnya yaa..hehe

Masa-masa Mempersiapkan Berkas-berkas yang Diperlukan
Keputusan untuk tetap mengambil tawaran beasiswa Kedubes itu telah membuat hari-hari penulis disibukkan dengan mengurus berbagai berkas yang diminta oleh pihak Kedubes. Mulai dari mengurus pasport, surat keterangan sehat, surat keterangan berkelakuan baik, dan surat-surat lainnya, penulis lakoni secara bertahap bersama Eka dan seorang teman penulis yang bernama Imam Mujaddid al-Hakimi, teman yang lulus dari MAPK Padang Panjang. Pada saat itu penulis tidak tinggal di rumah Ibu Hafni lagi, karena setelah sembuhnya Hengki dari sakit perut yang dideritanya lebih kurang seminggu lamanya, kami segera memutuskan untuk pindah ke kosan teman yang berada di dekat pesantren Darussunnah. Teman itu bernama Hayat Hidayat, berkat adanya rekomendasi dari Bg Ashfi yang ketika itu tengah menjalani semester-semester akhir di UIN Syarif, kamipun berangkat dan pindah kesana. Sebelumnya kami sempat berpamitan dengan ibu Hafni serta mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas kebaikan yang telah beliau berikan kepada kami selama kurang lebih satu minggu belakangan ini. Sementara itu bapak Eka yang sempat juga menginap beberapa malam disana, telah berangkat pulang duluan sebelum kepindahan kami, karena ada satu dan lain hal yang harus beliau urus katanya, sehingga tidak bisa lama-lama tinggal di Jakarta. Dengan diantar sebuah taksi dari rumah Buk Hafni yang juga dipesankan oleh beliau, kami tinggalkan rumah beliau tepat pada jam 9 malam waktu itu. Sebuah rangkaian perjalanan yang lumayan melelahkan tapi mengasyikkan.he
           
Sesampai di kediaman baru itu, penulis mendapatkan nuansa baru yang lumayan berkesan. Karena disana penulis bisa membuka diri, berkomunikasi, dan berdiskusi mengenai banyak hal yang berkaitan dengan kuliah dan hal-hal lainnya. Hayat yang juga seumuran dengan penulis melayani penulis dengan sangat ramah dan seperti saudara sendiri. begitu juga halnya dengan Adriansyah, seorang teman seumuran juga yang baru penulis kenal sewaktu tinggal disana. Namun sebelumnya penulis telah sering juga melihat wajahnya namun belum kenal namanya, baik sewaktu masih sekolah di MTI ataupun pada saat mengikuti test Mesir pada bulan Mei yang lalu. Karena kebetulan pada saat itu, dia diundang sebagai kakak senior oleh teman-teman MAPK untuk memberikan sedikit pengarahan perihal test dan suasana kota Jakarta pada saat itu. Hubungan penulis semakin intens dengan dia semenjak pindah kekosan dia bersama Hayat Hidayat. Dari sana penulis berkenalan dengan bg Rozy, yang mana beliau adalah seorang dosen di Pesantren Darussunnah. Penulis kenal dengan beliau berkat rekomendasi dari Bg Ashfi yang juga merupakan teman seumurannya bg Rozy. Dari bg Rozi ini penulis mendapat beberapa nasehat dan ilmu yang bermanfaat dalam bidang aqidah dan tashawwuf. Pada dasarnya beliau agak berpandangan sinis dengan Azhar dan para mahasiswanya, karena banyak diantara mereka yang sepulangnya dari Azhar, bukannya memberi pencerahan terhadap ummat malahan memberi keraguan dan pengusik masyarakat dengan fatwa-fatwa yang secara sembarangan diumbar didepan masyarakat, padahal mereka tidak mempunyai ilmu melainkan hanya sedikit saja. Selain itu banyak diantara tamatan Mesir itu yang mana bahasa daerahnya lebih lancar ketimbang bahasa Arab yang menjadi ciri utama dan kekhususan mereka yang melanjutkan pendidikan kesana. Hal itu sering disebabkan karena system Azhar yang kurang begitu mengikat mahasiswanya dari segi tata tertip dan dari kepribadian kebanyakan mahasiswa Azhar sendiri yang mana mereka sering bergaul dan tinggal hanya dengan komunitas mereka saja dan jarang berinteraksi dengan menggunakan bahasa Arab. Hal itu diperparah dengan adanya fasilitas dari gubernur Sumbar waktu itu yaitu Bapak Gamawan Fauzi terhadap mahasiswa tingkat awal disana berupa waqaf asrama Rumah Gadang yang membuat para mahasiswa dari Minang semakin lancar bahasa minangnya,hehe “tutur beliau”.
           
Kritikan tersebut penulis tanggapi dengan senyuman dan mencoba untuk meyakinkan diri untuk menjauhi segala hal-hal yang baru saja beliau kritik dari Azhar dan mahasiswanya. Penulis hanya menjadikan kritikan beliau tersebut sebagai pelecut semangat agar lebih rajin dan giat selama menempuh pendidikan disana nantinya. Karena penulis sangat khawatir kalau-kalau perjalanan penulis nantinya seandainya jadi, hanya perjalanan yang sia-sia tanpa memperoleh apa yang penulis cari. Dan yang lebih ditakutkan lagi kalau perjalanan penulis tersebut hanya untuk mencari tuah semata supaya dihormati dan dianggap sebagai orang yang hebat karena bisa melanjutkan pendidikannya ke negeri para nabi tersebut, terlebih dikalangan orang-orang tua awam yang tidak pernah mengecap pendidikan yang biasanya mempunyai pandangan yang sangat berbeda terhadap mereka yang kuliah di luar negeri seperti Universitas Al-Azhar Mesir itu. Penulis hanya bisa berdoa dan meminta pertolongan kepada Allah semoga menunjuki penulis kepada jalan yang benar dan mengayakan penulis dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat buat diri, orangtua, dan kaum muslimin pada umumnya.
           
Bang Rozi juga berpesan kalau seandainya penulis sudah pulang dari Mesir nantinya agar membuka halaqah pengajian di kampung sebagai lahan praktek dan realisasi ilmu yang telah didapat di Azhar. Karena hal itu sangat jarang dilakukan oleh para lulusan Azhar yang pulang ke Indonesia. Mereka lebih banyak yang bingung untuk mengerjakan apa sewaktu pulang ke tanah air. Hal itu pada dasarnya “kata beliau” disebabkan karena kedangkalan ilmu dan kemalasan sewaktu belajar di sana. Jadi beliau memesankan supaya penulis bersungguh-sungguh selama disana, jangan ada hari yang terlewati tanpa membaca dan membaca. Kalau bisa seluruh kitab-kitab klasik yang mu’tamad itu harus penulis khatamkan. Dan satu lagi pesan beliau pada saat itu untuk rajin mengikuti talaqqi (pengajian diluar kampus bersama syekh-syekh Azhar), karena disanalah penulis akan mendapatkan ilmu lebih daripada di kampus yang suasana belajarnya sangat-sangat tidak nyaman sekali. Lantaran membanjirnya mahasiswa dari berbagai dunia untuk kuliah kesana (karena sampai saat itu Azhar tidak memungut uang kuliah sepeserpun dari para mahasiswa alias majjaanan/gratis. Itulah salah satu hal yang melatarbelakangi banyaknya para penuntut ilmu untuk kuliah kesana terlebih mahasiswa yang berasal dari negara kita Indonesia ini. Hampir disetiap jalan dan daerah disana, sudah hampir bisa dipastikan terdapat orang Indonesianya. Hal itu disebabkan oleh beberapa hal yang telah beliau sebutkan barusan.
           
Nasehat-nasehat yang beliau berikan sangatlah berarti bagi penulis, karena kalau dilihat dari latar belakang pendidikan beliau sendiri yang hanya tamatan MAN yang sangat kurang dalam literatur kitab kuning, akan tetapi bisa menyaingi mereka yang tamatan pesantren. Hal itu terbukti dengan prestasi-prestasi gemilang yang beliau raih selama menjalani proses kuliah di UIN Jakarta dan pesantren Darussunnah. Dan bahasa Arab beliaupun jauh lebih lancar dari mereka yang tamatan Mesir sekalipun. Lantaran itu beliau di”pinang” oleh Pak Yai Ali Mushtafa Ya’qub untuk menjadi salah seorang dosen di Pesantren Darussunnah yang khusus mendalami ilmu hadist tersebut. Lain lagi halnya dengan senior penulis yang bernama bg Ahmad Syarif Hidayatullah, senior penulis di MTI yang juga satu angkatan dengan bg Ashfi, beliau juga secara terus terang agak kurang suka dengan Azhar, terlebih dengan system pendidikannya yang dianggap kejam oleh sebagian pengamat. Betapa tidak Azhar yang hanya menfokuskan pendidikannya terhadap hafalan saja, namun kurang dari segi analisis wacana dan masalahnya. Sehingga banyak tamatan Azhar yang setelah pulang dari sana tidak bisa menulis dan tidak mempunyai kemampuan untuk berdiskusi dengan baik, karena bisa dimaklumi mereka hanya disibukkan dengan hafalan, hafalan, dan hafalan. Disamping itu Azhar juga sangat ketinggalan jauh dari universitas-universitas yang berada di Barat yang mengunggulkan keaktifan dan keprogresifan dalam bidang berfikir dan berdialektika dengan kekinian. Sehingga cendrung tamatan-tamatan Azhar itu terlihat kaku, tekstual dan kurang arif dengan kedisinian. Karena mereka hanya fokus dengan pelajaran yang sebagian besarnya dipengaruhi oleh kultur budaya Mesir yang sebagiannya ada yang tidak bisa diterapkan di Negara kita Indonesia ini.
           
Adapun bg Ashfi beliau lebih suka mempromosikan fakultas yang menjadi jurusan beliau pada saat itu kepada penulis, yaitu Fakultas Dirasat Islamiyah yang hanya satu-satunya di Indonesia yaitu di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Fakultas tersebut ada lantaran adanya kerjasama antara pihak UIN yang difasilitasi oleh rektor UIN tahun 1999 dengan pihak universitas Al-Azhar Mesir pada waktu itu. Fakultas Dirasat mengadobsi sebagian besar system yang diterapkan di Azhar sana seperti menggunakan bahasa pengantar Bahasa Arab dalam kesehariaannya, menggunakan diktat-diktat (muqarrar) yang langsung diajarkan di Fakultas Dirasat Islamiyah Azhar Mesir, serta dosen-dosen yang sebagian besarnya penah mengecap pendidikan di luar negeri seperti Mesir, Madinah, Sudah, Maroko, dan lain sebagainya. Akan tetapi di fakultas dirasat itu, para mahasiswanya tidak difokuskan pada bidang-bidang konsentrasi khusus sebagaimana halnya fakultas-fakultas lainnya. Akan tetapi disana menerapkan system study komprehensif yang mata kuliahnya adalah gabungan dari beberapa fakultas agama seperti ushuluddin, syariah, adab, dan tarbiyah. Dalam arti kata di fakultas dirasat itu kita dididik untuk bisa menguasai seluruh bidang keilmuan, tidak khsusus pada bidang-bidang tertentu saja. Namun dalam menulis tugas akhir skripsi, judul dan pembahasannya disesuaikan dengan kecendrungan mahasiswa selama mengikuti kuliah 6 semester, sehingga mereka tidak salah pilih dalam pembuatan skripsi tersebut.
           
Kembali ke kisah penulis, setelah seluruh berkas selesai dan terkumpul semua, penulispun berencana untuk segera menyerahkannya kepada mediator kami yang bernama ibu Sri Sabbahatun itu. Tapi sebelumnya penulis sempat ragu untuk memastikan penyerahan tersebut, karena setelah berkas itu diserahkan maka penulis telah secara resmi memutuskan kuliah kesana dan menutup pikiran lain yang sebelumnya sempat penulis rencanakan seperti kuliah di UIN dan Darussunnah. Namun setelah berdoa sejenak dan mohon restu kepada kedua orang tua penulis akhirnya berkas-berkas itu penulis serahkan juga dan bersiap-siap untuk menunggu panggilan keberangkatan yang katanya InsyaAllah bulan Oktober yang akan datang yaitu ditahun 2009 itu juga. Mendengar keputusan seperti itu, penulis cukup lega, karena kejadian keterlambatan yang menimpa senior penulis seperti Zamzami Saleh dan Bg Isra Mardi pada tahun sebelumnya (tahun 2008), mudah-mudahan saja tidak menimpa penulis. Karena kalau hal itu sampai terulang kembali sama halnya penulis tidak kuliah pada tahun itu, karena keterlambatan itu dapat saja berakibat gagalnya penulis dalam tahun ajaran ini, dengan alasan tidak sempat mengikuti ujian semester term pertama disana. Itupun kalau nama-nama dan berkas kami telah sampai di Azhar dalam waktu dekat, karena biasanya tahun ajaran baru di Azhar Mesir menurut kabar yang penulis dapat dari beberapa senior dimulai sekitar bulan September atau Oktober itu. Berakhirlah kisah penyerahan berkas disini, penulis kemudian pulang dengan perasaan yang lumayan tenang dengan kedua teman penulis, Eka dan Imam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mohon kritik dan sarannya.!

Ada kesalahan di dalam gadget ini

صاحب الكتابة

Foto saya
Bukittinggi, Agam, Indonesia
Seorang pelajar yang tengah berkontemplasi dalam pencarian jatidiri dan ilmu pengetahuan, walau hingga saat ini ilmu yang dia harapkan terasa masih dangkal dan jauh dari kesempurnaan. Dia lahir pada hari Kamis pagi, tanggal 22 Februari 1990 atau bertepatan dengan 26 Rajab 1410 Hijriah. Diberi nama dengan Yunal Isra bin Syamsul Bahri dan biasa dipanggil dengan sebutan Yunal/Isra/Inal. Pendidikan pertama yang pernah dijalaninya adalah Pendidikan TK pada tahun 1996, kemudian dilanjutkan ke SD 01 Baso dan tamat pada tahun 2002. Setelah itu memutuskan untuk fokus mendalami ilmu-ilmu keislaman di MTI Canduang dan tamat pada tahun 2009. Setahun kemudian ia meneruskan petualangan intelektualnya di program S1 Fakultas Dirasah Islamiyyah UIN Syarif Hidayatullah dan Darus-Sunnah International Institute For Hadith Sciences Jakarta. Berharap semoga bisa menjadi orang yang bermanfaat untuk manusia lain dan diredoi orang tua dan tuhannya, amien.! Fokus kajiannya sekarang "al-Muhaafazhah A'la al-Qadiimi al-Shaalih, wa al-Akhdzu bi al-Jadiidi al-Ashlah".

Terima kasih atas kunjungannya.........!!!!!!

نحمدك اللهم منزل الآيات تبصرة لأولى الألباب ورافع الدلالات عبرة لتزيل بها عن القلوب الحجاب ونشكرك شرعت الحلال والحرام وأنزلت الكتاب وجعلته هدى لكل خير يرام ونصلى ونسلم على سيدنا محمد المؤيد من الله بأجلى النيرات والساطع نوره في أفق الهداية بما يزيح الريب والمدلهمات وعلى آله خير آل وأصحابه ومن لهم مقتف أوموال